Assalamu Alaikum,  lulluare...!   |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Tampilkan postingan dengan label Kabar Mandar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar Mandar. Tampilkan semua postingan

“Pikaer Anjoro” Rahasia Kelembutan Sarung Sutera Mandar

Written By ian on Kamis, 23 Juli 2015 | 10.40

Sarung sutera terkenal akan kelembutannya, namun jika salah-salah pengolahan benang dalam proses pembuatannya, benang akan kasar yang berdampak pada kualitas sarung. Orang yang tak terlibat di dunia pengolahan sutera di Mandar mungkin tak pernah menduga atau tak bisa menebak bahan apa yang digunakan.
 
Ternyata bahannya bisa dikategorikan sebagai sampah, yang di Mandar maksimal digunakan sebagai kayu bakar. Beda di Bali atau Yogyakarta, dijadikan kerajinan. Sampah tersebut adalah “pikaer anjoro” atau tangkai yang “memegang” buah kelapa. Disebut “pikaer” (sapu) sebab jika tak ada sapu lidi, bahan tersebut bisa digunakan sebagai sapu darurat.
 
Penggunaan “pikaer anjoro” sangat bersahaja tapi sangat berdampak pada kualitas sarung sutera yang diolah. Caranya begini. Benang sutera yang masih mentah, yang baru selesai diolah dari kokon, itu belum bisa diolah atau ditenun. Harus dimasak dan dicuci atau dalam bahasa dunia sutera di Mandar diistilahkan “sassa” (cuci).
 
Untuk “massassa” benang sutera tidak digunakan sabun, tapi abu (“tai au”) “pikaer anjoro”. Beberapa tangkai “pikaer anjoro” kering dikumpul lalu dibakar. Bisa di dalam tungku batu asal di tungku tersebut tidak ada abu atau sisa pembakaran dari kayu lain. Setelah “pikaer anjoro” habis terbakar, akan tersisa abu. Setelah bara tak ada, abu tersebut dimasukkan ke dalam ember atau kuali, dicampur dengan air secukupnya (jumlahnya disesuaikan dengan sutera yang akan diolah).
 
Campuran abu dan air diaduk untuk kemudian didiamkan semalaman. Setelah abu mengendap sempurna, air jernih yang berada di atas endapan diambil, dimasukkan ke dalam panci yang akan digunakan “memasak” benang sutera. Air kelihatan jernih, tapi rasanya licin. Persis seperti memegang air sabun. Bedanya, ini tak berbusa.
 
Air dibuat mendidih. Api di bawah panci dikurangi sedikit (idealnya menggunakan kayu bakar) untuk selanjutnya benang yang akan diolah dimasukkan ke dalam. Sebelum dimasukkan ke dalam panci, sutera yang akan dimasak padanya diikatkan selembar daun kelapa yang masih muda. Fungsinya sebagai pegangan ketika sutera diaduk. Adapun alat aduk yang biasa digunakan adalah bambu kecil yang dalam bahasa Mandar-nya “taroqda”, yang kalau digunakan di alat penenunan disebut “toraq”.
 
Sutera direndam dalam air panas di panci yang mana di bawah panci tetap ada bara untuk menjaga suhu air tetap panas. Makin lama direndam (diselingi pengadukan) makin bagus. Biasanya 1-2 jam.
Setelah sutera “masak”, sutera dikeluarkan dari panci untuk kemudian dicuci dengan air dingin agar terbuang sisa kotoran yang melekat padanya. Dibilas sampai tiga kali. Sutera tersebut kemudian diperas. Cara memerasnya: rangkaian benang sutera dikaitkan pada tonggak yang keras. Lalu dipelintir menggunakan “toraq”. Dilakukan sekeras mungkin. Jangan khawatir sutera putus.
 
Pemerasan selesai, berikutnya sutera diangin-anginkan. Jangan terkena panas matahari langsung sebab akan membuat sutera menjadi keras. Rangkaian benang sutera tersebut diurai untuk memudahkan air yang terkandung di benang menguap. Di sini pekerjaan belum selesai.
 
Sutera tersebut ternyata masih menerima perlakukan keras, yaitu “disitta-sittaq”. Rangkaian sutera dikaitkan pada bambu (“tokong”) yang berfungsi sebagai jemuran. Lalu ditarik-tarik sekeras mungkin. Proses tersebut dilakukan terus menerus sampai sutera kering. Setelah sutera kering, sutera dipintal sedemikian rupa untuk siap memasuki tahapan untuk dibuat menjadi sarung.
 
Menurut beberapa informan yang diwawancarai dalam kajian mengenai sutera Mandar, penggunaan “pikaer anjor” sudah sangat lama, sejak kakek nenek. Teknik ini disebarkan oleh Imam Janggoq di Bandung, Jawa Barat, saat dia menimba ilmu pengelolaan sutera di sana. Menurut salah seorang anaknya, Salihin, dulu bapaknya sampai mencari “pikaer anjoro” ke Cilacap, Jawa Tengah.
Penggunaan “pikaer anjoro” setidaknya menjadi tradisi di pengolah benang sutera di kawasan Kerajaan Balanipa atau Appeq Banua Kaiyyang. Informasi ini didapat dari informan yang bermukim di Pallis, Mosso, Limboro dan sekitarnya.
 
Desa Pallis Kecamatan Balanipa masih ketat menggunakan bahan “pikaer anjoro”, tapi pengolah benang sutera di Dusun Camba-camba Kecamatan Limboro menggunakan pelepah daun kelapa atau “palapaq anjoro”. Menurut Kamaq Dina, pengolah benang sutera yang masih bertahan di Camba-camba, “Ya, kita juga sering pakai pikaer anjoro tapi abunya sedikit dan susah dapat. Jadi sekarang pakai pilapaq anjoro dan hasilnya sama saja.”
 
Pengolah benang sutera pernah marak di Camba-camba. Hampir di semua rumah di sekitar Mesjid Camba-camba mengolah sutera dengan cara tradisional. Tapi sekarang ini sepertinya tinggal dua rumah tangga saja. “Sekarang kan lebih banyak pakai saqbe india yang tidak diolah lagi. Makanya saya berhenti massasa saqbe,” terang Ruqda, wanita paruh baya di Camba-camba yang pernah berprofesi sebagai pencuci sutera.
 
Menurut Kamaq Dina, sejak lajang dia sudah bekerja sebagai pencuci sutera. Sekarang dia sudah bercucu. Adapun bayaran mencuci sutera Rp 50.000 per kilogram benang sutera. “Sutera asli sudah jarang, makanya banyak yang berhenti. Hari ini saya kerja tidak seberapa, tapi minggu lalu lumayan banyak,” kata Kamaq Dina yang beberapa putrinya juga bergelut dalam kegiatan persuteraan. “Ada anak saya yang bisa menenun, ada juga tidak. Ada yang bekerja sebagai penjual sarung sutera tapi dia tidak bisa menenun,” tambah Kamaq Dina.
 
Penggunaan “pikaer anjoro” dan “pilapaq anjoro” adalah hal menarik. Penting untuk dikaji, khususnya bahan apa yang dikandungnya sehingga mujarab sebagai pelembut sutera. Meskipun sama-sama abu, abu dari kayu lain tak akan bisa menyamai abu “pikaer anjoro” dan “pilapaq anjoro” dalam melembutkan benang sutera.
Penggunaan bahan tersebut harusnya kita lindungi, yaitu mempatenkannya. Ini bisa dilalukan pihak Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat sebab bisa saja teknik ini juga digunakan pengolah sutera di kabupaten lain di Sulawesi Barat.

Sifatnya sama dengan penggunaan motif, yaitu memenuhi syarat untuk dipatenkan. Jangan sampai ada perusahaan atau industri mempatenkannya sehingga di masa mendatang para pengolah benang sutera di Mandar harus membayar untuk bisa menggunakan cara demikian. Memang itu sulit untuk terjadi (pihak industri mengklaim), tapi tak mustahil itu tak mereka lakukan. Tapi sebelum itu harus dikaji mendalam, mencari tahu apakah daerah lain juga melakukan hal yang sama.
10.40 | 0 komentar

Mosso di Antara Banua Kaiyyang Kerajaan Balanipa

 
Hampir semua kampung kuno di Sulawesi Barat berada di daerah perbukitan. Demikian halnya dengan negeri-negeri pembentuk Kerajaan Balanipa, semua berada di atas bukit, berkisar 100 – 300 meter di atas permukaan laut.
 
Napo dan Samasundu paling mudah diakses, jalan aspal yang bagus. Bisa lewat Limboro, bisa juga lewat samping SMA 1 Tinambung (Layonga). Dari jalan trans Sulawesi, Napo dan Samasundu berjarak 3 – 4 kilometer. Kurang lebih 3 kilometer dari Napo atau terus “ke dalam” lagi, Toda-todang berada. Yang relatif susah medan ke sana dan posisinya paling tinggi dari permukaan laut adalah Mosso.
 
Untuk menuju Mosso, gerbang aksesnya berada di Desa Tammangalle, di jalan yang sama menuju SMP 2 Balanipa. Dari jalan trans, Mosso berjarak sekitar 5 kilometer. Kadang jalan mulus dengan aspal butas dan cor beton, tapi lebih banyak rusak berupa ‘sirtu’ batu-batu atau era aspal Buton. Jalan menuju Mosso melalui punggung-punggung bukit, di atas situ akan nampak pemandangan indah.
Muncul pertanyaan mengapa nenek moyang kita dahulu mengapa mereka memilih tinggal di bukit dibanding dataran rendah?
 
Meski terasa jauh antara Mosso dengan Napo, Samasundu dan Toda-todang, sebab kalau naik motor jarak tempuh setidaknya 10 km, sejatinya mereka amat berdekatan. Ya, bila kita jalan kaki, kurang sejam waktu tempuh dari satu kampung ke kampung yang lain. Atau kalau ditarik garis lurus, antar empat kampung tersebut, jaraknya ialah Mosso – Toda-todang 1,7 km; Mosso – Napo 2,7 km; Napo – Toda-todang 1,8 km; dan Napo – Samasund 1,4 km.
Jadi, kakek nenek kita dulu tidak berjalan memutar menuju arah pantai lalu naik bukit lagi, tapi menelusuri jalan setapak, naik turun bukit dan lembah. Istilahnya kalau dibawa ke dunia pariwisata, “tracking”.
 
Secara umum, “Appeq Banua Kayyang” dan kampung-kampung kecil lainnya, misal Pallis, Panuttungang, Salarriq, dan lain-lain terdapat di punggung “Bukit Barisan” ala Balanipa, yaitu jejeran perbukitan dari Buttu Lambangang hingga Buttu Tammengundur. Salah satu bukit yang menjadi destinasi idaman “traveler” lokal Polewali Mandar adalah Buttu Bendara yang tingginya sekitar 500 dpl. Di atas puncak bukit ini, jika cuaca cerah, Parepare bisa kelihatan apalagi Polewali.
Mosso pada dasarnya berada di lembah atau berada di antara lereng bukit kecil. Sangat strategis sebagai kampung yang susah diakses musuh. Dari pesisir, Mosso tidak kelihatan. Beda dengan kampung tetangganya, yaitu Pallis. Dari perbatasan Polman – Majene, Pallis kelihatan jelas.
 
Tapi ketika naik di atas bukit yang banyak terdapat di sekitar Mosso, pengamatan bisa dikatakan sempurna. Khususnya ke kawasan pesisir, tepatnya muara Sungai Mandar. Membayangkan ketika masyarakat Mosso menyaksikan perahu yang membawa Todilaling memasuki Sungai Mandar untuk kemudian menuju Soreang (Kandeapi di Tinambung sekarang ini).
 
Pada bukit yang lain, Napo, Samasundu serta Toda-todang juga kelihatan jelas. Intinya, antar keempat kampung ini memang bertetangga. Ketika membandingkan dengan kampung-kampung di Kalumpang (Mamuju), nampak jelas kemiripannya. Sama-sama berada di perbukitan dan dulunya (antara Mosso dengan tiga yang lain) mereka adalah satu keluarga.
Kata “banua” atau “wanua” adalah kata kuno Austronesia yang berarti rumah. Kata ini masih digunakan oleh masyarakat Kalumpang dan Mambi, bahwa bahasa setempat untuk rumah adalah “banua”. Bandingkan dengan kerabat jauh kita di Samudera Pasifik yaitu masyarakat Maori yang juga menggunakan kata “whenua”.
 
Dulu “banua” adalah rumah, yang mana satu keluarga besar tinggal. Bukan satu kepala keluarga, tapi beberapa. Itu sebab, ketika kepala keluarga bertambah, ukuran rumah “banua” bertambah panjang. Praktek demikian pernah dilakukan masyarakat Kalumpang (rumah disebut “banua batang”), juga orang Dayak di Kalimantan.
 
Ketika “banua” tak bisa lagi menampung atau terjadi perubahan pola hidup (serta persaingan sosial), maka ada keluarga yang memisahkan diri. Mereka mendirikan “banua” tersendiri. Lama-lama, ada banyak “banua” di satu tempat sehingga kata “banua” bergeser, dari rumah menjadi sebuah kampung. Adapun kata kampung itu sendiri berasal dari Bahasa Portugis, yaitu “campo”. Dalam Bahasa Portugis, “campo” lingkungan permukiman di luar rumah-rumah Portugis.
Sebagai satu keluarga besar adalah modal utama sehingga Napo, Samasundu, Mosso dan Toda-todang bisa dengan mudah bersekutu melawan Passokkorang. Dalam Lontar Pattodioloang Mandar, Passokkorang berasal dari timur “Appeq Banua Kaiyyang”. Kemungkinan besar di sekitaran Sungai Maloso, sebab di situ (saat ini) juga ada nama tempat bernama Passokkorang. Dan mengapa aliansi antara Pitu Baqbana Binanga dengan Pitu Ulunna Salu dilakukan di Luyo (tak jauh dari Sungai Maloso) atau “Allawungang Batu di Luyo”, tentu tak lepas dari perlawanan terhadap Passokkorang.
 
Meski sekarang ini Mosso hanya berupa desa kecil yang berada di atas bukit, pada waktu lampau di masa Kerajaan Balanipa masih terbentuk, Mosso memiliki wilayah cukup luas. Malah, Pambusuang dan desa sekitarnya (yang sekarang ini penduduknya beberapa kali lipat dari Mosso) adalah daerah di bawah kekuasaaan Mosso. Pambusuang adalah “Anaq Banua-nya” Mosso.
 
Keunikan Mosso dibanding kampung-kampung kuno lain antar “Appeq Banua Kaiyyang” adalah di sana masih tersimpan pusaka paling terkenal Todilaling atau “maraqdia” (raja) pertama Kerajaan Balanipa, yaitu gong Taqbilohe. Gong tersebut adalah rampasan perang armada Kerajaan Gowa ketika melakukan penyerangan ke Kerajaan Lohe (salah satu nama tempat di Nusa Tenggara Barat).
Kerajaan Gowa beberapa kali menyerang Kerajaan Lohe tapi tak pernah takluk. Nanti penyerangan dipimpin I Manyambungi (nama lain dari Todilaling), barulah Kerajaan Lohe berhasil dikalahkan. Benda pusaka kerajaan tersebut diambil oleh armada Kerajaan Gowa sebagai simbol penaklukan.
 
Ketika I Manyambungi akan kembali ke kampung halamannya mengabdi, oleh Karaeng Gowa menghadiahkan kepada I Manyambungi rampasan perang paling berharga yang pernah diperoleh Kerajaan Gowa, yaitu gong Taqbilohe dan keris Pattarappang. Adapun keris Pattarappang adalah keris yang didapatkan I Manyambungi ketika memimpin armada Kerajaan Gowa dalam menaklukkan Pariaman (Sumatera Barat).
 
 
Sumber : http://ridwanmandar.blogspot.com
10.37 | 0 komentar

Budaya Menenun Sarung Sutera Mandar

Written By ian on Kamis, 25 Juni 2015 | 07.17



Menenun sarung sutera bagi orang-orang Mandar di Sulawesi Barat sudah menjadi kebiasaan atau tradisi yang diwariskan turun temurun, biasanya kaum wanita yang melakukan aktivitas ini, anak-anak-remaja, gadis, hingga perempuan dewasa menenun untaian benang sutera yang kemudian digabungkan hingga menjadi satu kain berukuran besar yang dapat dijahit dan dijadikan sarung. Aktivitas menenun dilakukan para gadis-gadis di suku ini ketika berada di rumah untuk mengisi kekosongan kegiatan, para gadis muda biasanya menenun untuk mengisi waktu saat siang hari, ada juga perempuan dewasa yang melakoni kegiatan ini untuk alasan motif ekonomi, mencari tambahan penghasilan bagi keluarga.

Aktivitas menenun bagi perempuan di Mandar, Sulbar adalah bentuk kerjasama yang baik antara suami dan istri, orang-orang Mandar banyak dikenal memiliki profesi sebagai nelayan, ketika sang suami pergi melaut, maka sang istri akan menunggu suami kembali dari laut, untuk mengisi waktu mereka kadang membuat sarung sutera yang ditenun secara tradisional, menggunakan alat tenun manual yang dipesan pada pembuat perangkat tenun. Siang hingga sore hari adalah waktu yang banyak digunakan para perempuan sebagai masa untuk menenun sarung, biasanya mereka melakukannya di kolong-kolong rumah panggung, rumah tradisional orang-orang Mandar banyak didominasi rumah panggung sehingga bagian bawahnya biasa digunakan sebagai tempat untuk menenun sarung bagi para perempuan. Jika anda mengunjungi beberapa rumah orang-orang Mandar di kabupaten Majene atau Polewali Mandar maka anda akan menemukan beberapa perangkat tenun tradisional yang disimpan rapi lengkap dengan alat-alat bantu untuk mengolah benang sutera. Bukan hanya dikolong rumah, kadang ada juga yang meletakkan perangkat tenunnya di bagian ruang rumah, namun dominan mereka menempatkan pernagkat tenun di kolong rumah, beberapa pertimbangan digunakan untuk alasan kolong rumah lebih sejuk dibandingkan menenun diruang rumah.

Namun seiring dengan perkembangan zaman dan modernisasi yang terjadi maka tempat menenun tidak lagi terbatas di tempat-tempat tertentu saja, bahkan di ruang kecil, misalnya di kios depan rumah, aktivitas menenun juga bisa dilakukan, salah satu contoh adalah seperti yang terlihat di salah satu dusun di desa Laliko, kecamatan Campalagian, kabupaten Polewali Mandar, sembari menjual premium eceran di kios depan rumahnya, seorang ibu muda juga menenun sarung sutera, ketika ditanyai mengenai jenis corak/motif sarung apa yang ia buat, ia cuma menjawab “tak tahu apa nama sureqnya” Namun dari motifnya terlihat pola warna sarung sutera yang sangat cantik, lembut dengan paduan warna cokelat dan kuning gading.

Akivitas menenun sarung sutera masih dijalankan oleh perempuan-perempuan Mandar utamanya di kabupaten Polewali Mandar, untuk tinggalan budaya yang masih terwariskan, dapat kita lihat terjadi di kabupaten ini, dari sini kemudian jejak-jejak budaya sarung sutera Mandar masih dapat dilihat dengan jelas. Dari contoh diatas, ada banyak sureq atau motif yang lahir, dan penamaan sureq/motif sangatlah beragam, kadang si pembuat tak tahu apa nama sureq yang dibuat, ia hanya mengikuti pola yang telah dibuat dan dijadikan panduan oleh pengkonsep sureq sebelumnya. Penamaan sureq juga beragam, biasanya mengikuti trend mode yang ada saat ini, mulai dari inspirasi kegiatan-kegiatan kebudayaan seperti “sandeq race” sehingga memunculkan sureq sandeq, trend lagu-lagu modern, tokoh tokoh yang sedang terkenal, dan trend mode pakaian terbaru.

Terlepas dari variasi sureq sarung sutera Mandar maka terdapat dua sureq klasik dan pakem yang dikenal, kedua sureq itu adalah “sureq salaka” dan “sureq padzadza” sureq salaka merupakan motif sarung dengan warna dasar dominan hitam, dengan corak kotak-kotak, biasanya sureq ini digunakan saat acara-acara kematian atau peringatan yang berhubungan dengan kejadian kesedihan di suku Mandar, lalu yang kedua adalah “sureq padzadza” motif sarung sutera Mandar dengan warna dasar merah dan corak kotak-kotak vertikal serta horizontal. Penggunaan sureq padzadza sendiri lebih fleksibel, biasanya digunakan untuk acara-acara tradisi pernikaha, syukuran, dan akikahan. Kedua sureq ini adalah sureq legenda yang jadi khas motif sarung yang dibuat oleh orang-orang di suku Mandar.

Budaya menenun sarung sutera di suku Mandar boleh dikatakan semakin menurun, gempuran produk sarung yang lebih praktis mendorong matinya produksi sarung, harga bahan benang sutera asli jugatidak sedikit mengurangi produksi sarung sutera asli, sementara rentang keuntungan yang diperoleh para penenun sarung sutera tidak banyak, para penenun hanya banyak menghabiskan waktu dan tenaga untuk membuat sarung, namun tingkat keuntungan tidak mencukupi, karena itu saat ini banyak penenun yang enggan menenun sarung sutera lagi, mereka lebih banyak melakoni pekerjaan yang lebih mendatangkan keuntungan dari sisi ekonomi.

Hasil tenunan sarung sutera Mandar yang berdedar di pasaran kini terbuat dari dua jenis bahan benang sutera, pertama adalah bahan dengan benang sutera asli dan yang kedua adalah bahan benang sutera imitasi, benang sutera asli adalah benang yang diperoleh dari penangkaran ulat yang menghasilkan benang sutera yang kuat, dengan pengolahan hingga berhari-hari, termasuk proses memintal, mewarnai, dan membuatnya dalam helaian kelompok benang sutera yang siap untuk ditenun. Sementara benang sutera imitasi adalah yang diperjual belikan di pasar-pasar tradisional dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan benang sutera asli. Mudah membedakan sarung sutera yang menggunakan benang sutera asli dan benang sutera imitasi, yang asli akan memberikan efek dingin di saat cuaca sedang panas, dan efek panas disaat cuaca yang dingin, sementara untuk benang sutera imitasi di saat cuaca panas maka sang pemakai sarung juga akan merasakan panas. Dari segi harga memang lebih murah tetapi dari kualitas cukup jauh.
Sarung sutera Mandar yang banyak beredar di pasaran saat ini lebih banyak menggunakan benang sutera imitasi, ini karena pilihan harganya yang murah dan terjangkau, mudah dimiliki oleh masyarakat dengan warna yang lebih beragam dan motif yang lebih bebas. Motif-motif sarung sutera Mandar seperti motif salaka dan padzadza cenderung monoton dan tidak bebas, karena itulah kemudian motif-motif yang lebih bebas dan keluar dari pakem salaka dan padzadza banyak diburu oleh konsumen penyuka sarung sutera.

Sulit memisahkan budaya penggunaan sarung sutera terutama di suku Mandar, Sulawesi Barat, budaya mengenakan sarung terutama untuk acara-acara tradisi sudah dianggap sebagai sebuah kewajiban dan tradisi dalam menghargai sesama manusia, bersarung sutera adalah bukti dan perlambang kesopanan dalam menghargai tamu dan menghormati sang tuan rumah pemilik hajatan. Bahkan, dahulu sarung sutera Mandar mencerminkan status sosial seseorang, apakah ia keturunan, raja, bangsawan, atau orang biasa, dahulu terdapat motif atau sureq yang hanya bisa dikenakan oleh kalangan-kalangan tertentu saja.

Budaya menenun sarung sutera di daerah Mandar, Sulawesi Barat jika dilihat dari sisi modernitas dan motif ekonomi mungkin akan ketinggalan dan tidak menguntungkan, tetapi dibalik itu ada tradisi turun temurun, nilai-nilai kesabaran, ketelatenan, ketelitian, dan kreatifitas yang diasah untuk para perempuan yang melakukan aktivitas menenun, ada jejak aktivitas budaya leluhur yang penuh dengan nilai-nilai tradisi kental yang tampak ketika menenun dijalani oleh perempuan Mandar.

Sumber : http://www.tommuanemandar.com
07.17 | 0 komentar

Satuni dan kecapi Mandar yang terlupa

Usianya boleh tua dan tarikan suaranya mungkin tak sekuat dulu lagi, namun semangat Satuni untuk terus memainkan kecapi Mandar yang hampir punah masih terus menyala.
Kecapi Mandar yang dimainkan oleh perempuan dikenal juga dengan nama kacaping tobaine, kecapi khas yang hanya bisa Anda temui di Kabupaten Polewali Mandar.
Pemainnya sudah sangat jarang dan diklaim hanya dua orang yang masih aktif memainkannya, yaitu Satuni dan kakak perempuannya, Marayama, yang berusia sekitar 81 tahun.
"Sudah turun temurun belajar, nenek-nenek saya, orang tua, sudah bermain kecapi dari dulu," kata Satuni menggunakan bahasa Mandar, saat ditemui BBC Indonesia pekan lalu.
Ingatan perempuan berusia 75 tahun itu masih tajam. Dia bercerita tentang pengalamannya ketika bermain kecapi di Benteng Rotterdam, Makassar, pada era penjajahan Jepang.
Dia juga mengaku sudah pergi ke mana-mana, tampil di tiap kecamatan di Polewali Mandar dan juga beberapa kali diundang ke Makassar untuk acara budaya dan pemerintahan. Dulu, menurut Satuni, upahnya hanya sekitar Rp300.

Lirik yang spontan

Awalnya kecapi Mandar dimainkan untuk "pelipur lara" untuk individu di rumah-rumah.
"Biasa dimainkan untuk menghibur diri sendiri, kemudian berkembang menjadi hiburan untuk acara-acara sunatan dan perkawinan. Kecapi dimainkan dari rumah ke rumah, lorong ke lorong," kata Dalif, periset budaya Mandar yang juga menjadi pendamping Satuni.
Bentuk kecapi perempuan berbeda dengan kecapi untuk laki-laki karena lebih melengkung seperti ayunan.
Kecapi macam ini kemudian diibaratkan seperti bayi karena ketika dimainkan, seniman duduk dengan kaki kiri yang mengangkat - seolah-olah menggendong dengan mendekatkan kecapi ke dada.
Untuk lagunya, ada tiga tema besar yang dibawakan, yaitu Tolo (yang berisi cerita kepahlawanan), Tere (nyanyian pujian pada orang), dan Masala (nyanyian religi).
Uniknya, lirik yang dibawakan tidak terbatas. Pemain kecapi bisa spontan membuat lirik berdasarkan apa yang dia lihat ketika tampil atau disesuaikan dengan tema acara.
Saat ini, tidak ada anak muda yang mewarisi permainan kecapi ini dan tradisi permainan kecapi perempuan di Mandar hanya menggantungkan nasibnya pada dua maestronya, Satuni dan Marayama.
07.06 | 0 komentar

Potensi Keparawisataan Kab. Polewali Mandar

Written By ian on Rabu, 24 Juni 2015 | 10.43

Kabupaten Polewali Mandar adalah sebuah kabupaten yang dalam peta administratif masuk ke dalam wilayah Sulawesi Barat melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.
Sebelum dinamakan Kabupaten Polewali Mandar pada tahun 2004, daerah ini bernama Polewali Mamasa (Polmas) yang secara administratif berada dalam wilayah Sulawesi Selatan. Setelah terjadi pemekaran Kabupaten Mamasa sebagai kabupaten sendiri, nama kabupaten Polewali Mamasa pun diganti menjadi Kabupaten Polewali Mandar.
Kabupaten Polewali Mandar memiliki sejumlah kekhasan, seperti kekayaan alam dan kebudayaan sebagai potensi pariwisata yang besar dibandingkan dengan daerah lain di Sulawesi Barat. Diantara potensi besar tersebut adalah, wisata bahari, wisata alam, wisata budaya dan kerajinan yang tersebar hampir disemua kecamatan. Mulai dari wisata bahari kepulauan dan pesisir pantai yang sangat indah dan alami. Ditambah dengan wisata pedalaman yang memiliki wisata tirta, wisata ritual dan situs hingga wisata sosial dan publik yang juga menawarkan sejuta keindahan kebudayaan dan alam yang eksotis.

Bagi siapapun pejalan budaya dan petandang wisata tentu akan pulang membawa sejuta kesan yang tak dapat dilupakan. Sebab segera setelah matahari terbit dari ujung timur, maka hamparan kilauan pasir putih disepanjang pantai ditambah aktivitas para nelayan yang turun melaut atau pulau dari laut, mulai dariKKecamatan Binuang hingga Kecamatan Tinambung akan membentang panorama nan eksotis yang menawarkan sejuta kedamaian sekaligus penegasan akan ketegaran para pelaut ulung Mandar. Menyusur samudera dengan Sandeq (perahu bercadas khas Mandar).
Akhirnya bersiap-siaplah untuk menjadi To Mandar (orang Mandar). Dengan datang dan meneguk wai marandanna (air putih-nya) orang mandar di Kabupaten Polewali Mandar, ditemani simpul senyum warga masyarakat ramah dan setiap saat siap menjadi penyaksi dan teman setiap kedatangan pejalan budaya dan wisatawan.
Mewakili seluruh staf Pemerintah Kabupaten Polewali Mandarmenyatakan akan memberikan pelayanan kepada para petandan budaya dan wisatawan. Terlebih, bantuan kepada investor untuk berinvestasi di daerah yang tengah mengembangkan investasi di berbagai bidang. Utamanya bidang perdagangan, pertambangan dan gas yang ke depan akan kian kompetitif, mengikat kekhasan kekayaan potensi yang baik.
Selamat datang di Kabupaten Polewali Mandar.

Kabupaten Polewali Mandar dengan luas wilayah 2.022.30 km2 yang terbagi dalam 15 kecamatan terletak di antara 20 40″303�00�LU dan 11��040�27�BT yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Mamasa do Sebelah Utara, Kabupaten Pinrang di Sebelah Timur, Selat Makassar Sebelah Selatan dan Kabupaten Majene di Sebelah Barat.
Ditakdirkan memiliki beragam keunikan dan kekayaan alam yang melimpah, mulai dari kekayaan kebudayaan, kekayaan alam pesisiran, bahari dan pedalaman. Serta karya cipta seni budayayang merupakan representasi pintal nilai-nilai kearifan orang Mandar yang melekat pada setiap masyarakatnya.

Pemerintah Mandar sangat menyambut positif diterbitkan buku profil kebudayaan dan pariwisata ini. Sebab bagi kami, ini adalah bahagian dari cara Kami mentafsir konsep dasar kepemimpinan Mandar yang memahami� tarrare do alloo tammatindo di wongi mappikkirri atuowanna pa�banua� (gelisah di siang hari, tak lelap di malam hari, memikirkan prima untuk warga masyarakat). Yang lalu terjewantahkan ke dalam visi kabupaten yang berorientasi kepada terwujudnya masyarakat Kabupaten Polewali Mandar bernafaskan ajaran agama dan nilai-nilai budaya sipamandar ( saling menguatkan).
Nah, tentu hal ini tidaklah berlebihan, sebab kekayaan kebudayaan, seni dan keragaman eksotika alam di Polewali mandar ini adalah potensi dan aset yang tak ternilai. Utamanya dalam melecut minat investor, para pejalan budaya dan wisatawan untuk berivestasi dan bertandan ke Kabupaten Polewali Mandar.

Oleh  Dinas dan Kebudayaan Parawisata Mandar bahwa keistimewaan, keunikan dan kekhasan panorama alam yang teramat sangat alami dan eksotis, kekhasan kebudayaan, situs dan ritual yang memikat di warnai seulas senyum Kami bersama warga Kabupten Polewali Mandar. Melihat dari dekat keistimewaan perahu Sandeq. Perahu bercadik yangn memintal peradaban degan mengarungi gelombang samudera sebagai penegasan bahwa pelaut Mandar, benarlah pelaut yang ulung. Atau tentang pintal sarung sutera Mandar penegasan komitmen kesetiaan perempuan-perempuan Mandar yang telah mendunia melintasi batas-batas area budaya. Serta situs penegasan hukum dan demokrasi yang telah mengantarkan Mandar kepada keemasan sejarah sebuah peradaban. Sebuah entitas agung nan luhur.

Dengan pelayanan prima tersebut, Pemerintah di Mandar siap menunggui untuk menemani para pejalan budaya, wisatawan mancanegara dan domestik untuk melihat dan merasakan kekhasan kami dengan setumpuk pasilitas-pasilitas pelayanan sebagai kabupaten yang telah siap untuk didatangi. Sehingga, sekali lagi, dengan rendah hati Kami menyampaikan, bahwa segera setelah matahari terbit dari balik gulungan gelombang dan ombak teluk Mandar, Kami telah siap mengantarkan anda hingga matahari terbenam di puncak-puncak bebukitan yang menawarkan sejuta eksotika. Meninggalkan jejak-jejak yang tidak terlupakan, sebagai sebuah kehangatan. Bukan sebagai mimpi, tetapi sebuah kenyataan kehangatan kebudayaan tanah Mandar.



POTENSI SUMBER DAYA ALAM MARITIM MANDAR

Kabupaten Polewali Mandar, sebagai kabupaten yang memiliki kekhasan kebudayan maritim menjadi tidaklah lengkap jika tidak melihat dan mandatangi pulau-pulau yang bertebaran di sepanjang pantai Polewali. Tercatat sedikitnya ada 6 pulau-pulau kecil mulai dari Pulau Battoa, Pulau Tangnga, Pulau Tosalama�, Pulau Gusung Toraja dan Pulau Karamasang serta Pulau Panampeang yang bisa dijangkau dengan menggunakan kendaraan perahu motor milik warga yang menjangkar di Kecamatan Binuang dan Kecamatan Polewali dengan jarak tempuh sekitar setengah jam perjalanan. Yang menarik dari pulau ini, selain keindahan alamnya, beberapa diantaranya pulau-pulau ini hingga kini belumlah berpenghuni. Sehingga cukup refresentatif untuk ditempati bersantai atau rekreasi bersama keluarga ditemani semilir angin laut dan debur gelombang yang lembut, tenang dan berahabat seraya memancing, berjemur dan berenang.

Selain beberapa pulau ini tidak berpenghuni, khusus pulau � pulau yang berpenghuni juga menawarkan beragam aktivitas masyarakat khas masyarakat pesisiran yang menarik dan selalu tampil dengan seulas senyum ramah menyambut siapa saja yang datang bertandang ke tempat ini. Belum lagi flora dan fauna laut yang juga menawarkan keindahan tersendiri. Ditambah denga belantara hutanbakau yang beberapa diantaranya meliuk dan menambah keindahan bibir pantai pulau-pulau ini.
Sebelum mencapai pulau-pulau ini, utamanya jika perjalanan laut yang ditempuh menyusuri peisir pantai dan dimulai dari Kecamatan Polewali, seain aktivitas penangkapan ikan secara tradisional akan banyak ditemui, pemandangan bagang yang berdiri tegak diatas permukaan laut pun akan banyak dijumpai. Termasuk aktivitas penambak rumput laut yang bertebaran di sepanjang pantai. Seakan menegaskan, betapa karibnya masyarakat sekitar pulau ini dengan laut. Sebagai tempat mereka untuk menafkahi hidup dan mengisi waktu dalam kehidupan mereka.
Aktivitas lainnya yang juga akan sangat banyak ditemui disepanjang perjalanan menuju pulau-pulau tersebut, adalah beberapa warga masyarakat yang mencari nafkah dengan menangkap ikan menggunakan jala atau alat pancing dari atas perahu-perahu tradisional milik mereka. Sehingga, selain keindahan alam laut yang akan kita tenui dalam perjalanan menyusuri pulau-pulau ini, kita juga akan diperkenalkan denga beragam jenis perahu-perahu tradisonal masyarakat sekitar pulau ini. Mulai dari soppe-soppe, lepa-lepa, ba,go dan lain sebagainya yang kesemuanya itu, mereka gunakan untuk mencari nafkah di lautan.

Palippis sebagai salah satu objek wisata pesisir pantai juga menawarkan keindahan panorama alam laut yang sangat eksotis. Palippis yang terletak di Desa Bala Kecamatan Balanipa ini sekitar 20 Km dari ibu kota Kabupaten Polewali Mandardan terletak di jalan poros Provinsi Sulawesi Barat ini menjadi kian menarik, sebab selain hamparan pasir putih yang memanjang, di sepanjang pantai keindahan alam perbukitan dan batu karang dan tebing dan goa alam pun tertawarkan. Utamanya di Lawuang yang memanjang dan bersambung dengan pantai Palippis dengan garis pantai kurang lebih sepanjang tiga kilo meter juga menawarkan eksotika tebing karang yang menyerupai ngarai.


PERAHU SANDEQ

Perahu Sandeq juga adalah sebuah ikon kehebatan maritim masyarakat mandar, cukup beralasan memang, sebab kehebatan para pelaut Ulung Mandar dibuktikan melalui pelayaran yang menggunakan perahu bercadik ini. Dalam keseharian perahu Sandeq digunakan untuk mencari nafkah di laut yang terdalam sekalipun. Tercatat dalam sejarah perahu Sandeq telah terbukti sanggup berlayar hingga ke Singapura, Malaysia, Jepang dan Madagaskar.
Sebab selain ia memiliki bentuk yanng elok nan cantik dengan panjang kurang lebih 9-16 meter dengan lebar 0,5-1 meter juga mampu dipacu hingga kecepatan 15-20 Knot atau 30-40 Km per jam. Sehingga perahu layar yag cantik dan tercepat juga mampu menerjang ombak yang besar sekalipun. Beberapa even perlombaan pun kerap digelar untuk membuktikan ketangguhan perahu ini. Untuk melihat dari dekat proses pembuatan perahu cadik yang berlayar ini pun dapat ditemui di Pambusuang Kecamatan Balanipa.

ALAM PEDALAMAN

Selain objek wisata alam maritim, perjalanan ke Kabupaten Polewali Mandar juga terasa tidak lengkap jika tidak menempuh perjalanan wisata ke arah pedalaman yang juga menawarkan beragam paket keindahan khas masyarakat agraris. Seperti di daerah Kelapa Dua Kecamatan Andreapi sekitar 10 Km dari Polewali juga dari atas puncak hamparan sawah bersusun milik warga juga menawarkan keindahan yang sangat alami. Atai di Mosso Kecamatan Balanipa serta di Alu Kecamatan Alu dengan khas jalannya yang meliuk dan berberbelok-belok dan dari puncak daerah pegunungan ini panorama matahari tenggelam juga dapat ditemukan menghilang di balik pegunungan dengan tempias cahaya yang sangat cantik. Ditambah panorama liukan sungai-sungai yang tampak eksotik di atas pegunungannya.

WISATA TIRTA
Di daerah pedalaman selain wisata alam dan jenis buah-buahan yang dapat dinikmati pada musim-musim tertentu, seperti durian, langsat dan rambutan sebagai potensi agro wisata. Tak kalah menarinkya, wisata tirta seperti; air terjung bersusun Indo Rannoang dan pemandian Limbong, keduanya di Kecamatan Andreapi. Selain itu, objek wisata tirta lainnya juga dapat ditemui di Biru Kecamatan Binuang, atau Limbong Miala dan Limbong Kamandang di desa Kurra Kecamatan Tapango.
Ditambah objek wisata tirta Sekka-sekka yang terletak di Batupanga Kecamatan Luyo, sekitar kurang lebih 5 Km dari Polewali. Kendati tidak alami, sebab ai merupakan proyek bendungan irigasi, tetapi ia cukup menawarkan panorama yang indah, sebab ditempat ini acara rekreasi pun dapat berlangsung meriah. Sebab selain dapat digunakan sebagai tempat pemandian dan olah raga berenang, acara memancing ikan air tawarpun dapat dilakukan ditempat ini.


WISATA RITUAL


Yang cukup khas dari masyarakat Mandar di kabupaten Polewali Mandar adalah beragamnya ritual-ritual adat yang juga menawarkan kehangatan sekaligus kemegahan sebuah kebudayaan. Karena pada ritual-ritual adat tersebut, selain dapat diamati sebagai peristiwa kebudayaan. Juga secara bersamaan dapat tercermati nilai-nilai luhur yang dianut oleh masyarakat Mandar. Seperti, ritual niparakka�I (pelantikan adat) misalnya. Yang berhak melakukan pelantikan adalah para penghulu adat yang mewakili atau merefresentasi warga masyarakat. Demikian pula bagi yang dilantik, juga mesti telah melalui ritual assipulu-pulungan (musyawarah) untuk menyeleksi appena ( watak) dan pangandaranna (kemampuan) yang lalu dulanjutkan dengan upacara assitaliang (pengucapan) yang dilakukan di depan warga masyarakat dan para penghulu adat. Kendati ritual ini agak jarang ditemukan kecuali pada waktu-waktu tertentu, namun ia cukup menawarkan sebuah fenomena kebudayaan masayarakat yang berdiam di Polewali Mandar.

Ritual lainnya adalah mappatamma (khataman) yang digelar bersamaan dengan pammunuang (maulidan). Yang menarik, sebab ritual serupa ini rutin digelar tiap tahunnya pada bulan-bulan Maulidan dan hampir dilakukan di semua kecamatan di Kabupaten Polewali Mandar, seperti di Tinambung, Balanipa dan Campalagian, serta Limboro dengan daya tarik utamanya, hadirnya perempuan-perempuan Mandar yang cantik nan kemayu menunggangi kuda pattu�du (menari) ditambah dengan pernak-pernik (telur yang ditusuk serupa sate) yang menghiasi ritual ini. Sedang kuda menari sendiri juga acapkali pula ditampilkan pada ritual-ritual tradisi lainnya seperti tomesunna� (sunatan), pappalikka (perkawinan), dan acara syukuran atau hajatan serta kenduri budaya lainnya. Lengkap dengan tetabuhan rebana dan tembang kalindada (sastra lisan Mandar) yang ditembangkan di depan kuda menari tersebut.

WISATA SITUS

Situs seakan menjadi kekuatan lain dari keluhuran kebudayaan masyarakat Mandar yang dapat ditemui dibanyak tempat di Kabupaten Polewali Mandar sebagai pusat kerajaan Mandar saat mencapai Lpuncak keemasannya. Salah satu situs yang sangat monumental adalah, situs atau makam Todilaling atau Imanyambungi mara�dia (Raja) pertama Balanipa. Situs ini dapat ditemui di atas puncak pegunungan dibawah rimbunnya pohon beringin di Napo Kecamatan Limboro sekitar 5 Km dari jalur jalan poros Provinsi Sulawesi Barat.
Sahdan ditempat ini, beberapa perempuan penari dan penabuh rebana serta pengikut setianya dimasukkan ke dalam liang untuk menghibur raja yang telah tinggal jasad itu. Sebagai makna loyalitas dan rasa turut berbelasungkawa yang terdalam. Sehingga menurut cerita yang melegenda, hingga tujuh hari tujuh malam pasca dikebumikan, warga yang ada di sekitar makam masih dapat mendengar suara tetabuhan rebana dari dalam liang makam itu. Hingga akhirnya sunyi senyap, setelah semua pengikut setia sang raja tersebut menghembuskan napas terakhirnya.
Situs lain yang juga menarik untuk dikunjungi adalah situs yang terletak di Alu Kecamatan Alu yang merupakan Makam Ammana Pattowali, salah satu tetua leluhur dan pejuang Mandar. Yang menarik dari situs ini, karena ia tidak dikubur ke dalam tanah, tetapi berdiri tegak dan konon jika situasi dan suhu kampung tidak tenang, semisal akan ada bencana atau keributan di Mandar. Maka situs kuburan ini akan bergerak dan bergeser posisinya. Tetapi akan kembali tegak, ketika kedaan kembali normal. Situs ini terletak sekitar 15 Km ke arah Alu dari jalan poros Kecamatan Tinambung. Untuk sampai di tempat ini, dapat dilalui dengan kendaraan roda empat dan harus melewati jalan berkelok melalui pegunungan dan sepanjang pesisir sungai Mandar.
Selain itu, situs lainnya juga dapat ditemui tidak jauh dari Todilaling di Tammajarra, sekitar 4 Km dari jalan poros, juga diatas puncak bukit adalah situs makam Tomepayung raja kedua kerajaan Balanipa. Yang menarik dalam kawasan situs ini adalah, adanya bala tau (arena sabung orang) yang terbuat dari batu persegi empat dengan luas kurang lebih 4 x 5 meterpersegi. Sebagai tempat eksekusi sengketa yang melibatkan laki-laki. Cukup dengan dibekali keris kedua orang yang bersengketa itu lalu dimasukkan ke dalam arena tersebut. Diyakini, yang terkalahkan sudah pasti berdadi pihak yang salah. Selain arena bala tau, di tempat ini juga terdapat pula tiga tungku besar yang kono adalah tempat untuk mengeksekusi perkara yang melibatkan kaum perempuan. Dengan jalan, kedua pihak yang berperkara memasukkan tanggannya ke dalam tungku yang berisi air mendidih. Hal ini juga diyakini, bagi siapa yang tangannya melepuh maka dialah yang berada di pihak yang bersalah.
Peninggalan situs lainnya, masih pada jaman kerjaan Tomepayung adalah, situs batu yang dikenal sebagai allamingan batu assitaliang yang terletak di Kecamatan Luyo. Sekitar 8 Km dari jalan poros Kecamatan Mapilli. Situs ini adalah simbol dari ikrar persatuan tujuh kerajaan do pedalaman dan tujuh kerajaan di pesisir yang menyatu dalam sebuah komfederasi Mandar abad ke-18.

Wiasata lain yang dapat dikunjungi dan tak kalah menariknya di Kabupaten Polewali Mandar adalah
wisata peninggalan sejarah islam. Seperti mesjid Nuruttaubah atau yang lebih dikenal dengan Mesjid Imam Lapeo peninggalan atau warisan Imam Lapeo. Mesjid ini terdapat di Lapeo Kecamatan Campalagian dan berada di jalur jalan poros Provinsi Sulawesi Barat. Sekitar 30 Km dari Polewali. Di samping mesjid ini pulalah makam Imam Lapeo, salah seorang toko sufistik Mandar yang sangat dalam ilmu keagamaanya berada.

Selain itu, mesjid yang juga monumental bagi sejarah perkembangan islam di Mandar adalah, mesjid tua yang terletak sekitar 2 Km dari jalur jalan provinsi. Terdapat di Desa Lambanan Kecamatan Balanipa. Menurut sejarahnya, mesjid ini didirikan sekitar tahun 1600 M.
Sejarah pengembangan islam yang monumental di Mandar juga dapat ditemui pada makam Syech Al Maruf salah satu penganjur agama Isalam yang pertama di Tanah Mandar yakni sekitar abad XVI. Terletak di Pulau Tosalama Ammassangan Kecamatan Binuang, yang untuk mengunjunginya ditempuh melalui perjalanan laut dengan menggunakan perahu motor, waktu perjalanan sekitar 15 menit dari Polewali. Sebagai penganjur agama Islam yang memiliki kedalaman ilmu agama yang sangat luas, maka Sech Al Ma�ruf lalu kemudian dijuluki To Salama (yang dikeramatkan ). Sebagaimana nama tempat beliau dimakamkan.

PAKAIAN ADAT

Pakaian adat masyarakat Mandar, utamanya yang ada di Polewali Mandar juga sangatlah beragam. Namun bagi orang Mandar untuk mengenakan pakaian adat tertentu, mesti mengikuti etika dan tradisi yang telah dianut secara turun temurun. Salah satu pakaian adat Mandar yang cukup pupuler adalah, jenis baju pokko dan passigar. Pakaian adat ini biasanya dikenakan pada acara perkawinan oleh pengantin atau pada saat perempuan menunggang kuda pattudu (menari). Juga pada saat dilangsungkan acara-acara tradisi kenduri budaya lainnya, lengkap dengan pernak -pernik perniknya seperti dali (subang), gallang (Gelang) dan sebagainya.

TRANSPORTASI TRADISIONAL
Yang tak kalah menariknya dicermati saat berkunjung ke Polewali Mandar adalah, kendaraan
tradional sebagai alat transportasi yang hingga kini masih banyak digunakan oleh warga. Bagi pelancong juga dapat mengendarainya kendaraan-kendaraan tradisional ini seperti bendi yang digunakan dari satu desa ke desa lainnya. Atau kuda tunggangan untuk menuju beberapa desa yang medannya agak berat di beberapa daerah pedalam. Hingga perahu motor maupun perahu layar yang juga banyak digunakan oleh warga yang menyeberang ke pulau-pulau kecil kecil di Polewali. Bahkan sekedar untuk memancing ikan dan kegiatan rekreatif lainnya. Sehari-hari kendaraan serupa ini digunakan warga untuk aktivitas pencaharian nafkah di laut khusus untuk daerah-daerah pesisiran.

AKTIVITAS SOSIAL DAN PUBLIK
Aktivitas warga masyarakat Mandar yang ada di Polewali Mandar yang juga cukup menarik dinikmati adalah aktivitas tradisional dalam mencari nafkah di laut maupun di sungai. Mulai dari memancing ikan di laut atau di sungai, atau sekedar mendayung lepa-lepa (jenis perahu tradisional) untuk menambang pasir di sungai Mandar. Aktivitas ini hampir bisa ditemui di sepanjang pesisir pantai yang memanjang mulai dari Kecamatan Binuang hingga Kecamatan Tinambung. Kecuali penambangan pasir dengan menggunakan alat angkut lepa-lepa hanya dapat ditemui di sepanjang sungai Mandar yang membelah Kecamatan Tinambung dan berada di jalur jalan poros Provinsi Sulawesi Mandar.

KONSEP NILAI SIWALI PARRI
Hal lain yang sangat menarik dan cukup unik di Mandar adalah meletaknya konsep nilai siwaliparri. Konsep siwaliparri sendiri berangkat dari pemahaman akan kebersamaan dan kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam menafkahi kehidupan. Hal ini tergambar dari begitu banyaknya perempuan-perempuan Mandar, utamanya ibu-ibu rumah tangga baik di wilayah pedalaman maupun di pesisir yang ikut membantu suaminya dalam mengerjakan kegiatan yang bernilai ekonomi. Untuk mendukung kehidupan rumah tangga mereka. Mulai dari perempuan menambang pasir di sungai Mandar Tinambung, penjemur gabah, pengambil makanan ternak dan pemikul air enau. Untuk aktivitas serupa inidapat ditemukan hampir ditemukan disemua Kecamatan di Kabupaten Polewali Mandar. Hinga kini, konsep ini masih terus dipraktekkan ditengah-tengah masyarakat sebagai sebuah nilai budaya luhur orang Mandar.

PEREMPUAN YANG BEKERJA

Sehingga dalam keseharian masyarakat Mandar, utamanya yag berdiam di wilayah Kabupaten Polewali Mandar, pemandangan perempuan-perempuan yang bekerja menjadi sesuatu yang sangat akrab. Mulai dari pembuat gula aren, membuat kasur kapuk, atau perempuan pemecah kemiri serta perempuan pemintal tali. Untuk mengamati aktivitas perempuan-perempuan Mandar ini dapat ditemukan di hampir semua kecamtan. Tetapi untuk aktivitas-aktivitas tertentu, seperti pembuat gula areng dapat ditemukan di daerah pedalaman seperti di Kecamatan Balanipa, Limboro dan Alu serta di beberapa kecamatan lainnya. Demikian pula halnya dengan pembuat kasur kapuk, juga ditemukan di Kecamatan Wonomulyo dan Limboro. Sedangkan perempuan pemintal tali dapat ditemukan di Kecamatan Balanipa dan Limboro.

DUNIA ANAK LAUT DAN SUNGAI
Untuk melengkapi kunjungan kita ke Polewali Mandar, di beberapa tempat di dunia permainan anak -anak Mandar juga menawarkan nuansa lain yang menarik, bahkan sayang untuk dilewatkan. Betapa tidak, dari aktivitas permainan mereka, dapat ditemukan kenyataan lain, betapa karibnya mereka dengan alam tempat mereka hidup. Sehingga pemandangan anak-anak yang memancing di pinggir pantai adalah pemandangan yang akan sangat pengasyikkan. Atau di wilayah pedalaman maka mata kita akan dipertemukan dengan dunia riang anak-anak Mandar yang bermain sambil mandi atau mereka yang mengambil air sungai untuk membantu keluarga. Bahkan bisa jadi, akan membuat kita untuk ikut serta menikmati dunia riang mereka. Pemandangan serupa ini dapat kita temukan hampir disemua wilayah pesisiran dan di wilayah pedalaman. Utamanya di sungai Mandar yang bermuara di Kecamatan Tinambung.

PASAR TRADISIONAL

Salah satu objek kunjungan yang tak kalah menariknya di Polewali Mandar adalah, pasar-pasar tradisional. Objek ini sangat menarik, sebab beberapa hasil kerajinan dan keterampilan masyarakat Mandar yang bercita rasa tradisional dengan gampang dapat di temukan di tengah-tengah pasar tradisional. Tidak terkecuali makanan khas tradisional mandar juga dapat ditemuka, bahkan dapat dicicipi di pasar-pasar yang juga merata ada hampir di semua kecamatan di Polewali Mandar.

TANGAN TANGAN YANG TERAMPIL

Tak kalah dengan daerah lain, beragam hasil kerajinan dan keterampilan tangan yang bercita rasa artistik tradisional juga dapat dijumpai di Polewali Mandar. Mulai dari proses pembuatan perahu, pembuatan tembikar atau gerabah hingga pada pembuatan keris, parang, jembiah dan senjata tajam lainnya. Khusus pembuatan perahu bermotor maupun yang tradisional dapat ditemui di sepanjang pesisir pantai Kecamatan Campalagian hingga Kecamatan Balanipa dan Tinambung. Untuk pembuatan gerabah atau tembikar dapat pula ditemui di Kecamatan Balanipa. Demikian pula halnya para pandai besi yang menempah keris, jembiah dan senjata tajam lainnya dapat pula ditemukan di Kecamatan Campalagian.

SISI LAIN

Sisi lain Kabupaten Polewali Mandar yang juga menarik untuk dimasukkan dalam agenda kunjungan adalah, menengok aktivitas masyarakat kabupaten ini yang memiliki kekhasan tersendiri bagi pejalan budaya dan petandan wisata. Seperti aktivitas nelayan atau penangkap ikan di pesisir dan aktivitas turun sawah untuk yang tinggal di daerah yang memiliki areal persawahan. Sedangkan bagi masyarakat yang tinggal didaerah bantaran sungai akan ditemukan aktivitas mereka ketika turun ke sungai sekedar untuk mandi atau bermain-main. Kesemuanya ini tentu menjadi objek yang juga menarik. Termasuk aktivitas mencari kutu di depan tangga rumah warga diwakt-uwaktu senggang mereka.

KESENIAN TRADISIONAL

Salah satu objek wisata di Polewali Mandar yang juga menarik adalah, objek kesenian tradisional mereka. Beberapa kekayaan kesenian tradisional ini dapat dilihat dari kepandaian para seniman tradisi dalam menabuh perkusi jenis rebana dan gendang. Untuk mengamati kegiatan berkesenian mereka dengan pola dan irama khas Mandar dapat dilihat pada saat dilehat acara kenduri budaya atau pesta perkawinan dan acara syukuran. Bahkan acara serupa dapat pula ditemui pada pementasan-pementasan seni taradisional yang memang diperuntukan untuk pergelaran kesenian tradisional masyarakat Mandar.

SENI MUSIK TRADISONAL

Selain kepandaian seniman tradisi dalam menabuh perkusi beberapa bentuk kesenian tradisional yang dapat ditemui di Polewali Mandar adalah, kepandaian mereka dalam memainkan kecapi Mandar, keke (alat tiup yang terbuat dari bambu), gongga (alat pukul terbuat dari bambu), calong (alat pukul yang terbuat dari bilah bambu dan batok kelapa). Juga kesenian jenis sayang-sayang yang kesemuanya itu biasa dipertontonkan pada saat digelar acara-acara perkawinan, syukuran dan pergelaran khusus seni pertunjukan.

ALAT MUSIK TRADISI DAN DRAMA

Selain alat-alat musik khas Mandar di Kabupaten Polewali Mandar, beberpa bentuk kesenian pun dapat dinikmati seperti pertunjukan seni drama tradisional yang alur ceritanya dan setting penokohannya beranjak dari latar belakang cerita kebudayaan dan tradisi masyarakat Mandar. Karya-karya seupa ini biasanya disusun oleh beberapa kelompok komunitas kesenian rakyat yang memang ajang melakukan aktivitas pertunjukan kesenian rakyat.

SENI TARI DAN GERAK


Seni tari dan gerak juga akan menjadi ikon tersendiri masyarakat Mandar di Kabupaten Polewali Mandar, yang menarik untuk dinikmati sebagai persembahan kesenian tradisional. Mulai dari tari tradisional yang menawarkan pergelaran seni tari dengan konsep dasar tari tradisional Mandar seperti Pattu�du hingga pada seni tari yang bersifat eksploratif seperti tari kreasi lainnya. Demikian pula seni gerak lainnya seperti pa�dego dan pa�macca (keduanya sejenis pertunjukan gerak tradisi Mandar) tetapi menyuguhkan gerak-gerak yang indah sehingga layak untuk dikonsumsi sebagai pertunjukan kesenian.

SENI KRIYA DAN ARSITEKTUR


Bidang lain dari kesenian khas Mandar yang juga dapat diamati di Polewali Mandar adalah beberapa bentuk ukiran. Mulai dari patung, hingga bentuk-bentuk ukiran untuk hiasan dan rumah-rumah panggung milik warga masyarakatnya. Ada ciri pahatan dan ukiran Mandar yang tersisa disetiap hasil aktivitas kesenian ini. Membuat ia menjadi menarik dan berbeda dengan daerah-daerah lainnya, sebab memiliki nilai dan makna tersendiri sebagai bagian dari pemahaman konsep dasar seni ukir atau pahat dan arsitektur orang Mandar.

MAKANAN KHAS

Makanan khas juga menjadi bahagian lain yang menarik untuk dinikmati pada kunjungan setiap orang yang datang ke Kabupaten Polewali Mandar. Ada banyak makanan khas yang tentu tidak akan ditemui di daerah lain. Untuk menikmati makanan khas maka dapat diperoleh di kedai-kedai rakyat yang terdapat di beberapa kecamatan di Polewali Mandar yang untuk mendapatkannya juga langsung dapat dinikmati di tempat pembuatannya. Sekaligus melihat dari dekat proses pembuatannya.
Selain di kedai-kedai rakyat di kampung-kampung, makanan khas Mandar juga dapat diperoleh dibeberapa tempat penjualan di pinggir jalan yang memang telah dipersiapkan menjadi tempat persinggahan bagi para pejalan yang langsung dapat menikmatinya. Seperti di Kecamatan Campalagian dan Tinambung. Selain itu, makanan khas masyarakat Mandar juga dapat diperoleh di beberapa pasar tradisional yang bertebaran hampir di semua kecamatan di Kabupaten ini.

SOUVENIR


Selain penganan atau makanan-makanan khas, untuk melengkapi kunjungan para petandang budaya dan pariwisata di Polewali Mandar. Juga tertawarkan beberapa bentuk dan jenis souvenir yang tersedia di beberapa pasar tradisional. Mulai dari sarung sutera Mandar yang cukup digemari oleh para pendatang dengan keragaman corak dan warna tergantung kepada status penggunanya. Juga bentuk souvenir lain yang berupa keterampilan miniatur perahu sandeq, kecapi Mandar dan beberapa jenis kap lampu yang bahan dan bentuknya diambil dari potensi alam dan budaya Polewali Mandar. Sehingga melakukan perjalanan ke Polewali Mandar, barang bawaan sebagai oleh-oleh bahkan kado perjalanan dari Tanah Mandar kiranya cukup untuk dibagi-bagi sebagai bukti bahwa benar kita telah berkunjung ke Tanah Mandar.

Segera setelah perjalanan seharian telah terlewatkan di Kabupaten Polewali Mandar. Maka matahari akan kembali ke peraduannya dan mengantarkan setiap pelancong dan pendatang untuk istirahat dan tertidur, seraya mengingat-ngingat kembali betapa indah perjalanan seharian di Tanah Mandar seakan melengkapi sebuah kenyataan bahwa betul kita yang pejalan budaya dan petandang wisata telah menjadi orang Mandar yang sungguh-sungguh orang Mandar. Yang bergumul dan menyatu dengan Mandar dengan segenap lekuk-lekuk irama kebudayaan dan alamnya yang indah nan eksotik. Dengan senyum masyarakat Mandar yang selalu siap merekah kepada setiap pendatang.

Dengan ditemani matahari yang akan tenggelam dan kembali keperaduannya meninggalkan semburatnya dengan warna cantik diatas puncak-puncak perbukitan dan pegunungan. Pengantar lelap dalam tidur panjang di tengah alam Mandar, sebab keesokan harinya kita akan terbangun bersama untuk menatap Polewali Mandar. Menatap Tanah Mandar dengan keanekaragamannya dan keluhuran budayanya sebagai sebuah entitas agung juga luhur.

Sumber : www.polmankab.go.id/pariwisata/
10.43 | 0 komentar

Opini Simpel Seputar Pengelolaan Objek Wisata Pantai Palippis

Written By ian on Senin, 04 November 2013 | 18.11

Pantai Palippis, Polewali Mandar bukan "anak baru", objek wisata ini sudah tergolong "remaja" bahkan bisa dikatakan cukup "dewasa" tetapi masih saja belum dapat dimaksimalkan potensinya. Entah kemudian kita akan menyalahkan siapa atas kondisi Palippis saat ini, ya, ia tidak cukup bersih menurut saya, sama seperti masalah yang menghantam objek-objek wisata lainnya di provinsi Sulawesi Barat, dalam kata lain "minim pengelolaan. Lalu apakah kita akan menyalahkan pemerintah? atau masyarakat sekitar? atau bahkan menyalahkan seluruh warga Sulawesi Barat? 

Pantai Palippis Polewali Mandar
Pantai Palippis di kabupaten Polewali Mandar (Photo Credit : Pusvawirna Natalia Muchtar)
Tidak bijak mungkin jika kita menyalahkan keadaan, orang per orang. Entahlah, seperti apa tepatnya yang jelas keadaan pantai berpasir putih ini yang minim pengunjung, kondisi pantai tak terawat, dan tidak dapat menyumbang pendapatan bagi daerah kabupatennya, atau minimal memberikan pendapatan bagi warga yang tinggal disekitarnya.

Lalu apakah pesona pantai Palippis tidak ada, atau hilang? tentu saja tidak, pesonanya akan tetap ada, sama seperti pesona yang dimiliki pantai-pantai karang berpasir di pesisir teluk Mandar yang selalu kemerlap dengan warna putih pasirnya. Hanya saja pesonanya mungkin tertutupi oleh sampah, benda-benda asing yang terdampar di pesisirnya.

Lalu siapa yang harus membersihkan pantai Palippis? pertanyaan bagus yang mungkin bisa kita alamatkan ke siapa saja, apakah pemerintah? apakah warga? mungkin solusi yang tepat untuk pengelolaan objek wiata seperti ini adalah bentuk kemitraan antara pemerintah dan masyarakat, pemerintah mengaturnya dan melibatkan warga sekitar sebagai staf yang bekerja di wilayah Pantai, tukang parkir, pedagang asongan, petugas pembersih pantai, staff keamanan, dan hasilnya kemudian dilakukan penilaian dalam jangka waktu tertentu misalnya tiap bulan, tiga bulan, enam bulan, dan setahun. Tentu saja dengan motif komersialisasi yang baik, staff diberi upah atau gaji yang cukup sesuai dengan total keuntungan yang didapatkan oleh objek wisata ini.

Kedengarannya mudah kan? tetapi tidak sesimpel itu, butuh untuk mendatangkan kembali pengunjung wisata ke Pantai palippis, karena merekalah sumber pendapatan, semakin banyak mereka menghabiskan uang di lokasi ini, maka keuntungan objek wisata akan semakin maksimal, tentu saja ini butuh kesiapan fasilitas i objek wisata, misalnya saja untuk tempat peristirahatan berupa guest house, akses jalan yang baik, fasilitas untuk kebutuhan dasar. 

Yang jelas, pantai Palippis menurut saya potensial untuk dikembangkan, sama halnya dengan Pantai Mampie Polewali Mandar yang sudah dikelola dengan begitu profesional hari ini.

Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
18.11 | 0 komentar

Foto : Panorama Elok Tuqbi Taramanu (Tutar) di Kab. Polman

Written By ian on Selasa, 23 Juli 2013 | 16.41

Daerah pegunungan yang masih alami Tuqbi Taramanu (Tutar), adalah salah satu kecamatan terpencil di kabupaten Polewali Mandar, jauh dari hingar bingar riuh kota kabupaten Polewali. Dengan akses jalan yang dahulu cukup berat, dan waktu tempuh yang cukup lama, menyimpan panorama keindahan khas dataran tinggi.

Daerah yang dapat ditempuh dari kecamatan Mapilli sejauh 27 km ini cenderung tidak populer diantara kecamatan lainnya di kabupaten Polman, letak geografisnya yang sulit diakses mungkin salah satu penyebabnya. Namun bukan berarti daerah ini tidak punya cukup potensi untuk digali, daerah khas pegunungan kadang akrab dengan keasrian dan kealamian panorama yang hijau.

Berikut beberapa dari banyak panorama Tuqbi Taramanu (Tutar) yang dapat anda nikmati saat berkunjung ke daerah penghasil buah kakao terbesar di kabupaten Polewali Mandar ini.

Bunga Bougenville Tuqbi Taramanu (Tutar)
Bunga bougenville yang tumbuh subur di daerah Tutar (Foto : Andi Sura Muhlis)

Alam Tuqbi Taramanu (Tutar)
Pemandangan alam di salah satu desa di kec. Tuqbi Taramanu (Tutar) (Foto : Andi Sura Muhlis)
Ilalalang Tuqbi Taramanu (Tutar)
Ilalang di salah satu desa di kecamatan Tuqbi Taramanu (Tutar) (Foto : Andi Sura Muhlis)
Panorama Tuqbi Taramanu (Tutar)
Panorama alam desa di kec. Tuqbi Taramanu (Tutar) (Foto : Andi Sura Muhlis)
Rumah Penduduk Tuqbi Taramanu (Tutar)
Salah satu rumah penduduk di kec. Tuqbi Taramanu (Tutar) (Foto : Andi Sura Muhlis)
Bunga Teratai Tuqbi Taramanu (Tutar)
Bunga Teratai tumbuh dengan subur di kec, Tuqbi Taramanu (Tutar) (Foto : Andi Sura Muhlis)
Iklim  pegunungan yang cenderung dingin sangat cocok untuk tempat tumbuh beberapa jenis tanaman dan bunga, sebutlah misalnya bunga bougenville dan bunga teratai diatas. Bunga-bunga ini cukup mudah anda temukan di daerah ini. Selain sebagai penghasil buah kakao terproduktif, daerah ini juga adalah penghasil damar, rotan serta kayu yang digunakan dalam industri pembuatan meuble. Belum lagi ada beberapa potensi pariwisata kecamatan Tutar yang cukup baik namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Dalam hal ini, akses jalan menuju Tutar haruslah menjadi prioritas untuk memudahkan menjangkau lokasi-lokasi objek wisatanya.

Penulis :
Andi Sura Muhlis, saat ini bermukim di Kecamatan Tutar (Tuqbi Taramanu) Kab. Polewali Mandar, hobi menulis cerpen dan membaca. Menyelesaikan pendidikan terakhir di S1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Kini menjadi tenaga pengajar honorer di SMP Neg 4 Tutar bidang studi Pendidikan Bahasa Inggris dan Seni Budaya, aktif dalam teater dan pementasan di instansi mengajarnya.
Kontak Saya :
facebook :  https://www.facebook.com/andi.sura.5




Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
16.41 | 0 komentar

Suku Mandar

Written By ian on Senin, 11 Juni 2012 | 14.12


Suku Mandar adalah kelompok etnik di Nusantara, tersebar di seluruh pulau Sulawesi , yaitu Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tenggara, juga tersebar di beberapa provinsi di luar sulawesi seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jawa dan Sumatera, Papua bahkan sampai keLuar Negeri.

Mandar ialah suatu kesatuan etnis yang berada di Sulawesi Barat. Dulunya, sebelum terjadi pemekaran wilayah, Mandar bersama dengan etnis Bugis, Makassar, dan Toraja mewarnai keberagaman di Sulawesi Selatan. Meskipun secara politis Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan diberi sekat, secara historis dan kultural Mandar tetap terikat dengan “sepupu-sepupu” serumpunnya di Sulawesi Selatan. Istilah Mandar merupakan ikatan persatuan antara tujuh kerajaan di pesisir (Pitu Ba’ba’na Binanga) dan tujuh kerajaan di gunung (Pitu Ulunna Salu). Keempat belas kekuatan ini saling melengkapi, “Sipamandar” (menguatkan) sebagai satu bangsa melalui perjanjian yang disumpahkan oleh leluhur mereka di Allewuang Batu di Luyo.

Rumah adat suku Mandar disebut Boyang. Perayaan-perayaan adat diantaranya Sayyang Pattu'du (Kuda Menari), Passandeq (Mengarungi lautan dengan cadik sandeq), Upacara adat suku Mandar , yaitu "mappandoe' sasi" (bermandi laut). Makanan khas diantaranya Jepa, Pandeangang Peapi, Banggulung Tapa, dll.

Suku Mandar terdiri atas 17 (kerajaan) kerajaan, 7 (tujuh) kerajaan hulu yang disebut "Pitu Ulunna Salu", 7 (tujuh) kerajaan muara yang disebut "Pitu ba'bana binanga" dan 3 (tiga) kerajaan yang bergelar "Kakaruanna Tiparittiqna Uhai".
Tujuh kerajaan yang tergabung dalam wilayah Persekutuan Pitu Ulunna Salu adalah :
  1. Kerajaan Rante Bulahang
  2. Kerajaan Aralle
  3. Kerajaan Tabulahan
  4. Kerajaan Mambi
  5. Kerajaan Matangnga
  6. Kerajaan Tabang
  7. Kerajaan Bambang
Tujuh kerajaan yang tergabung dalam wilayah Persekutuan Pitu Baqbana Binanga adalah :
  1. Kerajaan Balanipa
  2. Kerajaan Sendana
  3. Kerajaan Banggae
  4. Kerajaan Pamboang
  5. Kerajaan Tapalang
  6. Kerajaan Mamuju
  7. Kerajaan Benuang
Kerajaan yang bergelar Kakaruanna Tiparittiqna Uhai atau wilayah Lembang Mappi adalah sebagai berikut :
  1. Kerajaan Allu
  2. Kerajaan Tuqbi
  3. Kerajaan Taramanuq
Di kerajaan-kerajaan Hulu pandai akan kondisi pegunungan sedangkan kerajaan-kerajaan Muara pandai akan kondisi lautan. Dengan batas-batas sebelah selatan berbatasan dengan Kab. Pinrang, Sulawesi Selatan, sebelah timur berbatasan dengan Kab. Toraja, Sulawesi Selatan, sebelah utara berbatasan dengan Kota Palu, Sulawesi Tengah dan sebelah barat dengan selat Makassar.
Sepanjang sejarah kerajaan-kerajaan di Mandar, telah banyak melahirkan tokoh-tokoh pejuang dalam mempertahankan tanah melawan penjajahan VOC seperti: Imaga Daeng Rioso, Puatta i sa'adawang, Maradia Banggae, Ammana iwewang, Andi Depu, meskipun pada akhirnya wilayah Mandar berhasil direbut oleh pemerintah VOC.

Dari semangat suku Mandar yang disebut semangat "Assimandarang" sehingga pada tahun 2004 wilayah Mandar menjadi salah satu provinsi yang ada di Indonesia yaitu provinsi Sulawesi Barat.


SEJARAH di tanah MANDAR

Walaupun daerahku ini masih terpencil dan belum dikenal oleh seluruh pelosok negeri Indonesia, tetapi Mandar memiliki sejarah yang tak kala melegendanya dengan sejarah-sejarah negeri kita di daerah lain. Mandar juga memiliki beberapa persamaan karakteristik dengan saudaranya yaitu Bugis, tetapi tetap saja perbedaan diantara keduanya sangatlah jelas. Berikut saya akan memperkenalkan tanah yang kami cintai ini kepada Anak Bangsa Indonesia yang lain:

Asal usul nama Mandar,
Mandar adalah suatu daerah di Propinsi Sulawesi Barat, suku bangsa yang mayoritas mendiami daerah Sulawesi Barat, nama bahasa daerah, dan nama sebuah sungai di Kabupaten Polewali Mandar. Daerah Mandar meliputi lima kabupaten yaitu Kab.Polewali Mandar, Kab.Majene, Kab.Mamuju, Kab.Mamasa dan Kab.Mamuju Utara. Luasnya sekitar 1.105.761 km2. Beberapa pendapat tentang asal mula munculnya istilah Mandar sebagai berikut :
1. Dari Kata mandar yang berarti ‘sungai’. Penduduk di Kec.Tinambung, Kec.Limboro, dan Kec.Allu sepanjang Sungai Mandar(sekarang) apabila mau “turun” mandi di sungai mengatakan Na naungaq mandoeq di uai (Saya akan “turun”/pergi mandi di sungai),
2. Dari kata maqdara. Pendapat ini, didasarkan pada sifat orang Mandar yang salah sedikit saja mereka tidak segan-segan bertikam yang akibatnya bermandi darah. Orang yang member nama ini ialah orang yang berasal dari luar daerah Mandar,
3. Dari kata mandaraq yang berarti bersinar, bercahaya,
4. Dari kata mandaq yang artinya kuat,
5. Dari kata maqandar atau meander ‘mengantar’, boleh juga berarti ‘mengiring’. Pendapat ini berdasarkan cerita rakyat tentang suatu kejadian di suatu daerah Mandar (yang sebelum bernama Mandar) di zaman lampau. Dikisahkan, sebuah rakit yang berisi persumbahan kepada Dewata dari hulu sungai (yang sekarang bernama Sungai Mandar) menuju muara. Seluruh rakyat berbaris dipinggir sebelah menyebelah sungai untuk maqandar (mengantar) rakit itu sampai ke muara. Setiba di muara, manusia pengantar itu mettambung(bertumpuk) di sebelah menyebelah sungai menyebabkan tempat di muara sungai itu bernama Tambung yang kemudian menjadi sebuah kampung. Kira-kira berjarak setengah kilometer dari Tambung arah kehulu, ujung barisan pengantar berbalik berputar untuk kembali ke hulu sungai. Tempat berbalik/berputar kembali, itu pun bernama Paqgiling (dari kata giling atau putar) yang kemudian menjadi sebuah kampung.
6. Dari kata Dharaman (bahasa Hindu/Sansekerta). Terdiri dari dua akar kata, yaitu man+dhar berasal dari bentuk kata dharaman yang berarti ’mempunyai penduduk’. Akhirnya terjadi pertukaran dan perubahan pengucapan menjadi Mandar.

Mandar di masa penjajahan Belanda,
Belanda sangat mempengaruhi sejarah Indonesia pada zaman penjajahan karna Belanda-lah yang menjajah Indonesia paling lama yaitu sekitar 300 tahun, Belanda juga menindas rakyat Indonesia termasuk juga Mandar dengan kejam walaupun tidak sekejam Jepang. Berikut ini saya akan menggambarkan kronologi perlawanan-perlawanan rakyat Mandar terhadap penjajah Belanda :

Perlawanan dan protes keras H.Maata,
- Terjadi pada tahun 1932,
H.Maata, Kepala Desa Pambusuang kepada penjajah Belanda, atas perlakuan mempekerjakan langsung penduduk desanya membuat jalan di Kunyi, tanpa izinnya sebagai Kepala Desa. Perlawanan kecil, tetapi menunjukkan perlawanan menentang Belanda telah menjadi laten di Mandar setidaknya sejak Tokape Maraqdia Balanipa memulainya di abad ke-19. Baharuddin Lopa menggambarkannya seperti yang dituturkan oleh Hasan Latief, bekas Kepala Distrik Tenggelang, 13 juni 1981. Sampai dengan tahun 1932 perlawanan orang-orang Mandar terhadap penjajahan Belanda masih terjadi terus meskipun kecil-kecilan. H. Maata mendatangi kantor Controleur di Polewali menyatakan protes keras kepada pejabat pemerintah kolonial. Semestinya dia sendiri yang memerintahkan langsung kepada penduduknya. Akibat peristiwa itu beberapa tokoh penduduk Desa Pambusuang ditangkap oleh pemerintah kolonial. Semestinya dia sendiri yang memerintahkan langsung kepada penduduknya. Akibat peristiwa itu beberapa tokoh penduduk Desa Pambusuang ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda dengan tuduhan berkomplot dengan Kepala Desa H.Maata melakukan pembangkangan terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Peristiwa Bendera Merah Putih di Tinambung,
- Tanggal 15 Januari 1946,
Pada peristiwa Bendera Merah Putih ini, Ibu Andi Depu (pahlawan Mandar) memeluk tiang bendera Merah Putih, merupakan sepak terjang penentangan langsung Ibu Andi Depu terhadap tentara Belanda yang ingin menurunkan bendera Merah Putih yang sedang sedang berkibar di depan istana Kerajaan Balanipa (kerajaan terbesar di Sulawesi Barat pada saat itu) di Tinambung. Istana yang sekaligus dijadikan salah satu markas komando perjuangan rakyat Mandar mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia, dua hari sebelum Peristiwa Bendera Merah Putih di Tinambung,
- Tanggal 13 Januari 1946,
Aparat NICA telah mengibarkan bendera Belanda di dalam tangis KNIL di Majene. Dengan dukungan Sekutu, 1 Januari 1946 aparat Belanda menurunkan bendera Merah Putih di semua tempat dalam wilayah Majene. Sampai kemudian Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia.

Pertempuran Tonyaman dan rentetan peristiwa dan pertempuran berikutnya sampai bulan Desember 1946,
- Tanggal 16 Agustus 1946,
Yakni pertempuran antara para pemuda/pejuang di bawah pimpinan Pangiu dan Nyompa melawan pasukan KNIL/NICA di bawah komando Controleur Polewali G.J.Monsers di daerah Tonyaman Polewali. Pejuang bersenjatakan bambu runcing, keris, badik dan parang panjang melawan pasukan KNIL/NICA yang mempergunakan senjata api. Controleur Polewali G.J.Monsers dan beberapa pengawalnya terbunuh. Pejuang merampas satu pucuk pistol dan senjata Ouwengun.
- Tanggal 17 Agustus 1946,
Satu peleton tentara NICA/KNIL menangkapi semua laki-laki dewasa yang ada di Tonyaman. Disiksa habis-habisan.
- Tanggal 18 Agustus 1946,
Pasukan KNIL/NICA melancarkan serangan balasan terhadap markas pemuda/pejuang di Silopo. Pangiu dan kawan-kawan memberikan perlawanan mati-matian. Pabi, pemuda pejuang gugur. Padara, Sida, Mada, dan Pungga Sampe luka parah dan tertangkap. Markas pejuang dibakar habis oleh musuh.
- Pada awal September,
Di bawah pimpinan Ambo Damma, para pejuang menyerang markas musuh di Bungin, lima orang gugur yaitu Amba, Tanai, Billa, Badusama, dan Mangundang. Pertengahan September, pasukan Pangiu Komandan Kompi III melakukan penghadangan di Mirring Polewali. Penghadangan tidak berhasil. Granat yang dilemparkan jatuh di belakang mobil musuh. Beberapa orang rakyat yang kebetulan ada di sekitar daerah penghadangan ditangkap, disiksa dan dibunuh oleh pasukan musuh.
- Pada akhir bulan September,
Pangiu menyerang mata-mata musuh di Binuang yang dipimpin oleh Wa Saira. Wa Saira pun terbunuh juga. Awal Oktober para pejuang di bawah pimpinan Nyompa menyerang mata-mata musuh dan pos polisi NICA di Paku. Beberapa orang mata-mata musuh ditangkap dan dibunuh.
- Tanggal 7 Oktober 1946,
Terjadi pertempuran antara para pejuang yang dipimpin Masse dan Landi dengan serdadu KNIL di Kalosilosi. Empat orang pejuang gugur, yaitu dipimpin Masse, Tangnga, Reken, dan Kadongboli. Di pihak musuh empat orang mata-mata ditangkap, dibawa ke Riso,Tapango, diadili dan dibunuh.
- Tanggal 8 Oktober 1946,
Serdadu KNIL menyerangan markas pejuang di Tabone. Empat orang pejuang gugur yaitu Lattone, La Runa, Tola dan Tabara (seorang perempuan tukang masak). Beberapa orang terperangkap antara lain Onjang, Apo dan Tanah.
- Tanggal 10 Oktober 1946,
Para pejuang mengadakan pertemuan di Kelapadua. Merencanakan penyerangan umum terhadap musuh di kota Polewali pada tanggal 12 Oktober.
- Tanggal 12 Oktober 1946,
Dipimpin oleh Controleur Polewali Yonasse, serdadu KNIL mendadak menyerang markas pejuang Kompi II di Kelapadua. Dua puluh satu orang pejuang gugur dan beberapa orang ditangkap. Markas pejuang dibakar musuh.
- Tanggal 13 Oktober 1946,
Pasukan KNIL menangkap Badu di Kelapadua. Badu sama sekali tidak mau menyebutkan tempat persembunyian kawan-kawannya sesame pejuang. Badua ditembak mati.
- Tanggal 14 Oktober 1946,
Berdasarkan informasi dari seseorang pengkhinat, serdadu KNIL mengetahui lokasi dan menyerang markas pejuang di Gua Salu Bayo. Dalam pertempuran, Komandan Kompi II Tarrua gugur bersama kedua puteranya, Sampeani dan Lira. Pertengahan November, pemimpin tertinggi perjuangan wilayah Polewali Andi Hasan Mangga tertangkap.
- Tanggal 3 Desember 1946,
Di bawah pimpinan H. Umri dan Nyompa para pejuang melakukan penyusupan besar-besaran ke dalam Kota Polewali untuk melaksanakan penyerangan terhadap kantor Controleur/NICA, markas polisi NICA, dan penjara Polewali. Para pejuang juga melakukan aksi-aksi lainnya mengganggu musuh. Aparat KNIL dan polisi NICA menangkapi Andi Hasan Mangga, Alex Pattola, Pene Dg Pasanre, H.Ummarang, La Hamma, Pangiu, Tamalino, Nongngo, Salampang, Panikkai, Labulan, La Gante, Ati Dg Patoangin, Tonang, Manangi, Panjang, Pama, dan Kati. Sebagian besar ditembak mati dan yang lainnya dipenjarakan. Untuk mengenang, menghargai, menghormati jasa-jasa mereka dibangunlah Monumen Bambu Runcing/Tiga Pahlawan Pejuang Kemerdekaan, dan Monumen Perjuangan 45. Keduanya berada di kota Polewali, kab. Polman.

Peristiwa Tololoq dan Peristiwa Galung Lombok,
Masyarakat Mandar menyebutnya Panyapuang (penyapuan) di Galung Lombok (Desa Galung Lombok, Kec. Tinambung, Kab. Polman sekarang). Pembantaian massal yang dilakukan oleh pasukan Westerling terhadap rakyat Indonesia dari daerah Baruga, Tande, Simullu, Banggae dan sekitarnya (Kab.Majene sekarang) dari daerah Tinambung dan sekitarnya (Kab.Polman sekarang). Pembantaian ini berlangsung 1 Februari 1946 dan menewaskan rakyat dan para pejuang. Kurang lebih 700 orang, termasuk 32 orang tawanan anggota pejuang dari penjara Majene. Latar belakang terjadinya Peristiwa Galung Lombok karena Belanda sama sekali tidak leluasa kembali berkuasa di daerah Mandar. Belanda mendapat perlawanan keras dari rakyat Mandar. Para pejuang yang tergabung dalam organisasi perjuangan KRIS-Muda bahu membahu dengan para pejuang yang membentuk kelas kerang GAPRI 5.3.1 melakukan aksi mengganggu dan melawan Belanda. Belanda pun kewalahan. Perlawanan rakyat semakin sulit dipatahkan. Pasukan berbaret merah yang dikenal dengan sebutan Detachement Speciale Troepen (DST) beranggotakan 123 orang di bawah pimpinan Letnan Satu Raymond Pierre Westerling dikirim oleh pemerintah Belanda dari Batavia ke Sulawesi Selatan dan Barat untuk membina para pejuang untuk memadamkan semangat perjuangan Tetap Merdeka. Westerling memperoleh laporan, kantong-kantong perjuangan rakyat Sulawesi Selatan dan Barat merata di Afdeling Makassar, Pare-Pare, Bonthain, dan Mandar.
- Tanggal 11 Desember 1946,
Letnan Gubernur General Dr.H.J.Van Mook di Batavia mengumumkan keadaan darurat perang (SOB) untuk Afdeling Makassar, Pare-Pare, Bonthain, dan Mandar.
- Tanggal 1 Februari 1947,
Pasukan Westerling di bawah pimpinan Stufkens dan Vermulen mengepung kampung Baruga, Simullu, Segeri, Lembang, Tande (di kab.Majene) dan sekitarnya, Tinambung, Kanreapi, Lawarang (Kab.Polman) dan sekitarnya. Untuk menakut-nakuti rakyat, pasukan Belanda membakar beberapa rumah rakyat. Penduduk pada kampung-kampung tersebut dikumpulkan lalu digiring ke Galung Lombok. Di tempat itu perempuan dan anak-anak dipisahkan dari laki-laki. Kemudian pasukan Westerling mengadakan “pengadilan singkat” untuk mengetahui siapa di antara mereka yang di mata Belanda dicap
Ekstremis. Untuk mengetahui secara pasti siapa anggota organisasi perjuangan GAPRI 5.3.1., KRIS Muda,TRIPS dan ALRI, Stufkens dan Vermuelen mendatangkan 32 orang tawanan anggota pejuang dari penjara Majene, sekitar 10 km dari Galung Lombok. Mereka dipaksa menunjuk siapa di antara massa yang hadir yang menjadi anggota pejuang atau simpatisan pejuang. Mereka menutup mulut rapat-rapat. Karena tentara Belanda tidak berhasil memaksa mereka membuka rahasia, mereka dijejerkan dan ditembak satu persatu. Selanjutnya penembakan dan pembunuhan ditujukan kepada para pemuka masyarakat yang diduga membantu para pejuang. Kepala Distrik dan pemuka-pemuka masyarakat Baruga, Tande, Simullu, dan lain-lain satu persatu menemui ajal. Sementara penembakan missal terjadi di Galung Lombok, Pasukan GAPRI 5.3.1. di bawah pimpinan Basong yang berada di markas pejuang di Pumbeke, segera berangkat ke Segeri menyusul menyusul kawan-kawannya. Pasukan Westerling tidak juga muncul, pada hal mereka sudah lama menunggu. Di Talolo terjadi kontak senjata dengan pasukan Belanda yang sedang patroli. Seorang tentara Belanda hendak memperkosa seorang wanita, dicegah olah Harun dan Habin anggota pasukan pimpinan Basong. Pada pertempuran singkat di Talolo dua orang anggota pasukan GAPRI.5.3.1. gugur yaitu Sukirno dan Yonggang. Di pihak tentara Belanda terbunuh Dickso, Van Feuw, dan seorang lagi yang tidak diketahui namanya. Sesudah pertempuran singkat, Tanne bersama pasukannya datang untuk membantu kawan-kawannya. Tiba-tiba sebuah mobil pasukan Westerling datang. Pasukan Tanne melempar mobil itu dengan granat dan mobil itu pun terbalik masuk jurang. Begitu Stufkens dan Vermuelen mendengar 3 orang anak buahnya dan mobil pasukannya masuk jurang, keduanya langsung naik darah. Maka terjadilah pembantaian massal rakyat di Galung Lombok yang tadinya hanya pengadilan massal mencari para pejuang. Rakyat yang tidak berdosa banyak yang jadi korban. Pembunuhan berlangsung sekitar 07.00 pagi sampai pukul 17.00 sore. Di sore dan malan hari dilaksanakan penguburan seadanya oleh kerabat mereka yang masih hidup dan rakyat yang dipaksa oleh pasukan Westerling. Banyak pejuang dari organisasi perlawanan KRIS Muda, GAPRI 5.3.1., pasukan ekspedisi pejuang dari Kalimantan yang gugur. Untuk mengenang dan sebagai penghormatan kepada mereka dibangun Monumen Korban 40.000 Jiwa Galung Lombok di Desa Galung Lombok, kec. Tinambung, Kab.Polman.

Peristiwa Pembantaian di Pamboang,
- Tanggal 5 Februari 1947,
Peristiwa sejarah ini dilakukan oleh tentara KNIL, menewaskan 35 orang pahlawan termasuk tawanan dari Majene. Diantara korban gugur ialah Kepala Distrik Pamboang, Kepala Desa, dan Polisi Kampung. Sebelum ditembak mati, ada yang disiksa sehebat-hebatnya. Telinga, hidung, dan kemaluan dipotong.

Mandar di masa penjajahan Jepang,
Sama dengan daerah-daerah lainnya di Sulawesi Selatan. Merasakan tekanan, penindasan, dan penderitaan yang sangat besar. Para bekas/pemimpin partai dan pejuang kemerdekaan di Majene, Pamboang, Polewali, dan di tempat-tempat lainnya ditangkap oleh Belanda. Ditahan di Majene sekitar dua sampai tujuh hari lamanya, kemudian dilepaskan dengan perintah agar benar-benar membubarkan semua partai, pergerakan-pergerakan, dan sekolah-sekolah partikelir (swasta) yang ada, disertai ancaman sanksi yang berat apabila tidak dijalankan. Mulai berlaku kekuasaan main pukul dan main hakim sendiri terhadap siapa saja yang dianggap bersalah, walaupun kesalahan itu hanyalah kesalahan kecil. Dalam kesulitan hidup yang berat dan perlakuan sewenang-wenang muncul kelompok pemberani di Kerajaan/Distrik Allu di bawah pimpinan Muhammad Saleh Puanna I Su’ding (lebih dikenal dengan nama Hamma’ Saleh Puanna I Su’ding). Dia dan kawan-kawan melakukan perlawanan bersenjata terhadap pemerintahan Jepang pada bulan Maret 1945. Dimulai dengan soal penagihan pajak yang tidak ditaati oleh mereka. Mereka memilih mengembara di hutan-hutan. Sesekali menyerang polisi Jepang dan menewaskan para polisi Jepang tersebut sedekit demi dekit hingga Indonesia menyatakan kemerdekaan Indonesia.


Sumber : Dari berbagai sumber Buku Ensiklopedia tentang Mandar
14.12 | 0 komentar

Selamat Datang

Gambar Selamat Datang

Categories

Download Buku Imam Lapeo

Buku Imam Lapeo

Download Buku FPRT

FPRT di Tanah Mandar

Download Buku Sulbar

Buku SULBAR

Link Mandar

Dinas Pemuda Olahraga& Pariwisata Sulbar Radar Sulbar Sulbarcom Mamuju Pos Suara Sulbar Malaqbicom Kandoracom Kemenhukum DinKes KUA KUAWono DinKes BKKBN BPS BPKP Kampung Mandar Tommuane Mandar Kampung Mandar DEsa Tamanggalle MAndar Kita MIN Polewali MuhSulbar MuhPolman Kompadansa KPU Sulbar Bawaslu Sulbar Puang.com

Download Sayang-Sayang

Sayang-Sayang