Assalamu Alaikum,  lulluare...!   |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Potret Arsitektur Rumah Adat Mandar Kab. Polewali Mandar Di Kompleks Benteng Somba Opu

Written By ian on Minggu, 30 Juni 2013 | 21.24

Anda pernah menjejakkan kaki dalam kompleks benteng Somba Opu? kalau iya mungkin saja anda sempat melihat beberapa rumah adat tiap kabupaten di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat yang masih berdiri kokoh disana. Rumah adat ini adalah miniatur budaya Sulawesi yang dahulu dibuat dengan tujuan untuk memperkenalkan pada masyarakat seputar budaya tiap-tiap daerah dengan menampilkan rumah adat khas daerah masing-masing. 

Dalam kompleks benteng Somba Opu ini dapat anda temukan 3 rumah adat Mandar yang berhubungan dengan daerah Sulawesi Barat. Rumah adat kabupaten Polewali Mandar, rumah adat kabupaten Majene, dan rumah adat kabupaten Mamuju. Satu dari rumah adat yang akan kita lihat lebih dalam disini yaitu rumah adat Mandar kabupaten Polewali Mandar. 

Rumah adat Mandar kab.Polman ini meskipun tidak memiliki papan nama pengenal namun dari keterangan keluarga yang menghuni rumah ini mengemukakan bahwa rumah ini adalah rumah adat Mandar, secara umum kami berkesimpulan bahwa ini adalah rumah adat kab.Polman. Bangunan paling megah diantara ketiga rumah adat Mandar yang ada dan masih cukup baik dari segi  perawatan dan bangunan fisik.

Rumah adat Polman ini memiliki pekarangan yang cukup luas, dengan lebar sekitar 15 meter dan panjang 20 meter dengan tanaman pelindung dan bunga yang ditanam disisi pekarangan, cukup terawat dengan baik. 

Rumah Adat Mandar Kab. Polman
Tampak bagian pekarangan di sisi depan rumah adat Mandar kab. Polewali Mandar
Foto : Tommuane Mandar
Dibangun dengan struktur kayu yang cukup kokoh, dengan detail pekerjaan ornamen di tiap sisinya yang penuh dengan ukiran. Struktur tangga yang berada disisi lateral rumah dengan cungkup yang agak menjorok kedepan menjadi salah satu ciri khasnya sendiri. 

Bagian Depan Rumah Adat Mandar Kab. Polman
Bagian depan rumah adat Mandar kab. Polewali Mandar
Photo Credit : Tommuane Mandar 
Rumah adat memang kadang dibuat dengan ornamen yang rumit dan kompleks seperti arsitektur diatas beranda atau sering disebut dalam bahasa daerah Mandar (Bolloq-Bolloq)


Bagian Tangga Rumah Adat Mandar Kab. Polman
Bagian tangga rumah adat Mandar
Foto : Tommuane Mandar
Secara umum rumah adat Mandar memiliki struktur tangga dua susun, ini yang membedakan rumah adat (boyang adaq) dan rumah biasa (boyang biasa) 

Struktur Tangga Rumah Adat Mandar Kab. Polman
Struktur tangga rumah adat Mandar
Foto : Tommuane Mandar
Struktur dinding terluar dan jendela rumah adat ini juga dibuat dengan sangat rumit, penuh dengan nilai keindahan yang cukup tinggi. Dengan ukiran yang dibuat dibagian samping jendela

Struktur Jendela Rumah Adat Mandar Kab. Polman
Struktur jendela rumah adat Mandar kab. Polman
Foto : Tommuane Mandar
Bagian dalam rumah adat ini juga terdiri atas dua bagian, satu bagian dengan posisi agak dibawah, satunya lagi dengan posisi agak tinggi, mirip dengan posisi panggung, atau lesehan. Memiliki ruang tengah yang cukup luas tanpa pembatas.

Interior Rumah Adat Mandar Kab. Polman
Interior rumah adat Mandar kab. Polman
Foto : Tommuane Mandar
Bagian bawah atau kolong rumah adat sangat luas, dengan gambaran tiang dan lantai yang sangat kokoh, ditopang oleh puluhan tiang rumah berukuran tidak biasa berukuran cukup tinggi, berbeda dengan rumah-rumah panggung yang biasa kita temukan di tanah Mandar

Bagian Kolong Rumah Adat Mandar Kab. Polman
Bagian kolong rumah adat Mandar kab. Polman
Foto : Tommuane Mandar
Ornamen di dinding terluar rumah adat ini dibuat cukup rumit, namun tak serumit ukiran khas dari Jepara, yang jelas bahannya terbuat dari kayu yang terlihat cukup kuat dan keras.

Ornamen Dinding Rumah Adat Mandar Kab. Polman
Ornamen di dinding rumah adat Mandar kab. Polman
Foto : Tommuane Mandar
Menelusuri jejak peninggalan rumah adat Mandar kab. Polman ini tentu tak akan pernah habis, setelah anda tahu bagian-bagian rumah adat, pasti anda akan bertanya, lalu apa fungsi dari bagian-bagian ini? , adakah nilai filosofinya? , lalu bagaimana dahulu orang-orang Mandar menggunakan rumah adat ini. Pertanyaan-pertanyaan yang lahir kemudian akan mendorong anda untuk menggali lebih dalam tentang jejak arsitektur rumah yang ditinggalkan oleh leluhur. Rumah atau boyang  di daerah Mandar dahulu pada dasarnya memang dibuat dengan nilai filosofi yang dalam, semua punya arti, maksud, dan harapan tertentu.

Penulis :

Tommuane MandarTommuane Mandar, saat ini menetap di Makassar, hobi travelling dan fotografi. Pecinta wisata kuliner, sedang merintis pelestarian aspek budaya dan promosi tempat-tempat wisata di tanah Mandar - Sulawesi Barat lewat pengembangan dunia literasi via promosi sosial media.
facebook grup : https://www.facebook.com/groups/201234436690924/
blog : http://tommuanemandaronline.blogspot.com



Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
21.24 | 0 komentar

Potret Keindahan Pantai Mekkatta di Kabupaten Majene

Mekkatta adalah salah satu daerah yang masuk dalam wilayah administrasi kecamatan Malunda, kabupaten Majene. Daerah ini merupakan wilayah paling utara Majene yang berbatasan langsung dengan kabupaten tetangga yaitu kabupaten Mamuju, di kecamatan Tappalang.

Daerah pesisir kab. Majene adalah jejeran pantai yang didominasi oleh jalan yang terletak tidak jauh dari pantai, karena itu jika anda melalui jalur trans Sulawesi Barat via jalur darat maka anda akan menemui banyak pemandangan yang cukup indah. Salah satu daerah yang memiliki pesisir pantai yang elok adalah pantai Mekkatta di kecamatan Malunda.

Berikut ini adalah beberapa foto yang diabadikan oleh fotografer profesional muda asal kabupaten Majene "Ohe Syam Suharso"

Nyiur Pantai Mekkatta Malunda
Nyiur di tepi pantai Mekkatta kecamatan Malunda kabupaten Majene (Foto : Ohe Syam Suharso)
Pohon kelapa dengan pemandangan senja bukanlah hal yang jarang anda temukan jika menelusuri pesisir pantai Mekkatta, letak laut yang berhadapan langsung dengan selat Makassar merupakan lokasi yang terbaik untuk melihat matahari terbenam di sisi barat.

Nyiur Pantai Mekkatta Malunda
Struktur pasir dan batu di Pantai Mekkatta Malunda (Foto : Ohe Syam Suharso)
Bentuk pasir di sepanjang pantai Mekkatta mungkin agak berbeda dengan struktur pasir di pantai Pamboang yang cenderung merupakan pasir putih dengan partikel yang cukup kecil, Pantai Mekkatta memiliki pesisir dengan pantai yang terdiri dari pasir hitam dan batu kerikil berukuran sedang hingga kecil.

Pantai Mekkatta Malunda Majene
Senja indah di Pantai Mekkatta kecamatan Malunda kabupaten Majene (Foto : Ohe Syam Suharso)
Anda pencinta senja? jika iya, jangan pernah melewatkan pesona saat mentari terbenam di sisi barat pantai Mekkatta, cukup indah untuk dinikmati. Bahkan jika anda melewati daerah Mekkatta dan sedang diatas kendaraan senja ini bisa anda nikmati walau sejanak, karena daerah pantai Mekkata memiliki jarak yang dekat dengan jalur jalan, hanya dibatasi oleh beberapa pohon kelapa di pinggir jalan.

Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
17.20 | 0 komentar

Pantai Palippis, Eksotisme Pesisir Polewali Mandar

Tak lengkap rasanya jika berkunjung ke Polewali Mandar tanpa memanjakan mata dengan salah satu wisata bahari yang cukup terkenal ini. Ya’ Palippis, itulah sebutan untuk pantai yang tak pernah hilang di benak para pelancong, khususnya mereka (warga Polewali Mandar, red) yang sudah ”termabuk” dengan pesona alamnya serta angin sepoi yang mana ketika mata terpejam sekan raga ini membumbung bersama kicauan burung yang tengah melintas di angkasa biru.

Palippis merupakan pantai yang terletak di sepanjang jalur Sulwesi Barat, berjarak 20 km dari kota Polewali. Ketika anda berkendara melewati jalur ini, tak urung mata anda akan tersihir dengan pesona laut lepasnya, dengan garis khayal biru, hijau dan coklat terlukis di atasnya. Ditambah lagi goyangan dahan pohon kelapa yang berjejer rapi bak pagar, menambah paras pantai ini. Tak heran, jika para wisata lokal dan interlokal memasukan Palippis dalam agenda wisata mereka.

Pantai Palippis Polewali Mandar
Pantai Palippis yang terletak di kabupaten Polewali Mandar (Foto : Muhammad Putra Ardiansyah)
Meski Palippis kurang mendapat perhatian dari pemerintah wilayah setempat, namun ia tak pernah kehilangan pengunjungnya. Tak ayal setiap pekan ada saja pengunjung yang hendak mampir di pantai artis ini. Dikatakan pantai artis, karena Palippis sering dijadikan tempat syuting video para artis lokal (biduan mandar), oleh sebabnya Palippis berhasil menyihir jutaan mata orang. Ketika anda memasuki wilayah pantai ini, terlebih dahulu anda akan dimanjakan dengan puluhan anak tangga untuk bisa langsung menikmati pantai ini dari dekat.

Selain itu anda tak perlu khawatir dengan teriknya sinar matahari, karena di pantai ini juga tersedia beberapa Gazebo sebagai tempat berisitirahat. Tidak hanya itu, pengunjung yang membawa keluarga serta anak-anaknya, di Palippis juga tersedia ayunan panjang yang bergantung di dahan pohon. Jadi, anda akan tetap bisa menikmati suasana pantai dan angin semilir di pantai Palippis ini tanpa dibebani pikiran negatif.

Tentunya, keamanan jadi prioritas pertama jika anda dan keluaraga berwisata di pantai bahari. Namun jangan heran jika anda bertandang ke Palippis, anda dikagetkan dengan kerumunan orang yang berbondong-bondong mengerumuni sesuatu, itu tak lain adalah seekor buaya yang dipertontonkan sejak puluhan tahun silam. Anda tak usah merasa takut, karena binatang berdarah dingin tersebut sudah jinak kok, lagian pawang buaya itu akan senantiasa memantau anda dari jarak yang cukup dekat.

Tak puas dengan itu, anda juga bisa menikmati kehangatan air Palippis dengan hanya menaiki sampan yang disewakan oleh salah satu warga yang bermukim di pinggiran pantai. Harga sewanya pun cukup bersahabat, jadi tak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Yah’ alangkah lebih baiknya jika anda segera mampir di Polewali Mandar dan nikamati kesegaran alami Pantai Palippis.

Penulis :

Dian Febriani, hobi travelling, menulis, dan membaca buku, saat ini sedang bermukim di Makassar, menempuh pendidikan di Universitas Negeri Makassar (UNM) jurusan pendidikan Bahasa Inggris, aktif di organisasi kampus Lembaga Penerbitan dan Penyiaran Mahasiswa (LPPM) Profesi UNM

Kontak Saya :
facebook : https://www.facebook.com/yuuka.shimizudhani 




Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
03.54 | 0 komentar

Bahasa Koneq-Koneqe, Akulturasi Budaya Bugis di Daerah Mandar

Written By ian on Jumat, 28 Juni 2013 | 07.36

Bahasa koneq-koneqe, pertama kali mendengar bahasa ini saat melemparkan topik kuliah tweet seputar kecamatan Campalagian di kabupaten Polewali Mandar. Saat itu salah satu follower tiba-tiba menyoal seputar bahasa Koneq-koneqe yang merupakan khas daerah Campalagian. Jujur, saat itu saya untuk pertama kalinya tahu bahwa bahasa jenis ini ada dan cukup terkenal disana. Lalu, apa sebenarnya bahasa koneq-koneqe ini? pertanyaan yang kemudian muncul dibenak saya. 

Bahasa Koneq Koneqe Campalagian
Bahasa Koneq-Koneqe Khas Campalagian (Ilustrasi : Tommuane Mandar)
Sampai saat ini mendengar contoh bahasa koneq-koneqe ditelinga juga belum pernah sama sekali saya dengar, namun dari penelusuran kepustakaan mari kita lihat beberapa contoh bahasa ini :

Itu kutu'o  : di situ
Ini kone'e : ada di sini
Riya' koro'o  : ada disitu
Panteng   : ember
Mio' : kelapa
Cuki   : kucing
Maca'bu  ; harum; wangi
Maca'bu  : manis
Sapapaummu  :
Sa'buloako : {kasar}
Pole  : datang
Allao  : pergi
Ammuning  : kembali; pulang
Allao lauling  : pergi pulang
Allao leleng  : bepergian
Aghama : ada apa
Pole indoko  : dari mana [kasar]
Pole inrokie  : dari mana [halus]
Accaule  : bermain
Meskipun saya bukan ahli bahasa tapi coba kita lihat perbedaan bahasa nya dengan bahasa Mandar. Ada kata yang berbeda walaupun ada juga kata yang sedikit sama. Bahasa koneq-koneqe menurut sejarah memang bukan merupakan bahasa Mandar. Bahasa ini adalah bahasa bugis yang masuk dalam penggolongan dialek dengan urutan ketujuh, entah urutan sebelumnya dialek apa, saya juga tidak melakukan penelusuran lebih jauh. Namun bahasa ini berkembang di wilayah Mandar (Campalagian) dengan latar belakang sejarah panjang sekelompok penduduk di masyarakat Bugis yang mengungsi kedalam wilayah kerajaan Balanipa. 

Sejarah Bahasa koneq-koneqe
Sejarah bahasa ini melibatkan suku Bugis yang berpindah masuk kedalam wilayah kerajaan Balanipa pada suatu masa oleh karena perpecahan di daerah Cempalagi, hingga terdapat beberapa kelompok yang terusir dari Cempalagi dan masuk ke wilayah Mandar. Berikut ini adalah sejarah bahasa koneq-koneqe yang dituturkan oleh alm. Prof. Darmawan Mas'ud, ahli sejarah seputar Mandar. 
Dahulu, terdapat kampung yang bernama Cempalagi di Bone, Sulawesi Selatan, yang didiami oleh masyarakat Bugis. Saat itu masih jaman kerajaan, suatu hari terjadi perebutan kekuasaan antara kakak beradik yang ingin menggantikan tahta ayahnya sebagai raja yang telah meninggal. Pemilihan pun dilakukan, namun karena sang kakak mempunyai watak keras, sombong dan serakah maka tidak ada rakyat yang mendukung. Sebaliknya sang adik yang baik hati dan dermawan didukung penuh oleh rakyat di Cempalagi. Sang kakak pun marah karena tidak terima dikalahkan oleh adik kandungnya sendiri. Ia pun berniat membunuh sang adik. Berkat ketulusan sang adik, ia berniat untuk mundur menjadi raja dan menerima kalau kakaknya yang menjadi raja. Namun sang kakak sudah kadung marah, sehingga ia tetap tidak terima keputusan adiknya itu. Akhirnya sang adik dan semua rakyat yang mendukungnya memutuskan untuk kabur dari desa Campalagi menuju daerah yang aman. Sang kakak ternyata tetap mengejar karena dendam terhadap adik dan semua rakyat yang ikut dengan adiknya.
Akhirnya sang adik tiba di perbatasan Kerajaan Balanipa (yang saat itu dibatasi oleh jembatan Mapilli) berharap akan mendapat perlindungan dari Raja Balanipa karena ia tau kakaknya tidak mungkin masuk ke kekuasaan kerajaan lain. Dan ternyata sang adik dan pengikutnya disambut baik oleh Raja Balanipa.
Selang beberapa lama Raja Balanipa akhirnya memutuskan untuk memberikan satu wilayahnya kepada sang adik dan pengikutnya asalkan mereka mau tetap tinggal di Balanipa. Sang adik dan pengikutnya setuju dan gembira dengan keputusan Raja Balinpa tersebut. Akhirnya mereka semua tinggal dan menetap di Balanipa dan wilayah itu diberi nama Campalagian.
Dari petikan sejarah seputar bahasa koneq-koneqe diatas tergambar bahwa ada pencampuran budaya bahasa yang berasal dari Bugis dengan Mandar. Di desa Bonde (Kampung Masigi) bahasa ini mungkin akan sering didengarkan, namun perlahan mulai terkikis dan beranjak punah, penuturnya sudah semakin sedikit.  Penutur bahasa koneq-koneqe juga ditemukan di desa Parappeq atau Banua Baru, desa Passairang, desa Katumbangan Lemo, desa Buku, dan desa Panyampa

Orang-orang yang menggunakan bahasa ini juga mampu memakai bahasa Mandar sebagai bahasa yang mayoritas dipakai di Campalagian, jadi disaat anda berbicara dengan menggunakan bahasa Mandar maka mereka akan mengerti dan dapat membalas anda dengan bahasa Mandar, namun jika anda mahir berbahasa Mandar, belum tentu anda mampu berbahasa koneq-koneqe. 

Sama halnya dengan bahasa daerah maka bahasa ini juga perlahan mulai hilang, dan sangat sedikit digunakan. Walaupun bukan bahasa Mandar namun bahasa koneq-koneqe memperkaya bahasa yang ada dan lestari di daerah Mandar. Jika anda mendengar bahasa ini maka dialeknya pun memiliki intonasi yang khas, seru untuk didengarkan. 

Sumber Rujukan :

Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
07.36 | 0 komentar

Dolong, Sirup Imitasi Khas Mandar Yang Perlahan Punah

Written By ian on Senin, 17 Juni 2013 | 18.05

Mungkin anda akan mengira ini minuman manis serupa sirup. Warnanya merah menggugah selera, iya kan? Terlihat begitu jelas dari warnanya yang menggoda. Tapi coba anda minum dan rasakan, sangat jauh berbeda dengan sirup. Sama sekali bukan sirup dan tidak mengandung gula. Saat ini sudah sangat jarang ditemui di daerah Mandar, mungkin hanya segelintir orang saja yang masih mempertahankan kebiasaan dan budaya orang tua dahulu ini. Padahal menurut beberapa sumber minuman dengan pewarna alami ini mempunyai khasiat yang baik untuk tubuh.

Minuman Dolong Khas Mandar
Minuman Dolong Khas Mandar (Foto : Bulan Ramli)
Dolong Khas Mandar
Dolong khas Mandar dengan warna merah menyala (Foto : Bulan Ramli)
Hari itu saya mengikuti kuliah dari salah satu dosen tamu yang diundang khusus untuk membawakan materi “food safety”. Di antara materi yang disampaikan, beliau menceritakan Indonesia yang begitu kaya dengan budaya dan kearifan lokal masyarakatnya. Hingga kemudian beliau menyebut satu per satu budaya dan kearifan ataupun pengetahuan lokal beberapa daerah, termasuk Orang Mandar di Sulawesi Barat.

Bagian yang ini spontan menarik perhatian saya. Beliau menyebut Orang Mandar di Sulawesi Barat memiliki kebiasaan mengkonsumsi minuman berwarna merah. Sebenarnya itu adalah air putih yang kemudian berubah warna menjadi merah. Warna merahnya di peroleh dari kayu sapang yang dimasukkan ke dalamnya. Ini juga mungkin adalah bagian dari rahasia kesehatan para leluhur kita karena ternyata kayu sapang itu masuk dalam jenis kayu farmasi yang mengandung zat antibiotik.

Saat mudik lebaran ke Mandar tahun 2012 kemarin, saya menyempatkan diri mencari tahu seperti apa pohonnya. Beberapa referensi pun saya peroleh dari masyarakat. Selain sering dijadikan pagar hidup di kebun atau di pekarangan rumah, kayu ini oleh para nelayan juga dijadikan bahan pembuat pasoq lopi (paku untuk perahu) karena memang kuat dan tahan air.

Tidak banyak informasi tentang lokasi di mana saya bisa menemukan pohonnya.  Rekomendasi satu-satunya hanya ke Kabupaten Majene. Dengan diantar Bapak, saya pun akhirnya sampai di lokasi (nama desanya saya lupa). Saya perhatikan di sekitarnya memang sudah hutan dan jalan setapak. Beberapa contoh daun, buah dan batang saya ambil untuk keperluan identifikasi.

Sampel Buah Ayu Sapang Mandar
Sampel buah ayu sapang (Foto : Bulan Ramli)
Bentuk Pohon Dolong Khas Mandar
Karakter pohon yang berduri (Foto : Bulan Ramli)
Potongan Kayu Dolong Mandar
Batang yang dikemas seadanya agar praktis dibawa (Foto : Bulan Ramli)
Kayu ini disebut juga kayu Secang atau Sepang (Indonesia). Nama latinnya Cesalpinia sappan L. Sementara ini saya cukup senang dengan apa yang saya peroleh dan berbagi sekelumit cerita tentang minuman ini. Lebih dari itu, yang paling penting adalah bagaimana prospek pengembangan minuman ini sebagai bagian dari aset budaya Orang Mandar yang harusnya tetap bisa kita jaga kelestariannya.

Penulis :

Bulan Ramli
Bulan Ramli, hobi travelling, dan menulis saat ini sedang bermukim di Bogor, menempuh pendidikan Doktoral di Institut Pertanian Bogor (IPB). Saat ini juga sebagai tenaga pendidik (Dosen) di salah satu Universitas Negeri di Gorontalo.

Kontak Saya :

Twitter : https://twitter.com/bulankuuu
Facebook : http://www.facebook.com/mandar.too
Blog : http://bulansays.blogspot.com/


Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
18.05 | 0 komentar

Siapa Bilang Pariwisata Kota Majene Nol Besar ?

Written By ian on Senin, 10 Juni 2013 | 16.59

Ada yang meragukan pesona pariwisata kota Majene, Sulawesi Barat? sebaiknya anda coba melihatnya lebih dalam lagi. Sebaliknya, kota ini penuh dengan keindahan tempat-tempat alam yang masih asri, sama halnya dengan kota-kota yang ada di provinsi Sulawesi Barat seperti Polewali Mandar, Mamasa, Mamuju, hingga Mamuju Utara. Hampir semua kota kabupaten ini tergolong indah.

Baurung Majene
Perahu nelayan Mandar  jenis "lepa-lepa" dengan latar bakau (Mangrove)
Photo Credit : Ohe Syam Suharso 
Jika anda hanya melintasi kota Majene dengan menggunakan angkutan umum via jalan provinsi, mungkin anda tidak dapat melihat beberapa titik-titik menrik pariwisata, karena letaknya yang mungkin sedikit menjorok ke daerah pedalaman atau menuju ke daerah pesisir pantai. Khusus untuk kota ini, maka anda akan dimanjakan dengan dominasi pesona pesisir pantai yang menakjubkan. Daerah sekitar kota Majene memang dipenuhi oleh objek wisata pantai seperti tebing terjal berpasir putih dengan batu-batu karang yang cukup besar, sebutlah misalnya pantai Dato. Namun bukan cuma pantai Dato yang dapat anda saksikan, pantai Barane pun yang saat ini menjadi begitu populer di Majene bisa jadi destinasi wisata anda.

Daerah Baurung misalnya, yang masih merupakan lingkungan dimana Pantai Dato berada, masuk dalam wilayah administrasi kecamatan Pangale menyimpan titik-titik pesona untuk melihat laut dengan perahu nelayan yang hilir mudik saat mencari ikan. Fotografer muda Majene saudara "Ohe Syam Suharso" sempat mengabadikannya dalam potret. Anda bisa menyimak beberapa foto-foto seputar Baurung dalam kategori "Landscape" dibawah ini :

Lepa-Lepa Baurung Majene
Perahu nelayan Mandar lepa-lepa saat di tepi pantai lingkungan Baurung Majene
Photo Credit : Ohe Syam Suharso

Pelangi Baurung Majene
Hutan bakau (mangrove) di lingkungan Baurung Majene dengan latar pelangi yang indah
Photo Credit : Ohe Syam Suharso 

Perahu Nelayan Baurung Majene
Hutan bakau (mangrove) yang menjadi penyangga konservasi pantai di lingkungan Baurung Majene
Photo Credit : Ohe Syam Suharso 
 Dokumentasi foto diatas mungkin bisa sedikit memberi ilustrasi kepada anda betapa kemudian Majene memiliki beberapa tempat yang menyimpan keindahan pesona pantai, juga dengan hutan bakau (mangrove) yang menjadi penyangga ekosistem di sekitarnya. Potensi pariwisata Mandar dan Sulawesi Barat khususnya di daerah kota Majene sangat menjanjikan untuk diangkat ke permukaan, hanyalah niat kuat dari pemegang kebijakan tertinggi dan dukungan semua masyarakat maka hal tersebut dapat terwujud.

Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
16.59 | 0 komentar

Potret Rumah Adat Mandar Majene Di Benteng Somba Opu Makassar

Written By ian on Rabu, 05 Juni 2013 | 19.51

Rumah adat Mandar dari kab. Majene adalah salah satu dari tiga buah rumah adat Sulawesi Barat yang berdiri di dalam kompleks Benteng Somba Opu Makassar. Menyusun beberapa miniatur budaya Sulawesi Selatan sebelum terbentuknya provinsi Sulawesi Barat.

Berikut ini beberapa dari foto rumah adat Mandar kab. Majene  :

Tampak bagian depan rumah adat Mandar kab. Majene
Foto : Tommuane Mandar

Plang rumah adat Mandar kab. Majene yang mulai usang
Foto : Tommuane Mandar

Struktur anak tangga rumah adat Mandar kab. Majene
Foto : Tommuane Mandar

Bagian teras rumah adat Mandar kab. Majene
Foto : Tommuane Mandar


Struktur jendela rumah adat Mandar kab. Majene
Foto : Tommuane Mandar

Bagian detail jendela rumah adat Mandar kab. Majene
Foto : Tommuane Mandar

Struktur tangga rumah adat Mandar kab. Majene
Foto : Tommuane Mandar
Tampak bagian belakang rumah adat Mandar kab. Majene
Foto : Tommuane Mandar

Bagian belakang (paceko) rumah adat Mandar kab. Majene
Foto : Tommuane Mandar

Bagian belakang rumah adat Mandar kab. Majene (mulai rusak)
Foto : Tommuane Mandar



Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
19.51 | 0 komentar

Film Sangat Pendek Objek Wisata Permandian Alam Air Panas Limboro

Permandian alam air panas Limboro merupakan salah satu dari objek wisata kurang terkenal yang ada di kabupaten Majene Sulawesi Barat. Permandian ini terletak di Limboro Desa Tallu Banua, kec. Sendana berjarak sekitar 46 km dari ibukota kabupaten Majene. Berada cukup jauh ke pedalaman diantara beberapa gunung tinggi dan menyajikan panorama alam khas pegunungan.

Permandian Alam Air Panas Limboro Majene
Kolam berukuran besar di permandian alam air panas Limboro kec. Sendana kab. Majene
Photo Credit : Tommuane Mandar 
Akses menuju objek wisata ini cukup sulit, tak ada angkutan umum reguler dan untuk menuju kesana anda harus menyiapkan kendaraan pribadi. Faktor ini yang kemudian membuat objek wisata ini tidak begitu terkenal. Anda harus memacu kendaraan di tanjakan yang cukup tinggi dengan kemiringan sekitar 20-30 derajat dengan sisi tebing dan sisi sebelahnya jurang menganga yang cukup dalam. Lebar jalan cukup sempit, hanya berjarak beberapa meter dengan kondisi sebagian aspal dan beberapa meter telah mengalami pembetonan oleh pihak pemerintah kabupaten Majene.

Terdapat berbagai macam ukuran kolam air panas dan setidaknya terdapat 3 buah kolam yang dapat diakses secara mudah oleh pengunjung yang datang ke tempat ini. Sebuah kolam besar dengan sumber air panas dari kolam kecil dan sebuah kolam berukuran sedang yang letaknya berada tidak jauh dari kolam besar.

Sama seperti objek-objek wisata yang ada di wilayah kab. Majene untuk masuk ke tempat ini tidak dibutuhkan retribusi, ini karena tidak ada pengelolaan resmi pada tempat-tempat wisata ini. Anda dapat dengan bebas masuk dan mandi dalam kolam ini 

Berikut ini adalah film sangat pendek yang telah kami buat tentang Permandian Alam Air Panas Limboro, semoga dapat memberikan gambaran umum mengenai kondisi objek wisata ini pada anda : (sebaiknya anda tonton dengan terlebih dahul mengubah tampilan ke pengaturan resolusi 480 piksel untuk hasil maksimal)


Mari memajukan budaya dan pariwisata Mandar dan Sulawesi Barat yang cenderung kurang mendapat perhatian baik dari pihak pemerintah.


Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
15.46 | 0 komentar

Jepa, Gaya Pizza Ala Suku Mandar

Ingin menikmati gaya Italia di jazirah Tipalayo Sulawesi Barat mengapa anda tidak mencoba kuliner "Jepa" gaya pizza ala suku Mandar. Generasi muda Mandar kadang berkelakar dan membuat candaan bahwa Jepa memiliki kesamaan dengan Pizza. Entah mengapa seperti itu? mungkin salah satu upaya untuk memperkenalkan Jepa. Dari bentuk mungkin saja mirip tapi dari bahan utama, sangat berbeda Pizza menggunakan bahan dasar tepung sementara Jepa memakai ubi kayu atau singkong sebagai bahan pokoknya. 

Jepa Mandar
Jepa, kuliner Mandar yang terbuat dari bahan ubi kayu/singkong yang diparut dan diperas airnya
Photo Credit : Pusvawirna Natalia Mauchtar
Jepa, orang-orang dari suku Mandar biasa menyebutnya, kuliner populer sekelas "Bau Peapi " yang dikenal luas di masyarakat Sulawesi Barat dan menjadi salah satu ciri khas daerah ini. Ketika orang menyebut kata "Jepa" maka orang-orang akan menganalogikan ini dengan Mandar dan Sulawesi Barat, singkatnya ia telah menjadi maskot kuliner sudah sejak lama.

Jepa adalah makanan tradisional yang terbuat dari singkong atau ubi yang diparut terlebih dahulu kemudian diperas untuk menghilangkan kadar airnya dan kemudian diayak dan dicampurkan dengan parutan buah kelapa untuk memberinya rasa gurih dan nikmat. 

Jepa dapat dijadikan sebagai bahan makanan pokok, pengganti nasi karena kandungan karbohidratnya yang cukup tinggi, seperti yang selalu dijadikan bahan logistik oleh para nelayan Mandar saat melaut, dimana di laut lepas mereka membutuhkan bahan makanan yang dapat disajikan dengan cepat sebagai pengganti nasi. Pada beberapa orang yang telah berumur dan mengidap penyakit sistemik seperti Diabetes Melitus maka Jepa dapat dijadikan bahan makanan non nasi yang dikonsumsi saat makan siang dan makan malam. Kandungan karbohidratnya kurang lebih sama dengan yang dikandung oleh nasi. 

Untuk jenis-jenis Jepa anda dapat menemukannya dalam berbagai macam modifikasi, pengggolongan jenis Jepa adalah berdasarkan bahan pembuatnya, misalnya saja : 1. Jepa Katong, yaitu jepa yang terbuat dari katong atau sagu 2. Jepa Golla Mamea, yaitu jepa yang memiliki campuran gula merah atau gula aren di dalamnya 3. Jepa-Jepa, yaitu jepa dengan ukuran yang lebih kecil (bahan logistik utama nelayan Mandar saat melaut) yang dibuat dengan membuat permukaan jepa agak tipis lalu kemudian dijemur, setelah dijemur ia kemudian dihancurkan, lalu untuk proses penyajiannya bisa dicampurkan dengan gula aren atau dengan potongan daging kelapa muda.

Membuat bahan utama jepa sederhananya adalah dengan terlebih dahulu memarut ubi kayu atau singkong, lalu kemudian hasil parutan tersebut diperas untuk dikeluarkan kandungan airnya. Ampas yang tertinggal lah (berwarna putih) yang menjadi bahan utama pembuatan Jepa. Ini yang lalu di campur dengan bahan-bahan lain untuk melengkapi bahan utamanya misalnya dengan menambahkan parutan kelapa, atau gula merah (gula aren). Untuk jepa yang seperti biasanya, tanpa campuran apa-apa bahan utama ini kemudian ditaburkan diatas piring berbentuk bundar dari tanah liat dan dipanaskan diatas tungku. Wanita Mandar biasa menggunakan tungku yang terbuat dari tanah liat untuk memanaskan Jepa. 

Untuk membuat kuliner Mandar yang lezat ini kaum wanita atau ibu-ibu biasa membuatnya dengan alat yang disebut dengan nama "Panjepangang" dengan bentuk seperti piring namun dengan permukaan yang halus terbuat dari tanah liat. Membuat Jepa membutuhkan keterampilan dalam menuang bahan baku diatas panjepangang dengan gerakan yang agak cepat dan terukur, jika terlalu lama memanggangnya maka permukaan jepa akan terlihat hitam, cukup dengan membuatnya berwarna coklat keemasan maka Jepa tersebut sudah bisa diangkat.

Menyinggung soal nilai gizi Jepa, sepertinya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap hal ini. Proses pengolahannya yang sedemikian rupa mungkin saja akan mengurangi beberapa kandungan gizi didalamnya. Belum lagi metode pengolahan yang lama seperti misalnya dengan pengeringan. Namun sejak dulu kuliner ini telah menggantikan fungsi beras atau nasi sebagai karbohidrat yang notabene digunakan sebagai sumber energi untuk tubuh. Sejatinya Jepa telah lama berfungsi sebagai sumber karbohidrat efisien yang mudah dibuat.

Dalam hal penyajian, Jepa akan sangat tepat jika dipadukan dengan "Tui-Tuing Tapa" atau ikan terbang yang diasapi, ini adalah kombinasi makanan pokok dan lauk yang sngat lezat. Atau jika anda menemukanJepa dan "Bau Peapi" ikan masak Mandar dalam waktu bersamaan maka sebaiknya anda menggabungkan antara keduanya. Rasa gurih Jepa dan aroma khas Bau Peapi bisa membuat anda ketagihan.

Referensi : 

Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
14.55 | 0 komentar

Bau Peapi, Kuliner Nomor Wahid Suku Mandar

Written By ian on Selasa, 04 Juni 2013 | 22.52

Bau peapi khas Mandar, kuliner Mandar nomor wahid yang menjadi hidangan andalan suku Mandar. Menjadi salah satu ikon kuliner yang begitu terkenal hingga keluar daerah. Bau Peapi memiliki rasa khasnya sendiri oleh kombinasi rasa dari penggunaan bahan asam mangga, minyak lokal khas Mandar dengan kandungan lemak sangat tinggi dan beberapa racikan bumbu yang lain. Sensasi rasa gurih, lezat mutlak anda dapatkan.

Bau Peapi Mandar
Kuliner Bau Peapi Mandar dalam kuali tanah liat yang terlihat gurih dan lezat dengan minyak kelapa Mandar  yang kental
Photo Credit : Pusvawirna Natalia Muchtar
Bagi anda yang belum pernah merasakan kelezatan kuliner Mandar ini sebaiknya mencoba jika anda berkunjung ke wilayah yang dihuni oleh orang-orang Mandar. Dan bagi yang telah pernah merasakan kelezatannya, pasti akan terus ingin merasakan kembali kuliner populer ini.  

Ikan tongkol merupakan salah satu dari sekian banyak jenis ikan yang dapat dimasak untuk menu “Bau Peapi” bentuk fisiknya yang tidak mempunyai banyak tulang menjadi salah satu keunggulannya dijadikan sebagai bahan untuk kuliner ini, namun ikan jenis lain tidak menutup kemungkinan untuk juga dijadikan bahan utama.

Proses pembuatan kuliner Mandar ini sebenarnya cukup mudah, hanya dibutuhkan beberapa bahan yang sebagian besar dapat dengan mudah ditemui di daerah ini. Jika anda berada diluar Mandar dan ingin mendapatkan sensasi serupa aslinya maka akan sangat sulit, hal itu mungkin bisa dengan konsekuensi bahan sulit seperti “asam mangga” dan “minyak kelapa asli Mandar” bisa anda siapkan.

Secara umum, proses pembuatan kuliner Bau Peapi Mandar sangat sederhan dan dapat dijelaskan dalam langkah-langkah berikut ini :

Setelah ikan yang akan anda jadikan bahan utama telah dibersihkan (insang dan bagian bawah perutnya) dan dicuci dengan bersih, ikan lalu dipotong dalam tiga bagian hingga dalam satu ekor menjadi beberapa bagian terdiri dari bagian kepala, perut, ataupun ekor, namun jika anda menghendaki memasak ikan dalam keadaan utuh maka kembali pada selera anda, namun sebaiknya sesuaikan dengan ukuran kuali ikan anda.  Untuk soal kuali sebaiknya gunakan kuali tanah yang terbuat dari tanah liat untuk mendapatkan sensasi “Bau Peapi” yang sempurna. 

Setelah itu, irisan bawang Mandar (bawang serupa bawang prei namun memiliki ukuran lebih kecil, banyak dibudidayakan di daerah Mandar) dan asam mangga “pammaissang”, garam, ulekan cabe, sedikit kunyit, dan kemiri dicampurkan menjadi satu (jika anda suka pedas boleh tambahkan beberapa cabe rawit), lalu kemudian diremas menggunakan tangan. (Khusus mengenai bawang Mandar selain menambah rasa yang nikmat bahan ini juga menambah kesan estetik saat disajikan) Pastikan bahwa bumbu yang tadi telah dibuat tercampur dengan rata, jangan lupa masukkan minyak kelapa khas Mandar (jika tak menggunakan kelapa Mandar maka dijamin masakan anda akan berbeda, kandungan lemaknya yang tinggi membuatnya menjadi lezat). Lalu tambahkan air secukupnya hingga tersebut terendam sempurna dalam kuali. Setelah itu naikkan ke tungku.

Khusus buat anda pencinta rasa pedas, prinsip cara membuat Bau Peapi Mandar yang tepat adalah ketika anda dapat membuat perbandingan pas antara jumlah cabe yang dimasukkan dan jumlah bawang Mandar nya, penikmat kuliner ini tak akan henti makan jika kemudian belum penuh dengan peluh, namun rasa nikmatnya tidak oleh karena rasa pedasnya, demikian mungkin ilustrasi yang dapat digambarkan saat menikmati kuliner ini.

Untuk menikmati “Bau Peapi” khas Mandar ini dapat anda cicipi juga dengan memadukannya dengan “Jepa” kuliner khas Mandar berbentuk lingkaran yang terbuat dari singkong. Paduan ini menurut beberapa orang sangatlah nikmat, karena tekstur Jepa yang memiliki banyak ruangan dapat menampung kuah ikan. Maka rasa jepa yang juga khas akan menyatu dengan gurih ikan masak ini.

Banyak orang-orang Mandar yang percaya jika “Bau Peapi” akan sempurna jika dimasak dengan menggunakan kuali dari tanah liat dan menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya, entah mengapa ada anggapan seperti itu, mungkin sensasi alami khas Mandar tradisional yang akan lebih terasa ketika tahu bahwa kuliner tersebut diolah dengan begitu alami, tak ada alasan logis yang menjadi penguat dari anggapan ini. 

Terlepas dari itu semua tidak bisa ditolak bahwa rasanya yang sempurna, aromanya yang khas dan rasa gurih  kuahnya membuat kuliner ikan masak atau Bau Peapi Mandar memang selalu dirindukan untuk dinikmati.

Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
22.52 | 0 komentar

Resep Dan Cara Membuat Loka Sari Khas Mandar

Written By ian on Senin, 03 Juni 2013 | 19.50

Siapa yang tidak mengenal kuliner ini. orang-orang dari suku Mandar sering menyebutnya sebagai "Loka Sari" yaitu menu dengan bahan utama pisang yang diberi santan kental. Kuliner ini sering disajikan sebagai menu disaat jamuan pada waktu sore hari.

Loka Sari adalah menu yang cukup mudah untuk dibuat, hanya dibutuhkan pisang (dari jenis pisang raja) serta buah kelapa untuk membuat santan kental. Sederhananya Loka Sari adalah hidangan pisang yang diberi santan dan secara umum orang-orang mengenal hidangan ini dengan nama  "kolak pisang" hidangan standar yang hampir ada di setiap daerah di Indonesia.

Ilustrasi Loka Sari khas Mandar dengan bahan utama pisang raja
Photo Credit : www. aswetravel.com 
Adapun resep mengenai cara membuat Loka Sari adalah sebagai berikut :

Bahan : 
  • 1 sisir pisang raja masak (boleh jenis pisang lainnya) 
  • 1 butir kelapa
  • Gula pasir dan garam (secukupnya)
Cara membuat :
  • Kupas pisang, potong dua dengan bentuk serong (untuk menambah kesan estetisnya, jika dipotong dengan lurus saja tak sedap dipandang mata)
  • Parut kelapa dan buatlah santan dengan konsistensi yang agak kental, untuk mendapatkan loka sari yang gurih silahkan anda buat santan yang lebih kental, namun jika mengharapkan loka sari yang sedang kurangi kekentalannya.
  • Masukkan ke dalam panci semua bahan tadi, lalu masak dengan api kecil sampai kemudian pisang melunak, jangan lupa tambahkan gula pasir untuk mendapatkan rasa manis dan sedikit garam agar menonjolkan rasa asin di ujung kelezatannya
  • Hidangkan panas-panas ataupun dalam kondisi dingin
Demikian resep singkat dan bagaimana cara membuat Loka Sari khas Mandar. Bahan dapat diproleh secara mudah dan cara membuatnya pun tidaklah sulit, wajar jika kuliner ini sering kita temui dan populer di daerah-daerah Mandar Sulawesi Barat

Ada beberapa orang yang juga suka membuat hidangan Loka Sari menjadi "sayur" dalam menu hidangannya, meskipun kedengarannya aneh, mungkin ada modifikasi rasa dan resep didalamnya. Semua kembali pada selera pembuatnya dan yang menikmati menu ini.

Referensi :
  • Amin A. (2013) Analekta Beruq-Berug (Perempuan Mandar Menjawab) Hal 241. Solo : Kappung Beruq-Beruq Press
Penulis :

Tommuane Mandar, saat ini bermukim di Makassar, hobi travelling dan berbincang soal budaya, sedang merintis pelestarian aspek budaya dan promosi tempat-tempat wisata di tanah Mandar, Sulawesi Barat lewat pengembangan dunia literasi, dengan dukungan promo via sosial media.

Kontak saya :
blog : http://tommuanemandaronline.blogspot.com




Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
19.50 | 0 komentar

Situs Allamungan Batu Di Luyo

Written By ian on Sabtu, 01 Juni 2013 | 18.03

Dua konfederasi kerajaan besar di daerah Mandar dahulu adalah Pitu Baqbana Binanga dan Pitu Ulunna Salu. Sejarah merekam bahwa beberapa kali dua kelompok kerajaan yang berbeda letak mewakili dataran tinggi dan dataran rendah ini pernah beberapa kali membuat kesepakatan berupa perjanjian. 

Monumen situs Allamungan Batu yang terletak di wilayah kec. Luyo Kab. Polewali Mandar Sulawesi Barat
Photo Credit :  Azdar Gipsi 
Daerah Luyo yang berada di kab. Polewali Mandar dahulu pernah dijadikan tempat untuk berikrar untuk semakin memperkuat persaudaraan antara dua kelompok kerajaan ini dalam persepsi Mandar yang lebih kuat. 

Berikut dibawah ini adalah kutipan naskah Allamungan Batu di Luyo, (perjanjian Sipamandaq di Luyo)

1. Taqlemi manurunna peneneang uppasambulobulo anaq appona di Pitu Ulunna Salu, Pitu Baqbana Binanga, nasaqbi Dewata diaya Dewata diong, Dewata di kanang, Dewata diolo, Dewata diboeq, manjarimi pasemandarang.

2. Tannisapaq tannitonang, maq allonang mesa mallatte samballa, siluang sambusambu sirondong langiqlangiq, tassipande peoqdong tassipadundu pelango, tassipelei dipanraq tassiluppei diapingang.

3. Sipatuppu diadaq sipalete dirapang, adaq tuho di Pitu Ulunna Salu, Adaq mate di muane adaqna Pitu Baqbana Binanga.

4. Saputangang di Pitu Ulunna Salu, Simbolong di Pitu Baqbana Binaga

5. Pitu Ulunna Salu memata di Sawa, Pitu Baqbana Binanga memata di Mangiwang

6. Sisaraqpai mata malotong anna mata mapute, anna sisaraq Pitu Ulunna Salu Pitu Baqbana Binanga.

7. Moaq diang tomangipi mangidang mabattangang tommutommuane, namappasisaraq Pitu Ulunna Salu Pitu Baqbana Binanga, sirumungngi anna musesseqi, passungi anaqna anna muanusangi sau di uwai temmembaliq

Sejarah memang selalu menunjukkan bahwa selalu ada usaha untuk mempersatukan daerah-daerah yang luas di Mandar dalam satu kesepakatan yang lebih bermanfaat, dengan nilai filosofi yang sangat dalam jika dilihat dari isi perjanjian tersebut.

Penulis :

Tommuane MandarTommuane Mandar, saat ini menetap di Makassar, hobi travelling dan fotografi. Pecinta wisata kuliner, sedang merintis pelestarian aspek budaya dan promosi tempat-tempat wisata di tanah Mandar - Sulawesi Barat lewat pengembangan dunia literasi via promosi sosial media.
facebook grup : https://www.facebook.com/groups/201234436690924/
blog : http://tommuanemandaronline.blogspot.com



Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
18.03 | 0 komentar

Selamat Datang

Gambar Selamat Datang

Download Buku Imam Lapeo

Buku Imam Lapeo

Download Buku FPRT

FPRT di Tanah Mandar

Download Buku Sulbar

Buku SULBAR

Link Mandar

Dinas Pemuda Olahraga& Pariwisata Sulbar Radar Sulbar Sulbarcom Mamuju Pos Suara Sulbar Malaqbicom Kandoracom Kemenhukum DinKes KUA KUAWono DinKes BKKBN BPS BPKP Kampung Mandar Tommuane Mandar Kampung Mandar DEsa Tamanggalle MAndar Kita MIN Polewali MuhSulbar MuhPolman Kompadansa KPU Sulbar Bawaslu Sulbar Puang.com

Download Sayang-Sayang

Sayang-Sayang