Assalamu Alaikum,  lulluare...!   |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Tampilkan postingan dengan label Wisata Mandar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Mandar. Tampilkan semua postingan

Potensi Keparawisataan Kab. Polewali Mandar

Written By ian on Rabu, 24 Juni 2015 | 10.43

Kabupaten Polewali Mandar adalah sebuah kabupaten yang dalam peta administratif masuk ke dalam wilayah Sulawesi Barat melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.
Sebelum dinamakan Kabupaten Polewali Mandar pada tahun 2004, daerah ini bernama Polewali Mamasa (Polmas) yang secara administratif berada dalam wilayah Sulawesi Selatan. Setelah terjadi pemekaran Kabupaten Mamasa sebagai kabupaten sendiri, nama kabupaten Polewali Mamasa pun diganti menjadi Kabupaten Polewali Mandar.
Kabupaten Polewali Mandar memiliki sejumlah kekhasan, seperti kekayaan alam dan kebudayaan sebagai potensi pariwisata yang besar dibandingkan dengan daerah lain di Sulawesi Barat. Diantara potensi besar tersebut adalah, wisata bahari, wisata alam, wisata budaya dan kerajinan yang tersebar hampir disemua kecamatan. Mulai dari wisata bahari kepulauan dan pesisir pantai yang sangat indah dan alami. Ditambah dengan wisata pedalaman yang memiliki wisata tirta, wisata ritual dan situs hingga wisata sosial dan publik yang juga menawarkan sejuta keindahan kebudayaan dan alam yang eksotis.

Bagi siapapun pejalan budaya dan petandang wisata tentu akan pulang membawa sejuta kesan yang tak dapat dilupakan. Sebab segera setelah matahari terbit dari ujung timur, maka hamparan kilauan pasir putih disepanjang pantai ditambah aktivitas para nelayan yang turun melaut atau pulau dari laut, mulai dariKKecamatan Binuang hingga Kecamatan Tinambung akan membentang panorama nan eksotis yang menawarkan sejuta kedamaian sekaligus penegasan akan ketegaran para pelaut ulung Mandar. Menyusur samudera dengan Sandeq (perahu bercadas khas Mandar).
Akhirnya bersiap-siaplah untuk menjadi To Mandar (orang Mandar). Dengan datang dan meneguk wai marandanna (air putih-nya) orang mandar di Kabupaten Polewali Mandar, ditemani simpul senyum warga masyarakat ramah dan setiap saat siap menjadi penyaksi dan teman setiap kedatangan pejalan budaya dan wisatawan.
Mewakili seluruh staf Pemerintah Kabupaten Polewali Mandarmenyatakan akan memberikan pelayanan kepada para petandan budaya dan wisatawan. Terlebih, bantuan kepada investor untuk berinvestasi di daerah yang tengah mengembangkan investasi di berbagai bidang. Utamanya bidang perdagangan, pertambangan dan gas yang ke depan akan kian kompetitif, mengikat kekhasan kekayaan potensi yang baik.
Selamat datang di Kabupaten Polewali Mandar.

Kabupaten Polewali Mandar dengan luas wilayah 2.022.30 km2 yang terbagi dalam 15 kecamatan terletak di antara 20 40″303�00�LU dan 11��040�27�BT yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Mamasa do Sebelah Utara, Kabupaten Pinrang di Sebelah Timur, Selat Makassar Sebelah Selatan dan Kabupaten Majene di Sebelah Barat.
Ditakdirkan memiliki beragam keunikan dan kekayaan alam yang melimpah, mulai dari kekayaan kebudayaan, kekayaan alam pesisiran, bahari dan pedalaman. Serta karya cipta seni budayayang merupakan representasi pintal nilai-nilai kearifan orang Mandar yang melekat pada setiap masyarakatnya.

Pemerintah Mandar sangat menyambut positif diterbitkan buku profil kebudayaan dan pariwisata ini. Sebab bagi kami, ini adalah bahagian dari cara Kami mentafsir konsep dasar kepemimpinan Mandar yang memahami� tarrare do alloo tammatindo di wongi mappikkirri atuowanna pa�banua� (gelisah di siang hari, tak lelap di malam hari, memikirkan prima untuk warga masyarakat). Yang lalu terjewantahkan ke dalam visi kabupaten yang berorientasi kepada terwujudnya masyarakat Kabupaten Polewali Mandar bernafaskan ajaran agama dan nilai-nilai budaya sipamandar ( saling menguatkan).
Nah, tentu hal ini tidaklah berlebihan, sebab kekayaan kebudayaan, seni dan keragaman eksotika alam di Polewali mandar ini adalah potensi dan aset yang tak ternilai. Utamanya dalam melecut minat investor, para pejalan budaya dan wisatawan untuk berivestasi dan bertandan ke Kabupaten Polewali Mandar.

Oleh  Dinas dan Kebudayaan Parawisata Mandar bahwa keistimewaan, keunikan dan kekhasan panorama alam yang teramat sangat alami dan eksotis, kekhasan kebudayaan, situs dan ritual yang memikat di warnai seulas senyum Kami bersama warga Kabupten Polewali Mandar. Melihat dari dekat keistimewaan perahu Sandeq. Perahu bercadik yangn memintal peradaban degan mengarungi gelombang samudera sebagai penegasan bahwa pelaut Mandar, benarlah pelaut yang ulung. Atau tentang pintal sarung sutera Mandar penegasan komitmen kesetiaan perempuan-perempuan Mandar yang telah mendunia melintasi batas-batas area budaya. Serta situs penegasan hukum dan demokrasi yang telah mengantarkan Mandar kepada keemasan sejarah sebuah peradaban. Sebuah entitas agung nan luhur.

Dengan pelayanan prima tersebut, Pemerintah di Mandar siap menunggui untuk menemani para pejalan budaya, wisatawan mancanegara dan domestik untuk melihat dan merasakan kekhasan kami dengan setumpuk pasilitas-pasilitas pelayanan sebagai kabupaten yang telah siap untuk didatangi. Sehingga, sekali lagi, dengan rendah hati Kami menyampaikan, bahwa segera setelah matahari terbit dari balik gulungan gelombang dan ombak teluk Mandar, Kami telah siap mengantarkan anda hingga matahari terbenam di puncak-puncak bebukitan yang menawarkan sejuta eksotika. Meninggalkan jejak-jejak yang tidak terlupakan, sebagai sebuah kehangatan. Bukan sebagai mimpi, tetapi sebuah kenyataan kehangatan kebudayaan tanah Mandar.



POTENSI SUMBER DAYA ALAM MARITIM MANDAR

Kabupaten Polewali Mandar, sebagai kabupaten yang memiliki kekhasan kebudayan maritim menjadi tidaklah lengkap jika tidak melihat dan mandatangi pulau-pulau yang bertebaran di sepanjang pantai Polewali. Tercatat sedikitnya ada 6 pulau-pulau kecil mulai dari Pulau Battoa, Pulau Tangnga, Pulau Tosalama�, Pulau Gusung Toraja dan Pulau Karamasang serta Pulau Panampeang yang bisa dijangkau dengan menggunakan kendaraan perahu motor milik warga yang menjangkar di Kecamatan Binuang dan Kecamatan Polewali dengan jarak tempuh sekitar setengah jam perjalanan. Yang menarik dari pulau ini, selain keindahan alamnya, beberapa diantaranya pulau-pulau ini hingga kini belumlah berpenghuni. Sehingga cukup refresentatif untuk ditempati bersantai atau rekreasi bersama keluarga ditemani semilir angin laut dan debur gelombang yang lembut, tenang dan berahabat seraya memancing, berjemur dan berenang.

Selain beberapa pulau ini tidak berpenghuni, khusus pulau � pulau yang berpenghuni juga menawarkan beragam aktivitas masyarakat khas masyarakat pesisiran yang menarik dan selalu tampil dengan seulas senyum ramah menyambut siapa saja yang datang bertandang ke tempat ini. Belum lagi flora dan fauna laut yang juga menawarkan keindahan tersendiri. Ditambah denga belantara hutanbakau yang beberapa diantaranya meliuk dan menambah keindahan bibir pantai pulau-pulau ini.
Sebelum mencapai pulau-pulau ini, utamanya jika perjalanan laut yang ditempuh menyusuri peisir pantai dan dimulai dari Kecamatan Polewali, seain aktivitas penangkapan ikan secara tradisional akan banyak ditemui, pemandangan bagang yang berdiri tegak diatas permukaan laut pun akan banyak dijumpai. Termasuk aktivitas penambak rumput laut yang bertebaran di sepanjang pantai. Seakan menegaskan, betapa karibnya masyarakat sekitar pulau ini dengan laut. Sebagai tempat mereka untuk menafkahi hidup dan mengisi waktu dalam kehidupan mereka.
Aktivitas lainnya yang juga akan sangat banyak ditemui disepanjang perjalanan menuju pulau-pulau tersebut, adalah beberapa warga masyarakat yang mencari nafkah dengan menangkap ikan menggunakan jala atau alat pancing dari atas perahu-perahu tradisional milik mereka. Sehingga, selain keindahan alam laut yang akan kita tenui dalam perjalanan menyusuri pulau-pulau ini, kita juga akan diperkenalkan denga beragam jenis perahu-perahu tradisonal masyarakat sekitar pulau ini. Mulai dari soppe-soppe, lepa-lepa, ba,go dan lain sebagainya yang kesemuanya itu, mereka gunakan untuk mencari nafkah di lautan.

Palippis sebagai salah satu objek wisata pesisir pantai juga menawarkan keindahan panorama alam laut yang sangat eksotis. Palippis yang terletak di Desa Bala Kecamatan Balanipa ini sekitar 20 Km dari ibu kota Kabupaten Polewali Mandardan terletak di jalan poros Provinsi Sulawesi Barat ini menjadi kian menarik, sebab selain hamparan pasir putih yang memanjang, di sepanjang pantai keindahan alam perbukitan dan batu karang dan tebing dan goa alam pun tertawarkan. Utamanya di Lawuang yang memanjang dan bersambung dengan pantai Palippis dengan garis pantai kurang lebih sepanjang tiga kilo meter juga menawarkan eksotika tebing karang yang menyerupai ngarai.


PERAHU SANDEQ

Perahu Sandeq juga adalah sebuah ikon kehebatan maritim masyarakat mandar, cukup beralasan memang, sebab kehebatan para pelaut Ulung Mandar dibuktikan melalui pelayaran yang menggunakan perahu bercadik ini. Dalam keseharian perahu Sandeq digunakan untuk mencari nafkah di laut yang terdalam sekalipun. Tercatat dalam sejarah perahu Sandeq telah terbukti sanggup berlayar hingga ke Singapura, Malaysia, Jepang dan Madagaskar.
Sebab selain ia memiliki bentuk yanng elok nan cantik dengan panjang kurang lebih 9-16 meter dengan lebar 0,5-1 meter juga mampu dipacu hingga kecepatan 15-20 Knot atau 30-40 Km per jam. Sehingga perahu layar yag cantik dan tercepat juga mampu menerjang ombak yang besar sekalipun. Beberapa even perlombaan pun kerap digelar untuk membuktikan ketangguhan perahu ini. Untuk melihat dari dekat proses pembuatan perahu cadik yang berlayar ini pun dapat ditemui di Pambusuang Kecamatan Balanipa.

ALAM PEDALAMAN

Selain objek wisata alam maritim, perjalanan ke Kabupaten Polewali Mandar juga terasa tidak lengkap jika tidak menempuh perjalanan wisata ke arah pedalaman yang juga menawarkan beragam paket keindahan khas masyarakat agraris. Seperti di daerah Kelapa Dua Kecamatan Andreapi sekitar 10 Km dari Polewali juga dari atas puncak hamparan sawah bersusun milik warga juga menawarkan keindahan yang sangat alami. Atai di Mosso Kecamatan Balanipa serta di Alu Kecamatan Alu dengan khas jalannya yang meliuk dan berberbelok-belok dan dari puncak daerah pegunungan ini panorama matahari tenggelam juga dapat ditemukan menghilang di balik pegunungan dengan tempias cahaya yang sangat cantik. Ditambah panorama liukan sungai-sungai yang tampak eksotik di atas pegunungannya.

WISATA TIRTA
Di daerah pedalaman selain wisata alam dan jenis buah-buahan yang dapat dinikmati pada musim-musim tertentu, seperti durian, langsat dan rambutan sebagai potensi agro wisata. Tak kalah menarinkya, wisata tirta seperti; air terjung bersusun Indo Rannoang dan pemandian Limbong, keduanya di Kecamatan Andreapi. Selain itu, objek wisata tirta lainnya juga dapat ditemui di Biru Kecamatan Binuang, atau Limbong Miala dan Limbong Kamandang di desa Kurra Kecamatan Tapango.
Ditambah objek wisata tirta Sekka-sekka yang terletak di Batupanga Kecamatan Luyo, sekitar kurang lebih 5 Km dari Polewali. Kendati tidak alami, sebab ai merupakan proyek bendungan irigasi, tetapi ia cukup menawarkan panorama yang indah, sebab ditempat ini acara rekreasi pun dapat berlangsung meriah. Sebab selain dapat digunakan sebagai tempat pemandian dan olah raga berenang, acara memancing ikan air tawarpun dapat dilakukan ditempat ini.


WISATA RITUAL


Yang cukup khas dari masyarakat Mandar di kabupaten Polewali Mandar adalah beragamnya ritual-ritual adat yang juga menawarkan kehangatan sekaligus kemegahan sebuah kebudayaan. Karena pada ritual-ritual adat tersebut, selain dapat diamati sebagai peristiwa kebudayaan. Juga secara bersamaan dapat tercermati nilai-nilai luhur yang dianut oleh masyarakat Mandar. Seperti, ritual niparakka�I (pelantikan adat) misalnya. Yang berhak melakukan pelantikan adalah para penghulu adat yang mewakili atau merefresentasi warga masyarakat. Demikian pula bagi yang dilantik, juga mesti telah melalui ritual assipulu-pulungan (musyawarah) untuk menyeleksi appena ( watak) dan pangandaranna (kemampuan) yang lalu dulanjutkan dengan upacara assitaliang (pengucapan) yang dilakukan di depan warga masyarakat dan para penghulu adat. Kendati ritual ini agak jarang ditemukan kecuali pada waktu-waktu tertentu, namun ia cukup menawarkan sebuah fenomena kebudayaan masayarakat yang berdiam di Polewali Mandar.

Ritual lainnya adalah mappatamma (khataman) yang digelar bersamaan dengan pammunuang (maulidan). Yang menarik, sebab ritual serupa ini rutin digelar tiap tahunnya pada bulan-bulan Maulidan dan hampir dilakukan di semua kecamatan di Kabupaten Polewali Mandar, seperti di Tinambung, Balanipa dan Campalagian, serta Limboro dengan daya tarik utamanya, hadirnya perempuan-perempuan Mandar yang cantik nan kemayu menunggangi kuda pattu�du (menari) ditambah dengan pernak-pernik (telur yang ditusuk serupa sate) yang menghiasi ritual ini. Sedang kuda menari sendiri juga acapkali pula ditampilkan pada ritual-ritual tradisi lainnya seperti tomesunna� (sunatan), pappalikka (perkawinan), dan acara syukuran atau hajatan serta kenduri budaya lainnya. Lengkap dengan tetabuhan rebana dan tembang kalindada (sastra lisan Mandar) yang ditembangkan di depan kuda menari tersebut.

WISATA SITUS

Situs seakan menjadi kekuatan lain dari keluhuran kebudayaan masyarakat Mandar yang dapat ditemui dibanyak tempat di Kabupaten Polewali Mandar sebagai pusat kerajaan Mandar saat mencapai Lpuncak keemasannya. Salah satu situs yang sangat monumental adalah, situs atau makam Todilaling atau Imanyambungi mara�dia (Raja) pertama Balanipa. Situs ini dapat ditemui di atas puncak pegunungan dibawah rimbunnya pohon beringin di Napo Kecamatan Limboro sekitar 5 Km dari jalur jalan poros Provinsi Sulawesi Barat.
Sahdan ditempat ini, beberapa perempuan penari dan penabuh rebana serta pengikut setianya dimasukkan ke dalam liang untuk menghibur raja yang telah tinggal jasad itu. Sebagai makna loyalitas dan rasa turut berbelasungkawa yang terdalam. Sehingga menurut cerita yang melegenda, hingga tujuh hari tujuh malam pasca dikebumikan, warga yang ada di sekitar makam masih dapat mendengar suara tetabuhan rebana dari dalam liang makam itu. Hingga akhirnya sunyi senyap, setelah semua pengikut setia sang raja tersebut menghembuskan napas terakhirnya.
Situs lain yang juga menarik untuk dikunjungi adalah situs yang terletak di Alu Kecamatan Alu yang merupakan Makam Ammana Pattowali, salah satu tetua leluhur dan pejuang Mandar. Yang menarik dari situs ini, karena ia tidak dikubur ke dalam tanah, tetapi berdiri tegak dan konon jika situasi dan suhu kampung tidak tenang, semisal akan ada bencana atau keributan di Mandar. Maka situs kuburan ini akan bergerak dan bergeser posisinya. Tetapi akan kembali tegak, ketika kedaan kembali normal. Situs ini terletak sekitar 15 Km ke arah Alu dari jalan poros Kecamatan Tinambung. Untuk sampai di tempat ini, dapat dilalui dengan kendaraan roda empat dan harus melewati jalan berkelok melalui pegunungan dan sepanjang pesisir sungai Mandar.
Selain itu, situs lainnya juga dapat ditemui tidak jauh dari Todilaling di Tammajarra, sekitar 4 Km dari jalan poros, juga diatas puncak bukit adalah situs makam Tomepayung raja kedua kerajaan Balanipa. Yang menarik dalam kawasan situs ini adalah, adanya bala tau (arena sabung orang) yang terbuat dari batu persegi empat dengan luas kurang lebih 4 x 5 meterpersegi. Sebagai tempat eksekusi sengketa yang melibatkan laki-laki. Cukup dengan dibekali keris kedua orang yang bersengketa itu lalu dimasukkan ke dalam arena tersebut. Diyakini, yang terkalahkan sudah pasti berdadi pihak yang salah. Selain arena bala tau, di tempat ini juga terdapat pula tiga tungku besar yang kono adalah tempat untuk mengeksekusi perkara yang melibatkan kaum perempuan. Dengan jalan, kedua pihak yang berperkara memasukkan tanggannya ke dalam tungku yang berisi air mendidih. Hal ini juga diyakini, bagi siapa yang tangannya melepuh maka dialah yang berada di pihak yang bersalah.
Peninggalan situs lainnya, masih pada jaman kerjaan Tomepayung adalah, situs batu yang dikenal sebagai allamingan batu assitaliang yang terletak di Kecamatan Luyo. Sekitar 8 Km dari jalan poros Kecamatan Mapilli. Situs ini adalah simbol dari ikrar persatuan tujuh kerajaan do pedalaman dan tujuh kerajaan di pesisir yang menyatu dalam sebuah komfederasi Mandar abad ke-18.

Wiasata lain yang dapat dikunjungi dan tak kalah menariknya di Kabupaten Polewali Mandar adalah
wisata peninggalan sejarah islam. Seperti mesjid Nuruttaubah atau yang lebih dikenal dengan Mesjid Imam Lapeo peninggalan atau warisan Imam Lapeo. Mesjid ini terdapat di Lapeo Kecamatan Campalagian dan berada di jalur jalan poros Provinsi Sulawesi Barat. Sekitar 30 Km dari Polewali. Di samping mesjid ini pulalah makam Imam Lapeo, salah seorang toko sufistik Mandar yang sangat dalam ilmu keagamaanya berada.

Selain itu, mesjid yang juga monumental bagi sejarah perkembangan islam di Mandar adalah, mesjid tua yang terletak sekitar 2 Km dari jalur jalan provinsi. Terdapat di Desa Lambanan Kecamatan Balanipa. Menurut sejarahnya, mesjid ini didirikan sekitar tahun 1600 M.
Sejarah pengembangan islam yang monumental di Mandar juga dapat ditemui pada makam Syech Al Maruf salah satu penganjur agama Isalam yang pertama di Tanah Mandar yakni sekitar abad XVI. Terletak di Pulau Tosalama Ammassangan Kecamatan Binuang, yang untuk mengunjunginya ditempuh melalui perjalanan laut dengan menggunakan perahu motor, waktu perjalanan sekitar 15 menit dari Polewali. Sebagai penganjur agama Islam yang memiliki kedalaman ilmu agama yang sangat luas, maka Sech Al Ma�ruf lalu kemudian dijuluki To Salama (yang dikeramatkan ). Sebagaimana nama tempat beliau dimakamkan.

PAKAIAN ADAT

Pakaian adat masyarakat Mandar, utamanya yang ada di Polewali Mandar juga sangatlah beragam. Namun bagi orang Mandar untuk mengenakan pakaian adat tertentu, mesti mengikuti etika dan tradisi yang telah dianut secara turun temurun. Salah satu pakaian adat Mandar yang cukup pupuler adalah, jenis baju pokko dan passigar. Pakaian adat ini biasanya dikenakan pada acara perkawinan oleh pengantin atau pada saat perempuan menunggang kuda pattudu (menari). Juga pada saat dilangsungkan acara-acara tradisi kenduri budaya lainnya, lengkap dengan pernak -pernik perniknya seperti dali (subang), gallang (Gelang) dan sebagainya.

TRANSPORTASI TRADISIONAL
Yang tak kalah menariknya dicermati saat berkunjung ke Polewali Mandar adalah, kendaraan
tradional sebagai alat transportasi yang hingga kini masih banyak digunakan oleh warga. Bagi pelancong juga dapat mengendarainya kendaraan-kendaraan tradisional ini seperti bendi yang digunakan dari satu desa ke desa lainnya. Atau kuda tunggangan untuk menuju beberapa desa yang medannya agak berat di beberapa daerah pedalam. Hingga perahu motor maupun perahu layar yang juga banyak digunakan oleh warga yang menyeberang ke pulau-pulau kecil kecil di Polewali. Bahkan sekedar untuk memancing ikan dan kegiatan rekreatif lainnya. Sehari-hari kendaraan serupa ini digunakan warga untuk aktivitas pencaharian nafkah di laut khusus untuk daerah-daerah pesisiran.

AKTIVITAS SOSIAL DAN PUBLIK
Aktivitas warga masyarakat Mandar yang ada di Polewali Mandar yang juga cukup menarik dinikmati adalah aktivitas tradisional dalam mencari nafkah di laut maupun di sungai. Mulai dari memancing ikan di laut atau di sungai, atau sekedar mendayung lepa-lepa (jenis perahu tradisional) untuk menambang pasir di sungai Mandar. Aktivitas ini hampir bisa ditemui di sepanjang pesisir pantai yang memanjang mulai dari Kecamatan Binuang hingga Kecamatan Tinambung. Kecuali penambangan pasir dengan menggunakan alat angkut lepa-lepa hanya dapat ditemui di sepanjang sungai Mandar yang membelah Kecamatan Tinambung dan berada di jalur jalan poros Provinsi Sulawesi Mandar.

KONSEP NILAI SIWALI PARRI
Hal lain yang sangat menarik dan cukup unik di Mandar adalah meletaknya konsep nilai siwaliparri. Konsep siwaliparri sendiri berangkat dari pemahaman akan kebersamaan dan kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam menafkahi kehidupan. Hal ini tergambar dari begitu banyaknya perempuan-perempuan Mandar, utamanya ibu-ibu rumah tangga baik di wilayah pedalaman maupun di pesisir yang ikut membantu suaminya dalam mengerjakan kegiatan yang bernilai ekonomi. Untuk mendukung kehidupan rumah tangga mereka. Mulai dari perempuan menambang pasir di sungai Mandar Tinambung, penjemur gabah, pengambil makanan ternak dan pemikul air enau. Untuk aktivitas serupa inidapat ditemukan hampir ditemukan disemua Kecamatan di Kabupaten Polewali Mandar. Hinga kini, konsep ini masih terus dipraktekkan ditengah-tengah masyarakat sebagai sebuah nilai budaya luhur orang Mandar.

PEREMPUAN YANG BEKERJA

Sehingga dalam keseharian masyarakat Mandar, utamanya yag berdiam di wilayah Kabupaten Polewali Mandar, pemandangan perempuan-perempuan yang bekerja menjadi sesuatu yang sangat akrab. Mulai dari pembuat gula aren, membuat kasur kapuk, atau perempuan pemecah kemiri serta perempuan pemintal tali. Untuk mengamati aktivitas perempuan-perempuan Mandar ini dapat ditemukan di hampir semua kecamtan. Tetapi untuk aktivitas-aktivitas tertentu, seperti pembuat gula areng dapat ditemukan di daerah pedalaman seperti di Kecamatan Balanipa, Limboro dan Alu serta di beberapa kecamatan lainnya. Demikian pula halnya dengan pembuat kasur kapuk, juga ditemukan di Kecamatan Wonomulyo dan Limboro. Sedangkan perempuan pemintal tali dapat ditemukan di Kecamatan Balanipa dan Limboro.

DUNIA ANAK LAUT DAN SUNGAI
Untuk melengkapi kunjungan kita ke Polewali Mandar, di beberapa tempat di dunia permainan anak -anak Mandar juga menawarkan nuansa lain yang menarik, bahkan sayang untuk dilewatkan. Betapa tidak, dari aktivitas permainan mereka, dapat ditemukan kenyataan lain, betapa karibnya mereka dengan alam tempat mereka hidup. Sehingga pemandangan anak-anak yang memancing di pinggir pantai adalah pemandangan yang akan sangat pengasyikkan. Atau di wilayah pedalaman maka mata kita akan dipertemukan dengan dunia riang anak-anak Mandar yang bermain sambil mandi atau mereka yang mengambil air sungai untuk membantu keluarga. Bahkan bisa jadi, akan membuat kita untuk ikut serta menikmati dunia riang mereka. Pemandangan serupa ini dapat kita temukan hampir disemua wilayah pesisiran dan di wilayah pedalaman. Utamanya di sungai Mandar yang bermuara di Kecamatan Tinambung.

PASAR TRADISIONAL

Salah satu objek kunjungan yang tak kalah menariknya di Polewali Mandar adalah, pasar-pasar tradisional. Objek ini sangat menarik, sebab beberapa hasil kerajinan dan keterampilan masyarakat Mandar yang bercita rasa tradisional dengan gampang dapat di temukan di tengah-tengah pasar tradisional. Tidak terkecuali makanan khas tradisional mandar juga dapat ditemuka, bahkan dapat dicicipi di pasar-pasar yang juga merata ada hampir di semua kecamatan di Polewali Mandar.

TANGAN TANGAN YANG TERAMPIL

Tak kalah dengan daerah lain, beragam hasil kerajinan dan keterampilan tangan yang bercita rasa artistik tradisional juga dapat dijumpai di Polewali Mandar. Mulai dari proses pembuatan perahu, pembuatan tembikar atau gerabah hingga pada pembuatan keris, parang, jembiah dan senjata tajam lainnya. Khusus pembuatan perahu bermotor maupun yang tradisional dapat ditemui di sepanjang pesisir pantai Kecamatan Campalagian hingga Kecamatan Balanipa dan Tinambung. Untuk pembuatan gerabah atau tembikar dapat pula ditemui di Kecamatan Balanipa. Demikian pula halnya para pandai besi yang menempah keris, jembiah dan senjata tajam lainnya dapat pula ditemukan di Kecamatan Campalagian.

SISI LAIN

Sisi lain Kabupaten Polewali Mandar yang juga menarik untuk dimasukkan dalam agenda kunjungan adalah, menengok aktivitas masyarakat kabupaten ini yang memiliki kekhasan tersendiri bagi pejalan budaya dan petandan wisata. Seperti aktivitas nelayan atau penangkap ikan di pesisir dan aktivitas turun sawah untuk yang tinggal di daerah yang memiliki areal persawahan. Sedangkan bagi masyarakat yang tinggal didaerah bantaran sungai akan ditemukan aktivitas mereka ketika turun ke sungai sekedar untuk mandi atau bermain-main. Kesemuanya ini tentu menjadi objek yang juga menarik. Termasuk aktivitas mencari kutu di depan tangga rumah warga diwakt-uwaktu senggang mereka.

KESENIAN TRADISIONAL

Salah satu objek wisata di Polewali Mandar yang juga menarik adalah, objek kesenian tradisional mereka. Beberapa kekayaan kesenian tradisional ini dapat dilihat dari kepandaian para seniman tradisi dalam menabuh perkusi jenis rebana dan gendang. Untuk mengamati kegiatan berkesenian mereka dengan pola dan irama khas Mandar dapat dilihat pada saat dilehat acara kenduri budaya atau pesta perkawinan dan acara syukuran. Bahkan acara serupa dapat pula ditemui pada pementasan-pementasan seni taradisional yang memang diperuntukan untuk pergelaran kesenian tradisional masyarakat Mandar.

SENI MUSIK TRADISONAL

Selain kepandaian seniman tradisi dalam menabuh perkusi beberapa bentuk kesenian tradisional yang dapat ditemui di Polewali Mandar adalah, kepandaian mereka dalam memainkan kecapi Mandar, keke (alat tiup yang terbuat dari bambu), gongga (alat pukul terbuat dari bambu), calong (alat pukul yang terbuat dari bilah bambu dan batok kelapa). Juga kesenian jenis sayang-sayang yang kesemuanya itu biasa dipertontonkan pada saat digelar acara-acara perkawinan, syukuran dan pergelaran khusus seni pertunjukan.

ALAT MUSIK TRADISI DAN DRAMA

Selain alat-alat musik khas Mandar di Kabupaten Polewali Mandar, beberpa bentuk kesenian pun dapat dinikmati seperti pertunjukan seni drama tradisional yang alur ceritanya dan setting penokohannya beranjak dari latar belakang cerita kebudayaan dan tradisi masyarakat Mandar. Karya-karya seupa ini biasanya disusun oleh beberapa kelompok komunitas kesenian rakyat yang memang ajang melakukan aktivitas pertunjukan kesenian rakyat.

SENI TARI DAN GERAK


Seni tari dan gerak juga akan menjadi ikon tersendiri masyarakat Mandar di Kabupaten Polewali Mandar, yang menarik untuk dinikmati sebagai persembahan kesenian tradisional. Mulai dari tari tradisional yang menawarkan pergelaran seni tari dengan konsep dasar tari tradisional Mandar seperti Pattu�du hingga pada seni tari yang bersifat eksploratif seperti tari kreasi lainnya. Demikian pula seni gerak lainnya seperti pa�dego dan pa�macca (keduanya sejenis pertunjukan gerak tradisi Mandar) tetapi menyuguhkan gerak-gerak yang indah sehingga layak untuk dikonsumsi sebagai pertunjukan kesenian.

SENI KRIYA DAN ARSITEKTUR


Bidang lain dari kesenian khas Mandar yang juga dapat diamati di Polewali Mandar adalah beberapa bentuk ukiran. Mulai dari patung, hingga bentuk-bentuk ukiran untuk hiasan dan rumah-rumah panggung milik warga masyarakatnya. Ada ciri pahatan dan ukiran Mandar yang tersisa disetiap hasil aktivitas kesenian ini. Membuat ia menjadi menarik dan berbeda dengan daerah-daerah lainnya, sebab memiliki nilai dan makna tersendiri sebagai bagian dari pemahaman konsep dasar seni ukir atau pahat dan arsitektur orang Mandar.

MAKANAN KHAS

Makanan khas juga menjadi bahagian lain yang menarik untuk dinikmati pada kunjungan setiap orang yang datang ke Kabupaten Polewali Mandar. Ada banyak makanan khas yang tentu tidak akan ditemui di daerah lain. Untuk menikmati makanan khas maka dapat diperoleh di kedai-kedai rakyat yang terdapat di beberapa kecamatan di Polewali Mandar yang untuk mendapatkannya juga langsung dapat dinikmati di tempat pembuatannya. Sekaligus melihat dari dekat proses pembuatannya.
Selain di kedai-kedai rakyat di kampung-kampung, makanan khas Mandar juga dapat diperoleh dibeberapa tempat penjualan di pinggir jalan yang memang telah dipersiapkan menjadi tempat persinggahan bagi para pejalan yang langsung dapat menikmatinya. Seperti di Kecamatan Campalagian dan Tinambung. Selain itu, makanan khas masyarakat Mandar juga dapat diperoleh di beberapa pasar tradisional yang bertebaran hampir di semua kecamatan di Kabupaten ini.

SOUVENIR


Selain penganan atau makanan-makanan khas, untuk melengkapi kunjungan para petandang budaya dan pariwisata di Polewali Mandar. Juga tertawarkan beberapa bentuk dan jenis souvenir yang tersedia di beberapa pasar tradisional. Mulai dari sarung sutera Mandar yang cukup digemari oleh para pendatang dengan keragaman corak dan warna tergantung kepada status penggunanya. Juga bentuk souvenir lain yang berupa keterampilan miniatur perahu sandeq, kecapi Mandar dan beberapa jenis kap lampu yang bahan dan bentuknya diambil dari potensi alam dan budaya Polewali Mandar. Sehingga melakukan perjalanan ke Polewali Mandar, barang bawaan sebagai oleh-oleh bahkan kado perjalanan dari Tanah Mandar kiranya cukup untuk dibagi-bagi sebagai bukti bahwa benar kita telah berkunjung ke Tanah Mandar.

Segera setelah perjalanan seharian telah terlewatkan di Kabupaten Polewali Mandar. Maka matahari akan kembali ke peraduannya dan mengantarkan setiap pelancong dan pendatang untuk istirahat dan tertidur, seraya mengingat-ngingat kembali betapa indah perjalanan seharian di Tanah Mandar seakan melengkapi sebuah kenyataan bahwa betul kita yang pejalan budaya dan petandang wisata telah menjadi orang Mandar yang sungguh-sungguh orang Mandar. Yang bergumul dan menyatu dengan Mandar dengan segenap lekuk-lekuk irama kebudayaan dan alamnya yang indah nan eksotik. Dengan senyum masyarakat Mandar yang selalu siap merekah kepada setiap pendatang.

Dengan ditemani matahari yang akan tenggelam dan kembali keperaduannya meninggalkan semburatnya dengan warna cantik diatas puncak-puncak perbukitan dan pegunungan. Pengantar lelap dalam tidur panjang di tengah alam Mandar, sebab keesokan harinya kita akan terbangun bersama untuk menatap Polewali Mandar. Menatap Tanah Mandar dengan keanekaragamannya dan keluhuran budayanya sebagai sebuah entitas agung juga luhur.

Sumber : www.polmankab.go.id/pariwisata/
10.43 | 0 komentar

Ini Yang Menarik Di Apoang, Sendana Kab. Majene

Written By ian on Jumat, 16 Mei 2014 | 07.52

Apoang, daerah yang masuk dalam wilayah kecamatan Sendana kab. Majene, mengenali daerah ini hanya karena seorang kawan kini bermukim dan menikahi wanita asal dari daerah ini. Apoang, cukup mudah mengenalinya, jika anda dari arah Somba, kota kecamatan Sendana, kab.  Majene  maka daerah dengan garis pantai yang panjang dengan beberapa kedai kelapa muda yang tersusun rapi adalah wilayahnya. 

Di seberang kedai nyaris tak ada bangunan yang berdiri, karena hanya didominasi oleh kebun milik warga. Entah semenjak kapan kedai-kedai itu mulai berdiri, yang jelas pilihan untuk menikmati wisata kuliner di wilayah ini selalu tersedia. Walaupun sejauh pengamatan saya orang-orang yang mampir di kedai ini tidak begitu ramai, hanya ada beberapa kendaraan beroda dua atau beroda empat yang kadang mampir. 

kelapa muda apoang di kec. sendana kab. majene
kelapa muda apoang di kec. sendana kab. majene (Foto : Tommuane Mandar)
Kedai kelapa muda di Apoang menyajikan buah kelapa muda dengan berbagai macam variasi penyajian, ada yang disajikan dengan menu original yaitu campuran buah kelapa segar dengan serutan gula aren, namun ada pula yang disajikan dengan campuran sirup DHT, merek terkemuka untuk sirup buah yang tersebar di Pulau Sulawesi. Selain itu juga tersedia berbagai macam minuman bersoda, air mineral, aneka snack, dan bahan jualan lain khas kedai-kedai kelontong.

kedai kelapa muda apoang saat malam hari
kedai kelapa muda apoang saat malam hari (Foto : Tommuane Mandar)
Lalu apa yang menarik di Apoang? Dan mengapa sebaiknya anda harus rehat di tempat ini? Apoang menarik menurut saya, karena kedai-kedai ini semuanya menghadap ke lautan lepas, posisi dimana mentari selalu terbenam, maka pemandangan senja adalah mutlak dapat anda saksikan ketika menyempatkan mampir di sore hari menjelang malam. Dengan ditemani satu paket buah kelapa muda segar yang disajikan dengan gula aren produksi lokal yang tanpa pemanis buatan, maka kesempurnaan menikmati senja bisa jadi alasan anda harus mampir di tempat ini. Ada debur ombak dan hembusan angin yang juga akan menemani keseruan anda menikmati senja.
Lalu jika di siang hari seperti apa? anda juga masih bisa menikmati Apoang dengan sajian menu kelapa muda segarnya. Buah ini bisa jadi pelepas dahaga, pencuci pencernaan, dan penambah energi saat anda melalui jalur trans Sulawesi Barat yang panjang. Khawatir dengan hawa panas pantai, anda tak perlu memikirkan tentang itu, struktur atap kedai yang terbuat dari daun “rumbia” atau daun nipa menjadikan suasana didalam kedai menjadi lebih dingin, anda hanya akan ditemani oleh debur ombak dan semilir angin dari perairan pantai Apoang.

Pesisir pantai Apoang memang sangat tepat dijadikan sebagai tempat untuk menyantap kuliner dan menghabiskan waktu mengamati pergantian siang menjadi malam. Pantainya cukup bersih dan jauh dari kawasan penduduk, sehingga limbah rumah tangga tidak ditemukan disini.

Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
07.52 | 0 komentar

Titik Henti Terindah Di Batas Desa Mirring Kabupaten Polewali Mandar

Written By ian on Selasa, 12 November 2013 | 22.49

Desa Mirring, salah satu desa yang terdapat di kecamatan Binuang, kabupaten Polewali Mandar. Desa pesisir yang selalu saja indah menurut saya. Setiap kali menginjakkan kaki dan memacu tali gas motor dengan kecepatan cukup tinggi entah mengapa saya selalu saja punya waktu untuk mampir walau sejenak di spot "tikungan tajam" perbatasan desa yang mirip sirkuit-sirkuit di video game balapan mobil yang biasa saya mainkan.

Desa Mirring Polewali Mandar Spot tikungan tajam di perbatasan desa Mirring kab. Polewali Mandar (Foto : Tommuane Mandar)

Tikungan tajam ini spot favorit saya dengan tebing batu disisi kiri dan pantai di sisi sebelahnya, tentu saja dengan pembatas jalan yang terbuat dari campuran baja dan besi berkekuatan tinggi yang dipasang untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan di lokasi ini. Disini juga ditambahkan cermin cembung berukuran besar yang memungkinkan anda melihat kendaraan yang ada didepan anda sebelum berbelok. Saking tajamnya tikungan ini, anda tak dapat melihat kendaraan yang berlawanan arah karena terhalang oleh bukit batu berukuran kecil di salah satu sisinya.

bukit batu tikungan tajam desa mirring
Tebing batu di salah satu sisi perbatasan desa Mirring (Foto : Tommuane Mandar)

Spot yang tepat berada di perbatasan desa Mirring ini cukup jarang saya temui, dahulu di wilayah Barru ada spot yang mirip dengan lokasi ini, namun karena pelebaran yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Barru, maka bukit-bukit batu yang tajam sedikit dikikis dan jalanan diperlebar, karena itu tikungan yang tadinya tajam menjadi tidak lagi dramatis, pembangunan memang kadang merubah sesuatu yang sebelumnya dramatis atau seru menjadi hal yang biasa-biasa saja. Pembangunan sejatinya menghilangkan kealamian sesuatu.

Satu hal berbeda adalah spot tikungan tajam Mirring yang nyaris tidak berubah, walaupun beberapa kali terjadi kecelakaan lalu lintas yang terjadi di lokasi ini, tetap saja bukit batu kecil itu tidak dikikis, atau mungkin wilayah ini belum mengagendakan proyek pelebaran jalan? entahlah, yang jelas spot ini selalu indah.

Mirring pada awalnya adalah desa yang bergabung dalam wilayah kecamatan Polewali dan kini masuk kedalam wilayah kecamatan Binuang. Dimanakah pesona terindah kabupaten Polewali Mandar untuk pemandangan pesisir dan areal persawahannya? kalau ada pertanyaan seperti itu, maka saya akan menjawab desa-desa di kecamatan Binuang adalah jawabannya, saat saya memasuki wilayah Binuang, entah itu dari arah Kabupaten Pinrang atau dari kota Polewali maka daerah ini menurut saya yang paling memanjakan mata. Binuang mempesona semenjak kita meninggalkan wilayah kota Polewali, disambut oleh areal persawahan, topografi berbukit, dan sesekali oleh kawasan pesisir dengan Mangrove (bakau) yang menemani selama perjalanan, belum lagi pulau-pulau yang terletak tepat didepan mata dan jelas terlihat dari tepi jalan. sebutlah misalnya Pulau Battoa yang dapat anda lihat langsung dari spot ini.

Bakau Mangrove Desa Mirring Polewali Mandar
 Pohon bakau (mangrove) di batas desa Mirring (Foto : Tommuane Mandar)

batas desa Mirring Polman
Bentuk tikungan tajam serupa kapsul dengan cermin cembung di sisi jalan (Foto : Tommuane Mandar)

batas desa mirring
Spot yang juga menjadi batas desa Mirring dengan desa tetangganya  (Foto : Tommuane Mandar)

Spot di perbatasan desa Mirring berupa tikungan tajam yang sudah cukup memakan korban ini adalah lokasi sempurna menurut saya, latar belakang Pulau Battoa dan hutan mangrove sangat apik untuk lokasi memotret, lokasinya berjarak sekitar 200 m dari perumahan penduduk, karena itu pesona alaminya masih bisa terlihat dengan jelas. Tak ada rumah penduduk yang akan menjadi latar memotret anda.
Pulau battoa batas desa mirring polewali
Pulau Battoa tampak dari batas desa Mirring  (Foto : Tommuane Mandar)

Kondisi kealamian ini sebaiknya terjaga, ini paling tidak bisa memanjakan mata orang-orang yang melakukan perjalanan di trans Sulawesi. Tetapi sejatinya masyarakat, penjaga kealamian Mirring, serta pemerintah, pihak pemilik kekuasaan tertinggi yang memiliki kebijakan penuh atas desa ini adalah dua pihak yang bertanggung jawab atas titik terindah di kecamatan Binuang ini.


Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
22.49 | 0 komentar

Permandian Alam Air Panas Limboro Majene, Dari Hangat Hingga Panas Berlebihan

Written By ian on Jumat, 08 November 2013 | 06.11

Permandian alam air panas Limboro Majene, salah satu dari potensi objek wisata di kabupaten Majene yang menurut saya begitu pantas untuk dijadikan primadona andalan wisata. Mengapa saya katakan demikian? ada kehangatan "air panas alam" yang tersedia selama waktu yang tidak terbatas disini. Anda dapat dengan puas menikmati kehangatn air alamnya yang etah berasal darimana.

Telah lama objek wisata ini dikenal oleh orang-orang di kecamatan Sendana, utamanya mereka yang berdomisili dekat dengan desa Limboro, desa dimana objek wisata ini terletak. Desa asri yang terletak diantara gunung tinggi  di daerah pedalaman Sendana. Namun, tampaknya untuk kalangan penikmat wisata di Kabupaten Majene sendiri ataupun di Sulawesi Barat sepertiya belum cukup mengenal objek wisata "uai makula" ini. Saya mengenalny setelah seorang rekan yang selalu berkunjung kesini mengajak saya berkunjung ke tempat ini.

Pertama kali menjejakkan ke lokasi objek wisata yang menurut saya jarang di Sulawesi Barat ini (wisata permandian air panas alam) saya betul-betul takjub, entah berapa derajat Celcius suhunya, saya hampir-hampir tak bisa mencelupkan kedua kaki kedalam kolam yang berukuran besar, apatah lagi untuk kolam yang berukuran kecil, sesuai bidang permukaan semakin kecil permukaan maka penguapan akan semakin berkurang, maka jadilah kolam besar akan cenderung lebih dingin suhunya dibanding dengan kolam berukuran kecil. 

Terdapat kurang lebih tiga buah kolam, satu berukuran besar, sementara yang lainnya berukuran sedang dan kecil. Ketiganya tampaknya mendapatkan sumber mata air panas yang berbeda. Untuk kolam besar mata airnya disuplai oleh kolam berukuran kecil, sementara kolam sedang mata airnya disuplai dari titik yang berada di bagian atas kolam.

Konon mandi dipermandian ini dapat menghilangkan penyakit kulit yang anda derita. Dugaan saya kemungkinan terdapat sumber beleran dalam jumlah banyak disekitar kawasan ini, karena biasanya adanya aktivitas vulkanologik biasanya mendukung terciptanya air alam bersuhu panas.

Jika anda butuh merefleksi tubuh anda bisa ke tempat ini untuk sejenak merendam kedua kaki, atau bahkan mencelupkan seluruh tubuh dalam airnya yang cukup panas. Untuk soal berapa derajat Celcius panasa yang dihasilkan saya tidak tahu tepat, yang jelas saya yakin untuk tidak mencelupkan seluruh anggota badan dalam kolam ini, baik yang besar sedang atau kecil, panasnya cukup hebat menurut sayabelum lagi kondisi alam yang dingin di sekitar kolam yang ditumbuhi oleh pepohonan tinggi khas pegunungan membuat suasana dingin, kontras dengan air kolam yang begitu panas.

Satu fakta yang saya dapati saat menjejaki objek wisata ini adalah akses jalan yang cukup sulit, memacu adrenalin karena anda harus memacu kendaraan di puncak dengan ketinggian entah berapa derajat. rute jalan berukuran kecil kadang beraspal dan beton tidak mudah untuk dilalui, singkatnya "butuh perjuangan" untuk sampai ke tempat wisata ini. Jurang menganga di sisi kiri dan kanan serta tanjakan dan turunan yang curam memaksa anda untuk tetap fokus pada rute jalan yang dilalui. Lalu janga berharap jika jalurnya padat, sebaliknya ini jalur sepi, kurang lebih sama ketika kita berada di tengah hutan cagar alam, hanya ada pohon, sungai dan suara burung yang akan anda dengarkan. Sesekali anda akan menemukan warga desa Limboro yang melalui rute ini dari desa mereka menuju kota kecamatan Sendana.

 Kolam berukuran sedang Permandian Alam Limboro Sendana kab. Majene
Foto : Tommuane Mandar

  Kolam berukuran besar Permandian Alam Limboro Sendana kab. Majene
Foto : Tommuane Mandar

  Kolam berukuran kecil sebagai sumber mata air bagi kolam besar
 Permandian Alam Limboro Sendana kab. Majene
Foto : Tommuane Mandar
Satu kekaguman saya pada warga desa setempat yang tahan berendam di kolam yang berukuran kecil, yangmmenurut saya tingkat panasnya cukup tinggi, mereka dengan mudahnya berendam, bahkan mandi di kolam yang kecil ini, sepertinya tubuh mereka telah melakukan adaptasi terhadap suhu kolam, sehingga tubuhnya menganggap bahwa suhu air kolam masih dapat ditolerir, dan mereka tahan dengan panasnya air kolam. Para peladang yang pulang dari tempatnya bekerja kadang singgah di kolam ini untuk sekedar berendam, mandi dan kemudian pulang kerumahnya, 

Masuk ke objek wisata ini anda tidak harus membayar biaya retribusi, tiak ada pihak pengelola disini, karena itu anda dapat berpuas dan berlama-lama masuk ke area objek wisata ini. Salah satu faktor penting yang sekiranya dapat membuat objek wisata ini dapat diakses dengan mudah adalah adanya akses jalan yang memadai, dan itu tampaknya belum cukup maksimal dilakukan oleh pihak yang bertanggung jawab atas ini.

Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
06.11 | 0 komentar

Mencicipi Sensasi Sungai Limbong Sitodo, Kab. Polman

Written By ian on Jumat, 02 Agustus 2013 | 21.14

Derasnya sungai Limbong Sitodo bukanlah suatu alasan untuk tidak mencicipi kenaturalan sungai ini. Permandian alam Limbong Sitodo ini berada dalam wilayah Kelurahan Anreapi Kecamatan Polewali. Objek wisata alam ini terletak tak jauh dari kota Polewali, hanya berjarak 6 km, menjadikan Limbong sebagai alternative dalam agenda wisata sungai para wisatawan. Apalagi pada saat musim Durian, Rambutan, ataupun Langsat semakin menambah kegairahan wistawan untuk berkunjung ke Limbong Sitodo.

Limbong Sitodo Polman
Panorama Wisata Alam Limbong Sitodo Polman
Foto : http://disbudparpolman.weebly.com/ 
Pada musim buah tersebut, anda akan menjumpai banyak pedagang yang menjual ketiga buah tersebut disepanjang jalur masuk Limbong. Maka tak heran, jika setelah menikmati sensasi sungai Limbong, kurang afdol rasanya jika tak menjadikan ketiga buah tersebut sebagai buah tangan untuk keluarga anda. Tak perlu khwatir masalah harga, semuanya bisa dinegosiasikan.

Layaknya tempat permandian pada umumnya, fasilitas penunjang rekreasi juga tersedia. Ada beberapa gazebo dan beberapa tempat pilihan untuk sejenak menatap aliran sungai Limbong. Setidaknya sensasi kelembapannya sedikit membantu anda untuk kembali merefresh pikiran anda dari rutinitas yang cukup membelenggu. 

Wisata Alam Limbong Sitodo Polewali Mandar
Wisata Alam Limbong Sitodo di Kab. Polewali Mandar
Foto : http://disbudparpolman.weebly.com/
Hampir tiap hari permandian yang terkenal dengan keindahan panoramanya ini dipadati wisatawan lokal, apalagi jika bertepatan dengan hari libur. Ini terlihat dengan padatnya tempat parkiran yang disediakan, alhasil orang-orang yang mencari nafkah sebagai juru parkir kadang kewalahan karena musti mengatur kendaraan yang bajibun banyaknya. Ditambah lagi, lahan parkir yang tersedia tidak terlalu besar, mengingat lokasi permandian Limbong terletak diantara pegununggan. Kendati demikian, tak urung menyurutkan niat menggebu para wisatawan untuk berderu bersama arus sungai Limbong. 

Sungai Limbong Sitodo
Sungai Limbong Sitodo yang alami
Foto : http://disbudparpolman.weebly.com/
Sajian panorama alam Limbong Sitodo semakin diperindah dengan tebing-tebing yang menjualang tinggi. Dan tepat di bawahnya terdapat beberapa batuan tinggi yang sering digunakan oleh para wisatawan, terkhusus mereka yang hobby melakukan antraksi lompat indah. Namun, kewaspadaan harus tetap di jaga, apalagi bagi wisatawan yang tidak memiliki cukup keberanian untuk mencobanya. Terlepas dari itu, berwisata ke Limbong Sitodo bukanlah pilihan yang mengecewakan.

Sumber Penulis :

Dian Febriani, hobi travelling, menulis, dan membaca buku, saat ini sedang bermukim di Makassar, menempuh pendidikan di Universitas Negeri Makassar (UNM) jurusan pendidikan Bahasa Inggris, aktif di organisasi kampus Lembaga Penerbitan dan Penyiaran Mahasiswa (LPPM) Profesi UNM
Kontak Saya :
facebook : https://www.facebook.com/yuuka.shimizudhani 




21.14 | 0 komentar

Memotret Sisi Dermaga Kota Majene

Written By ian on Rabu, 31 Juli 2013 | 20.38

Majene, kota kabupaten yang masuk dalam wilayah provinsi Sulawesi Barat adalah salah satu dari enam kabupaten yang menyusun provinsi ini. Majene menjadi kabupaten yang berusia cukup tua seusia Mamuju, dan Polewali Mandar, kabupaten Mamasa, kabupaten Mamuju Utara dan kabupaten Mamuju Tengah menjadi kabupaten pendukung yang merupakan hasil pemekaran.

Dermaga Kota Majene
Dermaga kota Majene tampak dari kejauhan (Foto : Tommuane Mandar)
Kota Majene memiliki garis panjang pantai sekitar 125 km yang memanjang dari selatan hingga ke utara, karena alasan topografi pesisir pantai yang cukup panjang ini, maka ketika anda melintasi wilayah kabupaten Majene maka pemandangan pesisir pantai adalah view yang akan sering anda temui. Dari topografi kota Majene ini pulalah berkembang budaya dan penghidupan masyarakat yang dekat dengan laut, karena itu potensi laut dan pesisir adalah hal yang dominan di kota kabupaten ini. Sebagian masyarakatnya hidup di wilayah pesisir dan menggantungkan hidup dari laut, walaupun tidak semua masyarakat berdomisili di wilayah pantai.

Masyarakat kota Majene sehari-hari dekat dengan kehidupan laut dan pesisir adalah hal yang wajar. Perahu nelayan, ikan segar, tempat pelelangan ikan, aroma laut, semuanya adalah hal yang lumrah bagi masyarakat di kota ini. Dan tempat-tempat masyarakat kota ini berkumpul adalah umumnya dekat dengan laut dan pantai.

Pantai Dato Majene
Tampak di ujung daratan adalah Pantai Dato dengan pasir putihnya (Foto : Tommuane Mandar)
Pemandangan Pelabuhan Majene
Pemandangan pelabuhan Majene tampak dari atas (Foto : Tommuane Mandar)
Perahu Nelayan Majene
Perahu nelayan di pesisir pantai Majene yang ditambatkan (Foto : Tommuane Mandar)
Dinding Pemecah Ombak Majene
Salah satu dinding pemecah ombak di Pantai Majene (Foto : Tommuane Mandar)
Secara umum kota kabupaten ini beriklim cukup panas dengan masa musim penghujan yang singkat, namun perubahan iklim saat ini yang cukup ekstrim membuat kota Majene menjadi tidak dapat ditentukan masanya, kadang iklimnya panas namun dilain waktu hujan dapat saja tiba-tiba muncul.

Sisi dermaga Majene adalah tempat yang paling mudah dikunjungi jika anda ingin berwisata, walaupun memang juga terdapat objek wisata yang terdapat di daerah pegunungan. Di  dermaga anda akan dengan mudah menemukan para pemancing ikan, nelayan yang pulang dari laut, anak-anak yang mandi, serta warga yang sedang menikmati pemandangan pantai.

Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
20.38 | 0 komentar

Menyingkap Pesona Wisata Sejarah Dan Budaya Desa Pamboqborang Kab. Majene

Written By ian on Senin, 29 Juli 2013 | 06.43

Pamboqborang, salah satu desa yang masuk dalam wilayah administrasi kabupaten Majene provinsi Sulawesi Barat, berjarak sekitar 5 km dari kota kabupaten, menyimpan berbagai macam potensi wisata sejarah dan budaya yang belum banyak dikenal oleh orang-orang. Mulai dari potensi wisata sejarah berupa  kompleks makam berusia ratusan tahun, wisata budaya kampung pandai besi, dan wisata air terjun.

Desa Pamboqborang kab. Majene
Desa Pamboqborang kab. Majene tampak dari atas (Foto : Nasbi)
Wisata Budaya (Sentra pandai besi di kabupaten Majene)
Pamboborang merupakan salah satu desa yang terletak di kecamatan Banggae Kabupaten Majene. Desa ini baru terbentuk pada tahun 2012 setelah resmi memisahkan diri dari kelurahan Totoli Kabupaten Majene. Pamboborang juga terkenal dengan julukan “Kappung Kowiq” (kampung pandai besi) karena sejak zaman dahulu sampai sekarang di kampung ini mayoritas masyarakatnya merupakan pandai besi. Mereka tersebar diseluruh kampung, dan menyusun persentasi hingga 90% warga merupakan pandai besi “pande bassi”. Ketika memasuki wilayah desa ini, maka anda akan disambut dengan gerbang yang berbentuk parang.

Pemandangan Desa Pamboqborang Majene
Pemandangan Desa Pamboqborang Majene tampak dari atas bukit (Foto : Nasbi)
Wisata Sejarah (Kompleks Pemakaman Berusia Ratusan Tahun)
Desa pamboqborang memiliki beberapa kompleks makan berusia ratusan tahun yang masuk dalam inventaris balai purbakala Sulawesi Selatan serta mendapat perhatian khusus dari dinas budaya dan pariwisata. Setidaknya ada empat kompleks makam (Kompleks Makam Tosalamaq, Kompleks Makam Imanang, Kompleks Makam Kubang, dan Kompleks Makam Tambulese)

Kompleks Makam Kuno Imanang dan Kubang.
Merupakan pekuburan yang tercatat sebagai pekuburan kuno yang ada di Kabupaten Majene. Dua pekuburan ini berjarak cukup dekat, antara pekuburan Imanang dan Kubang hanya berjarak 250 meter. Jika anda berkunjung ke tempat ini dan menemukan tempat ini sangat bersih, maka jangan heran karena warga desa punya perhatian besar dengan rutin membersihkannya.

Kompleks Makam Imanang

Kompleks Makam Imanang Desa Pamboqborang
Kompleks makam Imanang di desa Pamboqborang kab. Majene (Foto : Nasbi)
Kompleks Makam Imanang Desa Pamboqborang Majene
Kondisi kompleks Makam kuno Imanang Desa Pamboqborang (Foto : Nasbi)
Kompleks Makam Kubang

Kompleks Makam Kubang Desa Pamboqborang
Kompleks Makam Kubang Desa Pamboqborang di kab. Majene (Foto : Nasbi)
Kompleks Makam Kubang Desa Pamboqborang Majene
Salah satu makam dalam kompleks makam Kubang Desa Pamboqborang Majene (Foto : Nasbi)
Makam Tosalamaq I
Makam ini dipercaya sebagai makam ulama yang membawa ajaran Agama Islam di sekitar Pamboqborang. Makam ini terletak di atas bukit Pamboqborang, merupakan makam Tosalamaq utama. Pemakaman ini selalu ramai dengan peziarah yang datang dari desa Pamboqborang dan sekitarnya. Ada tradisi yang unik yang dilakukan oleh para peziarah yang datang ke kubur “Tosalamaq” ini, yakni: melepas ayam dengan jumlah banyak, bagi warga atau peziarah yang dapat menangkap ayam yang dilepas tadi maka ia berhak untuk memiliki ayam tersebut. Selain itu, tradisi siram air kobokan “pekkonyoang” setelah acara juga sangat unik, peziarah saling siram satu sama lain sehingga suasana kekeluargaan pada saat acara sangat terasa.

Makam Tosalamaq 1 Desa Pamboqborang Majene
Makam Tosalamaq 1 Desa Pamboqborang Majene (Foto : Nasbi)
Makam Tosalamaq 1 Desa Pamboqborang
Makam Tosalamaq utama yang terdapat di puncak bukit desa Pamboqborang (Foto : Nasbi)
Makam Tosalamaq II

Makam Tosalamaq 2 Desa Pamboqborang
Makam Tosalamaq 2 Desa Pamboqborang yang terletak di tepi bukit (Foto : Nasbi)
Makam ini juga terletak diatas bukit pamboqborang, jarak dari kuburan Tosalamaq Utama ke makam ini sejauh 300 meter. Makam ini juga dikunjungi oleh para peziarah, bedanya adalah di makam utama seluruh peziarah berkumpul dan melakukan tradisi yang telah disebutkan tadi, sedangkan dimakam yang kedua ini peziarah hanya membaca doa dan dilakukan oleh orang-orang tua. Selain itu, di lokasi kuburan kedua ini merupakan arena perlombaan layangan Mandar “Pappasitindaq layang”,

Makam “Tokaiyyang”
Makam Tokaiyyang Desa Pamboqborang Majene
Makam Tokaiyyang di Desa Pamboqborang Majene (Foto : Nasbi)
Makam ini merupakan makam orang yang sangat dituakan di desa ini. "Tokayyang" atau "Toniposo di Sendana" adalah salah satu tokoh yang sangat disegani di masanya, konon ia pernah berperang dengan orang dari Somba selama tiga hari tanpa bantuan (sendiri) dan dia selamat pada perang saat itu.

Wisata Alam ( Bendungan, Air Terjun, dan Mata Air)

Bendungan "Ceqdang" Pamboqborang

Bendungan Ceqdang Pamboqborang Majene
Bendungan Ceqdang Pamboqborang Majene (Foto : Nasbi)
Bendungan Ceqdang Pamboqborang
Bendungan Ceqdang Pamboqborang di kab. Majene (Foto : Nasbi)
Tempat ini merupakan bendungan yang pernah dibangun pada akhir tahun 1970-an. Akan tetapi, bendungan ini hanya dapat bertahan sekitar 10 tahun dan akhirnya jebol. Bendungan "ceqdang" yang jebol sempat membuat warga kampung yang dilalui oleh sungai Salu khawatir. Sampai sekarang reruntuhan bendungan ini masih dapat dilihat dan banyak orang yang menggunakan tempat ini sebagai tempat rekreasi dan spot untuk foto prawedding. Tampak fisik bendungan ini cukup panjang dan masih baik namun karena tidak terawat ia mulai usang dimakan usia.
Air Terjun  “Uai Turang”
Air Terjun Desa Pamboqborang
Air Terjun "Uai Turang" Desa Pamboqborang (Foto : Nasbi)
Air Terjun Desa Pamboqborang Majene
Air Terjun Desa Pamboqborang di Kab. Majene (Foto : Nasbi)
Air terjun ini hanya berjarak 400 meter dari sumber mata air Salu, tempat ini sangat pas dikunjungi pada saat libur tiba. Tempat ini biasanya ramai ketika hari minggu atau hari-hari libur sekolah. Akses ke tempat ini bisa dibilang cukup mudah karena masih berada disekitar wilayah desa. Didekat air terjun ini terdapat lapangan yang sering digunakan oleh anak-anak sekolah untuk kegiatan perkemahan dan Palang Merah Remaja (PMR).

Mata air “Uai Salu”
Mata Air Uai Salu Desa Pamboqborang
Mata Air Uai Salu Desa Pamboqborang kab. Majene (Foto : Nasbi)
Mata Air Uai Salu Desa Pamboqborang kab Majene
Mata Air Uai Salu Desa Pamboqborang di kab Majene (Foto : Nasbi)
Sejak dahulu warga sekitar desa Pamboborang menggunakan mata air ini sebagai sumber mata air yang dapat diminum, mata air ini tidak pernah kering. Sampai sekarang mata air ini masih digunakan oleh warga sekitar, bukan hanya warga sekitar Pamboqborang yang mengambil air di tempat ini tetapi warga yang berada di luar bahkan yang berasal dari kota Majene juga banyak yang datang mengambil air ditempat ini untuk diminum.
Kolam Sandang
Kolam Sandang Desa Pamboqborang Majene
Kondisi kolam Sandang Desa Pamboqborang Majene saat ini (Foto : Nasbi)
Kolam Sandang Desa Pamboqborang
Kolam Sandang Desa Pamboqborang yang tak pernah kering (Foto : Nasbi)
Kolam ini terletak dilereng bukit pamboqborang, diyakini oleh masyarakat bahwa kolam ini merupakan tempat yang sering dipakai oleh leluhur untuk mengadakan upacara adat seperti memandikan putri dan lain-lain. Kolam ini sejak dahulu tidak pernah kering meskipun musim kemarau berkepanjangan melanda tempat ini. Para peziarah yang mengunjungi kuburan "Tosalamaq" juga sering memanjatkan doa ditempat ini, terdapat kuburan orang yang pertama membuat "Ceqdang" yaitu pada tangga turun kekolam ini. Dahulu kala yang dapat menggunakan kolam ini hanyalah para pembesar “Tokaiyanna Kappung” namun sekarang semua warga dapat menggunakan kolam ini.

Potret potensi desa Pamboqborang kab. Majene di atas sebagai alternatif wisata sejarah, wisata budaya, dan wisata alam menunggu untuk dikunjungi dan diperkenalkan ke dunia luar. Berbagai macam cerminan masyarakat yang masih menjalani tradisi, melanjutkan profesi nenek moyang, dan jejak peradaban yang masih bisa terbaca.

Penulis :
Nasbi
Nasbi, saat ini menetap di lingk. Moloku, Kec. Banggae Kab. Majene. Alumnus S1 Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Negeri Makassar.  Hobi menulis dan bertualang, memiliki minat besar dalam ranah budaya, sejarah, fotografi, dan travelling.

Kontak Saya :
twitter : https://twitter.com/bie_huzaimah
blog :  http://diarylukaq.blogspot.com/

Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
06.43 | 0 komentar

Selamat Datang

Gambar Selamat Datang

Categories

Download Buku Imam Lapeo

Buku Imam Lapeo

Download Buku FPRT

FPRT di Tanah Mandar

Download Buku Sulbar

Buku SULBAR

Link Mandar

Dinas Pemuda Olahraga& Pariwisata Sulbar Radar Sulbar Sulbarcom Mamuju Pos Suara Sulbar Malaqbicom Kandoracom Kemenhukum DinKes KUA KUAWono DinKes BKKBN BPS BPKP Kampung Mandar Tommuane Mandar Kampung Mandar DEsa Tamanggalle MAndar Kita MIN Polewali MuhSulbar MuhPolman Kompadansa KPU Sulbar Bawaslu Sulbar Puang.com

Download Sayang-Sayang

Sayang-Sayang