Assalamu Alaikum,  lulluare...!   |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Sang Penegak Keadilan "Baharuddin Lopa" yang berani melawan kebobrokan hukum.

Written By ian on Jumat, 26 Juni 2015 | 03.23

Dalam menegakkan hukum dan keadilan, Lopa, jaksa yang hampir tidak punya rasa takut, kecuali kepada Allah. Dia, teladan bagi orang-orang yang berani melawan arus kebobrokan serta pengaruh kapitalisme dan liberalisme dalam hukum. Sayang, suratan takdir memanggil Jaksa Agung ini tatkala rakyat membutuhkan keberaniannya. Tetapi dia telah meninggalkan warisan yang mulia untuk menegakkan keadilan. Dia mewariskan keberanian penegakan hukum tanpa pandang bulu bagi bangsanya.

Ketika menjabat Jaksa Tinggi Makassar, ia memburu seorang koruptor kakap, akibatnya ia masuk kotak, hanya menjadi penasihat Lihat Daftar Menteri
Menteri. Ia pernah memburu kasus mantan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Presiden Soeharto dengan mendatangi teman-temannya di Kejaksaan Agung, di saat ia menjabat Sekretaris Jenderal Komnas HAM. Lopa menanyakan kemajuan proses perkara Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Pak Harto. Memang akhirnya kasus Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Pak Harto diajukan ke pengadilan, meskipun hakim gagal mengadilinya karena kendala kesehatan.

Lopa dan Bismar Siregar merupakan contoh yang langka dari figur yang berani melawan arus. Sayang Lopa sudah tiada dan Bismar sudah pensiun. Tetapi mereka telah meninggalkan warisan yang mulia kepada rekan-rekannya. Tentu untuk diteladani.

Baharudin Lopa meninggal dunia pada usia 66 tahun, di rumah sakit Al-Hamadi Riyadh, pukul 18.14 waktu setempat atau pukul 22.14 WIB 3 Juli 2001, di Arab Saudi, akibat gangguan pada jantungnya.

Lopa, mantan Dubes RI untuk Saudi, dirawat di ruang khusus rumah sakit swasta di Riyadh itu sejak tanggal 30 Juni. Menurut Atase Penerangan Kedubes Indonesia untuk Arab Saudi, Joko Santoso, Lopa terlalu lelah, karena sejak tiba di Riyadh tidak cukup istirahat.

Lopa tiba di Riyadh, 26 Juni untuk serah terima jabatan dengan Wakil Kepala Perwakilan RI Kemas Fachruddin SH, 27 Juni. Kemas menjabat Kuasa Usaha Sementara Kedubes RI untuk Saudi yang berkedudukan di Riyadh. Lopa sempat menyampaikan sambutan perpisahan.

Tanggal 28 Juni, Lopa dan istri serta sejumlah pejabat Kedubes melaksanakan ibadah umrah dari Riyadh ke Mekkah lewat jalan darat selama delapan jam.

Lopa dan rombongan melaksanakan ibadah umrah malam hari, setelah shalat Isya. Tanggal 29 Juni melaksanakan shalat subuh di Masjidil Haram. Malamnya, Lopa dan rombongan kembali ke Riyadh, juga jalan darat.

Ternyata ketahanan tubuh Lopa terganggu setelah melaksanakan kegiatan fisik tanpa henti tersebut. Tanggal 30 Juni pagi, Lopa mual-mual, siang harinya (pukul 13.00 waktu setempat) dilarikan ke RS Al-Hamadi.

Presiden KH Abdurahman Wahid, sebelum mengangkat Jaksa Agung definitif, menunjuk Soeparman sebagai pelaksana tugas-tugas Lopa ketika sedang menjalani perawatan. Penunjukan Soeparman didasarkan atas rekomendasi yang disampaikan Lopa kepada Presiden. Padahal Lopa sedang giat-giatnya mengusut berbagai kasus korupsi.

Sejak menjabat Jaksa Agung, Lopa memburu Sjamsul Nursalim yang sedang dirawat di Jepang dan Prajogo Pangestu yang dirawat di Singapura agar segera pulang ke Jakarta. Lopa juga memutuskan untuk mencekal Marimutu Sinivasan. Namun ketiga konglomerat ?hitam? tersebut mendapat penangguhan proses pemeriksaan langsung dari Wahid, alias Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
Gus Dur.

Lopa juga menyidik keterlibatan Pendiri Meta Epsi Drilling Company (Medco)
Arifin Panigoro, Ketua Dewan Pembina Partai Golkar
Akbar Tandjung, dan Nurdin Halid dalam kasus korupsi. Gebrakan Lopa itu sempat dinilai bernuansa politik oleh berbagai kalangan, namun Lopa tidak mundur. Lopa bertekad melanjutkan penyidikan, kecuali ia tidak lagi menjabat Jaksa Agung.

Sejak menjabat Jaksa Agung, 6 Juni 2001, menggantikan Marzuki Darusman, Lopa bekerja keras untuk memberantas korupsi. Ia bersama staf ahlinya Dr Andi Hamzah dan Prof Dr Achmad Ali serta staf lainnya, bekerja hingga pukul 23.00 setiap hari.

Penghormatan terakhir
Jenazah Lopa disemayamkan di Kejaksaan Agung untuk menerima penghormatan terakhir. Soeparman yang mengenal Lopa sejak lama, menilai seniornya sebagai seorang yang konsisten dalam penegakan hukum, sangat antikorupsi, sederhana, dan selalu berusaha agar orang-orang yang berada di sekitarnya bersih.

Meski menjabat Jaksa Agung hanya 1,5 bulan, Lopa berhasil menggerakkan Kejaksaan Agung untuk menuntaskan perkara-perkara korupsi. Karena itu jajaran kejaksaan merasa sangat kehilangan.

Ajudan Lopa, Enang Supriyadi Samsi kaget ketika mendengar kabar kepergian Lopa, karena ia tahu Lopa jarang sakit, apalagi sakit jantung. Kalaupun dirawat di rumah sakit lantaran kelelahan, soalnya ia pekerja keras.

Kalimat kunci dari Lopa yang tidak pernah dilupakan Enang, ?kendatipun kapal akan karam, tegakkan hukum dan keadilan.?

Soeparman dipanggil Presiden Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
Gus Dur ke Istana Negara, Senin, menunjuknya sebagai pelaksana tugas Jaksa Agung. Tidak ada arahan khusus dari Presiden. ?Laksanakan tugas, lanjutkan apa yang sudah dan akan dilakukan Pak Lopa?. Hanya itu pesan Presiden Republik Indonesia Keempat (1999-2001)
Gus Dur. Soeparman adalah Doktor Ilmu Hukum Pidana Perpajakan, UI.

Saat itu Lopa masih dirawat, belum meninggal dunia. Dengan demikian Keppres penunjukan Soeparman mengundang tanda tanya publik. Memang Wakil Jaksa Agung otomatis mengambil alih tugas-tugas atasannya bilamana yang bersangkutan berhalangan.

Keppres serupa pernah dikeluarkan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988)
Pak Harto ketika mengangkat Jaksa Agung (1990-1998)
Singgih sebagai pelaksana tugas-tugas Jaksa Agung Sukarton yang meninggal dunia.

Warisan Lopa
Kepergian Lopa sangat mengejutkan, meninggal ketika ia menjadi tumpuan harapan rakyat yang menuntut dan mendambakan keadilan. Sejak menjabat Jaksa Agung (hanya 1,5 bulan), Lopa mencatat deretan panjang konglomerat dan pejabat yang diduga
terlibat KKN, untuk diseret ke pengadilan.

Ketika menjabat Lihat Daftar Menteri
Menteri Kehakiman dan HAM, ia menjebloskan raja hutan Bob Hasan ke Nusakambangan. Ktegasan dan keberaniannya jadi momok bagi para koruptor kakap.

Menurut Andi Hamzah, sebelum bertolak ke Arab Saudi, Lopa masih meninggalkan beberapa tugas berat. Kepergian Lopa untuk selamanya, memang membawa dampak serius bagi kelanjutan penanganan kasus-kasus korupsi.

Banyak perkara yang sedang digarap tidak jelas lagi ujung pangkalnya. Banyak masih dalam tahap pengumpulan bukti, sudah ada yang selesai surat dakwaan atau sudah siap dikirim ke pengadilan. Banyak perkara yang tertahan di lapis kedua dan ketiga.

Akbar sendiri, meski termasuk tokoh politik yang diburu Lopa, mendukung langkah penegakan hukum yang diprakarsai Lopa. ?Kita merasa kehilangan atasas kepergian Lopa.?

Pengacara yang membela banyak kasus korupsi, Mohammad Assegaf, menyayangkan Lopa melangkah pada waktu yang salah.
He?s the right man in the wrong time. Karena itu ia kehilangan peluang untuk melakukan pembenahan.

Pengamat hukum JE Sahetapy menginginkan kelanjutan pengungkapan kasus-kasus korupsi, meski Lopa sudah tiada. Kata Sahetapy, the show must go on.

Lopa sendiri sudah punya firasat, tugasnya selaku Jaksa Agung takkan lama. Banyak orang mengaitkannya dengan masa jabatan Gus Dur yang singkat. Tetapi masa bhakti Lopa jauh lebih singkat.

Ia sudah merasa bahwa langkah yang dimulainya akan memberatkan penerusnya.

Anak Dusun
Barlop, demikian pendekar hukum itu biasa dipanggil, lahir di rumah panggung berukuran kurang lebih 9 x 11 meter, di Dusun Pambusuang, Raja Gowa ke-16, dinobatkan pada tahun 1653
Sulawesi Selatan, 27 Agustus 1935. Rumah itu sampai sekarang masih kelihatan sederhana untuk ukuran keluarga seorang mantan Lihat Daftar Menteri
Menteri Kehakiman dan HAM dan Jaksa Agung. Ibunda pria perokok berat ini bernama Samarinah. Di rumah yang sama juga lahir seorang bekas menteri, Basri Hasanuddin. Lopa dan Basri punya hubungan darah sepupu satu.

Keluarga dekatnya, H. Islam Andada, menggambarkan Lopa sebagai pendekar yang berani menanggung risiko, sekali melangkah pantang mundur. Ia akan mewujudkan apa yang sudah diucapkannya. Memang ada kecemasan dari pihak keluarga atas keselamatan jiwa Lopa begitu ia duduk di kursi Jaksa Agung. Ia patuh pada hukum, bukan pada politik.

Lopa menerima anugerah Government Watch Award (Gowa Award) atas pengabdiannya memberantas korupsi di Indonesia selama hidupnya. Simboliasi penganugeragan penghargaan itu ditandai dengan Deklarasi Hari Anti Korupsi yang diambil dari hari lahir Lopa pada 27 Agustus.

Lopa terpilih sebagai tokoh anti korupsi karena telah bekerja dan berjuang untuk melawan ketidakadilan dengan memberantas korupsi di Indonesia tanpa putus asa selama lebih dari 20 tahun. Almarhum Lopa, katanya, adalah sosok abdi negara, pegawai negeri yang bersih, jujur, bekerja tanpa pamrih, dan tidak korup.

Menurut Ketua Gowa Farid Faqih, korupsi di Indonesia telah menyebabkan kebodohan dan kemiskinan bagi seluruh rakyat, tidak mungkin diatasi jika pihaknya, lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, militer, dan pimpinan parpol tetap melakukan korupsi. Karena itu perlu dimulai hidup baru melalui gerakan moral dan kebudayaan untuk memberantas korupsi.

Istri Lopa, Indrawulan, telah memberi contoh kesederhanaan istri seorang pejabat. Watak keras dan tegas suaminya tidak dibuat-buat. Karena itu, ia berusaha sedapat mengikuti irama kehidupan suaminya, mendukungnya dan mendoakan bagi ketegaran Lopa.

Lopa telah tiada. Memang rakyat meratapi kepergiannya. Tetapi kepergian Lopa merupakan blessing in disguise bagi para koruptor dan penguasa yang enggan menindak kejahatan korupsi.

***

Dalam usia 25, Jaksa Agung Ke-18 (6 Jun -3 Juli 2001)
Baharuddin Lopa, sudah menjadi bupati di Majene, Raja Gowa ke-16, dinobatkan pada tahun 1653
Sulawesi Selatan. Ia, ketika itu, gigih menentang Andi Selle, Komandan Batalyon 710 yang terkenal kaya karena melakukan penyelundupan.

Lopa pernah menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi di Sulawesi Tenggara, Pejuang dari Aceh
Aceh, Kalimantan Barat, dan mengepalai Pusdiklat Kejaksaan Agung di Jakarta. Sejak 1982, Lopa menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Raja Gowa ke-16, dinobatkan pada tahun 1653
Sulawesi Selatan. Pada tahun yang sama, ayah tujuh anak itu meraih gelar doktor hukum laut dari Universitas Pemimpin Perang Diponegoro
Diponegoro, Semarang, dengan disertasi Hukum Laut, Pelayaran dan Perniagaan yang Digali dari Bumi Indonesia.

Begitu diangkat sebagai Kajati Sulawesi Selatan, Lopa membuat pengumuman di surat kabar: ia meminta masyarakat atau siapa pun, tidak memberi sogokan kepada anak buahnya. Segera pula ia menggebrak korupsi di bidang reboisasi, yang nilainya Rp 7 milyar.

Keberhasilannya itu membuat pola yang diterapkannya dijadikan model operasi para jaksa di seluruh Indonesia.Dengan keberaniannya, Lopa kemudian menyeret seorang Lihat Daftar Tokoh Pengusaha
pengusaha besar, Tony Gozal alias Go Tiong Kien ke pengadilan dengan tuduhan memanipulasi dana reboisasi Rp 2 milyar. Padahal, sebelumnya, Tony dikenal sebagai orang yang ''kebal hukum'' karena hubungannya yang erat dengan petinggi. Bagi Lopa tak seorang pun yang kebal hukum.

Lopa menjadi heran ketika Majelis Hakim yang diketuai J. Serang, Ketua Pengadilan Negeri Ujungpandang, membebaskan Tony dari segala tuntutan. Tetapi diam-diam guru besar Fakultas Hukum Unhas itu mengusut latar belakang vonis bebas Tony. Hasilnya, ia menemukan petunjuk bahwa vonis itu lahir berkat dana yang mengalir dari sebuah perusahaan Tony.

Sebelum persoalan itu tuntas, Januari 1986, Lopa dimtasi menjadi Staf Ahli Menteri Kehakiman Bidang Perundang-undangan di Jakarta. J. Serang juga dimutasi ke Pengadilan Tinggi Sulawesi Selatan. tsl-sh, dari berbagai sumber

Sumber: http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/846-teladan-jaksa-pendekar-hukum
Copyright © tokohindonesia.com

03.23 | 0 komentar

Mengenal Sosok Imam Lapeo

Written By ian on Rabu, 24 Juni 2015 | 11.29



Imam Lapeo  atau K.H. Muhammad Thahir adalah ulama kharismatik  di tanah mandar, beliau adalah seorang waliullah yang harus berhadapan dengan penganut ilmu hitam yang banyak di daerah itu diawal dakwahnya. seorang imam di desa lapeo yang sederhana dan menyebarkan agama islam sampai ketanah bugis. sering memperlihatkan mukzisat dari sang Kuasa.

K.H. Muhammad Thahir Imam Lapeo juga dinamai Qadhi Tappalang (karena beliau pernah menjabatnya mereangkap Imam Lapeo). Selama kecilnya bernama Junaihin Namli. Digelari juga Ambol (berasal dari kata Istambul). Kalau oleh para cucunya dipanggil Kanne’ Iyye’ (Bahasa Bugis = Setuju) pada saat penduduk setempat menyatakan Iyyo (Bahasa Mandar = Setuju). Sebagian juga memanggil Kanne Anggulu’ (berasa dari kata Annangguru, lidah kekanakan). Oleh masyarakat Mandar umum menyebut Annanggurrutta. Oleh orang-orang Bugis Anre’gurutta. Bentuk mukanya lonjong, tubuhnya jangkung, wana kulitnya coklat-hitam, kurus diperkirakan tingginya mencapai 180 cm.
Dapat lancar berbahasa melayu (kini menjadi bahasa Indonesia), Bugis dan Arab.
Pada masa itu langka yang mempunyai kemampuan seperti itu.

Beliau lahir dari pasangan Muhammad kelahiran Pambusuang pada tahun 1939, dibesarkan dan wafat di sana. Pekerjaan nelayan dan guru mengaji. Dan Ikaji kelahiran Laliko dan dibesarkan, lalu pindah ke Pambusuang (Kabupten Polmas) menjadi Bandar perdagangan ke sa’la (selat malaka), Makassar, Bugis, Jawa, Minangkabau, Ternate dsb. Alat transportasi kebanyakan perahu sanded dan kuda. Ada juga yang memakai perahu pinisi (Lete’).
Mata dagangan yang dikeluarkan: sarung sutra dan hasil-hasil bumi.

Sedang mata dagangan yang dimasukkan berupa barang pecah-belah, sutera, kain dsb. Juga Pambusuang menjadi pusat pendidikan Islam di Sulawesi. Kakek beliau bernama Abdul Karim/Sapparaya/Kanne’ Buta kuburannya di Nugo Desa Bala adalah penghafal Al Qur’anul karim. Pendidikan yang dikenal pengajian halaqah (non klas). Yang ada pelajaran ilmu usuluddin Asy’Ariyah/Muru ridiah, al Qur’an Ilmu Fikhi syafi’iah, Bahasa Arab, Ilmu Tasauf/Akhlak ajraan Taunta To Salamakari Gowa: Syekh Yusuf Al Makassari.
Masyarakat Pambusuang memulai membangun masyarakat Madani (Civil) society) dengan tidak mengangkat Mara’dia Pambususang yang tersisa adalah Tomabubenna Banua Pua’ Ma’darai dan Imam Pambusuang Puaji Toa, Haji Nuh.

Pelaksaan Syari’at Islam belum memadai masih berpengaruh dari ajaran pra Islam/tradisi nenek-moyang (animism), masih percaya keapda mistrik antara lain kepada kekuatan benda bertuah, keris, memberik sesaji keapda dewata (saringang) berbuat jinan (semacam dengan kuda kepang), penyabung ayam, menjudi, perampokan (Pattolla’), peminum arak, melalaikan sembahyang, puasa, zakat dan silaturrahmi dan lain-lain. Diperarah oleh belum maksimalnya mengenai kepastian hukum dan keadilan. Dapat diaktakan masih berlaku hukum-rimba. Lebih-lebih menyangkut administrasi pemerintahan sangat tidak beraturan. Beliau lahir th: 1839 pada masa pemerintahan raja balanipa ke 41: To matindo di Marica apda masa Belanda berusaha menjejakkan kakinya di Tanah Mandar yang terbentuk dalam perjanjian Panjang tahun 1862 tanggal 6 Desember 1862 disusul oleh pernyataan pendek tahun 1905.
Beliau dan sama dengan manusia lainnya pada masa mudanya punya dambaan/obsesi/cita-cita dan pada mulannya mencari tahu apa-apa yang diperlukana untuk diperbuat. Jiwa Patriotisme, berani menanggung resiko serta berbagai macam percobaan beliau telah lakukan.

Melihat kehidupan dan tingkat pendidikan masyarakat beliau selalu ingin bertemu dan menanggung serta merasakan apa yang dialaminya, selalu ingin berhubungan, baik di kala senang apalagi kala susah atau mengalami krisis.

Beliau berkunjung kepada mereka untuk mencari tahu tentang apa yang mereka alami:
Hai anakku, atau hai cucukku, atau hai adikku, atau hai saudaraku, apa kabar dengan anda?
Apa anda sehat-sehat sajat?
Mereka berbahagia sebab sudah datang berkunjung ke rumah.
Bagaimana anak-anak, cucu-cucu, bagaimana sekalian keluargaku? Tetap ada kepentingan berhubungan dengan beliau karena permasalahan kehidupan dan penghidupan tidak henti-hentinya ada dibidang: keluarga, ekonomi, sosial, mata-pencaharian dll.
Beliau rindu kepada mereka dan sebaliknya serta kehendak memecahkan permasalahan mereka. Pada masa muda sampai tua sangat senang merantau sampai ke pulau jawa, Sumatera, Semenajung Malaka dan utamanya di pulau Sulawesi sendiri baik kediaman suku Bugis, Makassar, Toraja, Massenrempullu dan lain-lain.
Dan yang banyak ditempati beriteraksi ialah masyarakat bahagian utara propinsi Sulawesi Selatan utamanya bekas Afdeling Mandar yang kini sedang diperjuangkan untuk  menjadi propinsi Sulawesi barat, lepas dari propinsi Sulawesi Selatan.

Beliau juga berkehendak untuk melawan/mengusir penjajah Belanda. Beliau berkhawalat selama 40 hari agar mendapat kekuatan dalam berperang. Dalam bersunyi-sunyi itu beiau didatangi oleh suara menyatakan:
Permintaanmu dikabulkan, hanya saja permerintahan sebangsamu tidak berperilaku jujur akan menyengsarakan rakyat bangsamu!
Lebih baik membina mereka dalam cara menjalankan misi disitu air-kali mengalir kearah timur. Beliau perkirakan inilah Lapeo tempatnya bermuara Lembang Laliko (permukaannya kini hampir tiada di musim penghujan).

Pada pertengahan abad ke 19 kebetulan banyak orang arab merantau ke nusantara (mungkin sehubungan dengan terjadinya perolakan politik mendirikan. Resmi su’idiah atau sebab-sebab lainnya).

Beliau juga perna ikut berjualan sarung sutra di Sumatra/Padang. Dengan menggunakan sempoa beliau lancar berhitung: menjumlah, mengurang, mengalikan dan membagi (menurut ceritanya sampai beberapa desimal, di bawah satuan). Beliau tidak pernah duduk di bangku sekolah akan tetapi mampu menghitung dengan tepat menyangkut luas, volume, lingkaran dsb.

Kalau memakai bahasa sekarang:
Beliau itu mempunyai IQ (Intelektual Quation), EQ (Emosional Quation) dan SQ (Spritual Quation) yang amat baik.
Karena kemampuannya itu dia diangkat sebagai bendaharawan/ kasir. Pada suatu hari ada seorang menghadap beliau dengan keluhan sangat susah lantaran dililit utang.
Orang itu meminta kebijaksanaannya untuk membayarkan utang-utangnya agar kesusahannya hilang. Berdada di negeri seberang membayarkan utang seorang yang tidak dikenalnya, begitu pula alamatnya. Mitra kerjanya sangat kecewa karena dianggap suatu perbuatan yang salah besar, lalu dihentikan tanpa bekal apapun.  Jalan keluar yang dapat ditempuh demi penangguhanannya di padang yaitu selalu nginap di mesjid, atau tidur di emper mesjid. Jama’ah saling menanyakan siap gerangan yang selalu di mesjid. Lalu mereka bertanya : siapa anda ini dan dari mana? Jawabnya: Junaihin Namli berasal dari pambusuang tanah mandar. Tersiarlah kabar dari kampong itu bahwa ada orang mandar yang terlantar dan ingin pulang kampung juga terdengar sampai ketelinga seorang mandar majene yang lehih dahulu disana dan berkeluarga disanan bernama pua Bau’. Dengan mendapatkan bantuan darinya dan minta sumbangan dari masyarakat dapatlah beliau sanggup untuk sewa kendaraan sampai ke Pambusuang dengan selamat.

Pada kesempatan lain pergi pula kesana dengan tidak lagi merupakan regu kerja tapi mandiri/bebas. Dalam perjalanannya selalu mencari guru/ustazd yang dapat memberikan ajaran-ajaran agama islam terutama yang madzhab Syafi’i. lebih dari itu mempelajari ilmu-ilmu lain antaranya:  ilmu Usuluddin/Tauhid asy’ariah/Muturidiah, kebatinan, ilmu pencak silat, ilmu ketabiatan, warid dan lain-lain hingga berumur 17 tahun dan selanjutnya belajar mengajar dan beramal dengan ikhlas mendapat ilmu kasbi didapat dengan jalan berusaha dan ilmu ladunni (dapat dilihat langsung oleh Allah SWT.)

Perjuangan Imam Lapeo.
Dalam perjalanannya selalu mencari guru/ustazd yang dapat memberikan ajaran-ajaran agama islam terutama yang madzhab Syafi’i. lebih dari itu mempelajari ilmu-ilmu lain antaranya:  ilmu Usuluddin/Tauhid asy’ariah/Muturidiah, kebatinan, ilmu pencak silat, ilmu ketabiatan, warid dan lain-lain hingga berumur 17 tahun dan selanjutnya belajar mengajar dan beramal dengan ikhlas mendapat ilmu kasbi didapat dengan jalan berusaha dan ilmu ladunni (dapat dilihat langsung oleh Allah SWT.)

Dididik dan dibesarkan dalam kehidupan beragama Islam bermahzhab Syafi’I Ahlussannati wal jama’ah. Menurut beliau sendiri dalam pengakuannnya guru-gurunya adalah:
1.      Ayahnya sendiri, Muhammad (Penghafal Al-Qur’an)
2.      Kakenya, Abdul Karim/Sapparaja/Kanne’ Buta (penghafal Al-Qur;an)
3.      Guru Langgo’ di Pambusuang.
4.      Guru-guru di pulau Salemo (Pangkep)
5.      Guru-guru di Pare-Pare antara lain Al Yafi’I (ayahanda Prof. H. M. Ali Al Yafi’)
6.      Guru-guru di pulau Madura (antara lain K.H. Kholil) dan pulau Jawa.
7.      Guru-guru di Singapura, Malaka dsb.
8.      Guru-guru di Padang (Sumatra Barat)
9.      Habib Sayyid H.M. Alwi bin Sahal Jamalul Lail
10.    Syekh Hasan Al Yamani
11.    Dan lain-lain.

Dalam menyebarkan agama islam berbagai cara yang ditempuh oleh imam lapoe, dimana ia menarik perhatian masyarakat atau orang disekitarnya dalam mengajarkan agama, secara bartahap beliau mengikuti kebudayaan-kebudayaan yang dilakukan oleh masyarakat tersebut. biasanya beliau mengajak masyarakat sekitar membangun mesjid namun kadang dalam melaksanakan kegiatan tersebut terkadang ada masyarakat yang menyelingi dengan bermain sabung ayam, pula bermain judi, minum minuman keras namun imam lapeo tidak serta merta melarang mereka berbuat demikian, masyakarakat sendiri secara bertahap menghilangkan kebiasaan yang mereka lakukan. Bukan hanya dengan mengajak masyarakat disekitarnya membangun mesjid imam lapoe juga sering bertamu dirumah masyarakat jika sedang berjalan-jalan dan juga terkadang masyarakat mendatangi rumah beliau untuk meminta doa dan petunjuk jika ada masalah yang mereka hadapi atau mempunyai keiinginan. Beliau juga terkenal dengan sikap dermawannya sampai-sampai beliau berhutang jika ada masyarakat yang memerlukan bantuan.

Masyarakat yang ada di tanah mandar bukanlah mudah untuk ditaklukkan hatinya oleh karena itu imam lapeo dikala menjalankan dakwahnya di wilayah yang ditempati, beliau biasa menikahi keluarga-keluarga yang berpengaruh terhadap masyarakat yang ada diwilayah itu itupun atas usulan dari sahabat-sahabat beliau.

Memasuki lapeo

Wilayah ini tempo dulu dibawah kekuasaan Mara’dia Titi-e yang berseberangan dengan wilayah saudaranya yaitu Mara’dia Tomadio. Kedua kerajaan bersebarangan ini sering terjadi percekcokan soal wilayah. Maka susatu saat diadakan pembagian wilayah dengan membentuk parit galian (Kalliang). Setelah Mara’dia titi-e wafat, tidak pernah lagi beridiri kerajaannya yang kemudian dilebur ke dalam senteral Balanipa,  kemudian diperintah labgsung oleh Pa’bicara Kenje. Mara’dia Tomadio waktu itu Denna Ipetti mengkalim bahwa tanah datar ini sampai ke passauang lesang itu wilayah Tomadio dengan dasar:

1. Hanya 3 kerajaan kecil di balanipa yang punya lahan datar (tellumpanua yaitu: Tomadio, Mapilli dan Nepo)
2. Orang Babatoa dipinggir sungai/laut berbahasa lain/tidak terlalu sama dengan bahasa mandar, dialeg Tomadio.

Kelemahannya bahwa orang-orang laliko, galung dan sekitarnya berbahasa mandar jadikan pinggir laut/sungai itu tempat berlabuh, membuat jangkar dan memancing.
Masyarakat di wilayah ini sudah memeluk agama islam, akan tetapi secara umum pelaksanaan syari’at islam sengat kurang. Mereka beribadah sendiri-sendiri menurut kemanuannya dirumah masing-masing dalam bentuk apa saja. Kejatahatan masih merajalela: perjudian, mimnuman khamar, penyabungan ayam, perampokan (patolla’) to jinan, massringang (memberi makan dewata) tetapi terlihat sudah ada beberapa diantarnya telah menunaikan ibadah haji. Yang kurang disini adalah pendidikan islamiah dan pembiasaan pelaksanaan syari’at islam. Masih terbelakang dalam penghayatan dan penglaman agama islam. Mengutip istilah yang popular dulu hingga kini “perlu ditobatkan” mungkin itulah sebabnya dinamai Mesjid Jami’ Attaubah Lapeo, kemudian dialihkan namanya mesjid Nuruttaubah Lapeo menurut kitab Hadiqatul afham karya alwi bin hamid Al’Idrus halaman 55.46 imam ratib layaknya:

1.      Barahati rahim
2.      Luas ingatannya
3.      Sabar atas perintah Allah
4.      Sabar atas pengawalan hamba-hamba Allah
5.      Sabar atas menyampaikan nasehat-nasehat kepada ahli sembahyang
6.      Selalu memperhatikan jalannya upaya dalam memperbaiki keadaan orang" kampong.
7.      Kunjungi orang-orang yang menjauhkan diri dari jam’ah.
8.      Ambil hati kepada orang-orang tua
9.      Dekat-dekatan orang-orang yang patut dan terhormat.
10.    Mengalah buat halyang dalamnya ada kemajuan bagi persatuan dan kerukunan Umum
11.    Selalu memberikan nasehat-nasehat yang perlu keapda ma’mum-ma’mumnya.

Menurut H. Pattola ke wilayah ini telah ada pendahulu menjalankan Da’wah Islamiah bermana guru kollang, mereka menolak kedatanganya sehingga sang guruh dibunuh.
Ekspedisi berikutnya dipimpin Habib Sayyid Alwi bin Sahal Jamalul Lail kelahiran Lasem (Jawa Tengah). Beliau telah menikah di NTB, Manjopai, Pambusuang serta Camplagian. Kebetulan isterinya, orang Pambusuang, kemanakan H. Junaihin Namli bernama Hj. Rabi’ah. Sewaktu bertemu menjadi muridnya yang setia. H. Junaihin Namli berencana untuk terus beranjangsana/berkeliling.

Kebetulan suatu hari rombongan orang-orang pambusuang datal ke Laliko mengajar agama. Tuan Sayyid beserta rombongan ditembaki/diberondong dengan senapan oleh anak bangsawan bernama Daenna Ikaring. Kebetulan H. Junaihin Namli yang sudah diganti namanya oleh Tuan Sayyid, H. Muhammad Thahir berda di Laliko melihat Tuan Sayyid jalan cepat-cepat. Beliau bertanya:
Habib Sayyid berlari? Tuan Sayyid menjawab:
Di sana ada orang menembaki dengan senapan. Lalu K.H.M. Thahir menghadapi mereka itu dengan berkata: anda telah membuat sia-sia dan konyol serta pengecut, menembaki Habib-Tuan Sayyid yang tak bersenjata. Bukan lawanmu itu perempuan-perempuan dan tdak layak. Lebih baik kalau diantara kalian satu orang menhadapi saya satu persatu bergantian, itulah laki-laki sejati.

Tampillah seorang menghadap beliau. Lalu berkata: silahkan tusuk saya dengan tombakmu itu sebanyak tujuh kali, seusai itu giliran saya menusuk engkau sebanyak tujuh kali juga dengan tombak. Ternyata orang itu tak kuasa melukai (karena bantuan Allah Subahanahu wa Ta’ala) walau sudah berusaha sekuat tenaganya sehingga putus asa. Dia itu dengan sangat emosional ingin membunuh, tapi terhalang.
Tibalah giliran beliau untuk menusuk sebanyak tujuh kali pula. Dalam hatinya tiada terbetik kecuali kematian……….kematian, dan tiada lagi kehidupan apabila…………..,benar-benar beliau berkehendak untuk menusuknya. Belaupun memegang tombak-tombak itu dengan gagah berani. Kalau benar-benar menusuknya kemungkinan besar akan menemui kematian. Akan tetapi beliau menampakkan rasa kasih-sayang, tidak berusaha untuk membunuh, berdiri saja. Orang itu menunggu dengan pasrah apa saja yang akan terjadi. Yang terjadi adalah ma’afan dan kasih sayang beliau. Bergembiralah hati mereka dan menyatakan tunduk, patuh dan menjadi pengikutnya, untuk selama-lamanya. Begitu pula yang hadir dan kemudian yang mendengar berita itu.

Melihat itu Habib Alwi meminta saupaya dialah yang membina dan mengasuh masyarakat ini yang mengeluarkan dari jurang kebodohan/kejahian, dari keterbelakangan, keapda pelaksana syari’at Islam yang sebenar-benarnya. Kalau oleh orang lain, maka dia itu tidak mampu seperti anda ini. Tinggalah disini karena memang budanamu kelahiran disini. Banyak family yang perlu dibimbing ke jalan menuju Allah Ta’ala. Rencanamu untuk berkenalan itupun dapat anda lakukan, akan tetapi tempat ini jadi tempat utama bagi anda dan keturunan anda yang akan datang. Berbahagialah anda disini, saya restui anda do’akan!
Rombongan Habib bersama dengan K.H.M. Thahir naik ke rumah imam Buttu Puaji Tepu/Pua Lapi’ung untuk melanjutkan program penyeberan syari’at Islam. Dengan mendapat petunjuk dari Tuan Sayyid beliau melanjutkan pengajian-pengajian berikutnya.

Adalah seorang kemanakan Pua Lapi’ung bernama Nagayyah binti Abubakar berusia 15 tahun diusulkan oleh Habib Alwi dan cocok menjadi isteri K.H. Muhammad Thahir. Pasalnya ayahnya, Abubakar seorang dermawan dan juga antara keduanya ada hubungan family. Beliaupun setuju untuk menikah yang pertam kali. Hal tersebut disampaikan kepada ayah-bundanya di Pambusuang usul/pilihan Habib Alwi yang diterima baik oleh segenap keluarga melamar Nagayyah untuk dipersunting oleh K.H. Muhammad Thahir yang sudah berusia 53 tahun. Lamaran tersebut sangat menggembirakan dan diterima dengan baik, maka berlangsunglah pernikahan tahun 1892.

Sewaktu pernikahan nama Nagayya diganti oleh tuan Sayyid menjadi Siti Rugayyah. Beliau sementara menginap bersama mertua di Buttu sambil membina masyarakat Lapeo.
Beliau selama bertahun-tahun menempati 3 kampung yaitu Pambusuang tempat ayah-bunda, buttu tempat isteri dan Lapeo tempat bertugas yang masing-masing berjarak 4 kilometer, medannya berat, pegunungan yang terjal.
Menurut penuturan St. Rugayyah dalam tiap hari beliau bagi:
Sembahyang Maghrib di Pambusuang
Sembahyang Isya di Buttu
Sembahyang Subuh di Lapeo
Setelah berumah tangga selam 5 tahun, lahirlah:

1. Sitti Fatimah yang pernah diperisterikan oleh K.H. Abdi. Hadi Salam. 
    Punya anak yang wafat beserta ibu waktu dilahirkan.

2. Sitti Hidayat juga pernah diperisterikan oleh K.H. Abdi salam 
    sempat melahirkan 2 oranganak (keduannya wafat semasa kanak-kanak)

3. Abd. Hamind wafat sewaktu kanak-kanak.

Mengembangkan ajaran ke Tappalang, Mamuju dan sekitarnya.


Dirumah yang sudah dipindahkan tersebut lahirlah:
1.  Putera bernama Muhammad Yasin, yang wafat semasa kanak-kanak
2.  Tahun 1920 lahir pula K.H Muhsin Thahir.
3.  Enam tahun kemudian yakni tahun 1926 lahirlah puteri Hj. Aisyah Thahir.
4.  Tahun 1929 lahir Hj. Muhsanah Thahir.
5.  Tahun 1931 Hj. Marhumah Thahir.

Untuk menanggulangi masalah-masalah yang terjadi, beliau melebarkan sayap ke Utara. Daerah itu sangat minim pelaksanaan syari’at Islam sambil membendung infiltrasi kristenisasi yang dilancarkan oleh pemerintah Kolonial Belanda.

Bimbingan yang diberikan berupa shalat lima waktu, mengerjakan jenazah, hukum keluarga, jual-beli, iman dan Tauhid, mendirikan mesjid, hidup bertetangga dan bermasyarakat, hukum-hukum zakat, infak, sadaqah, haji dll. Melihat itu Mara’dia Tappalang mengusulkan kepada beliau untuk merangkap jadi Qadhi Tappalang dan tetap menjadi Imam Lapeo.
Atas usulan rekan-rekan/muridnya supaya mempersunting puterinya bernama Hamidah (Peranakan India). Usulan tersebut diterima, sehingga terjadilah pernikahan dengannya. Hidup berlangsung lama sebab tidak punya keturunan lalu diceraikan.
Wilayah ini sangat sulit medannya, karena banyak rawa-rawa. Kenderaan yang dipakai adalah perahu sande’. Banyak terlihat keanehan dalam perjalanan beliau.

Pernah suatu hari perahu yang ditumpanginya terdampar di kumpulan batu karang, yang kebiasanya hancurlah perahu itu. Tetapi orang-orang dipantai melihat banyak orang yagn mengangkat perahu itu sehingga terlepas dari batu-karang itu dan selamat. Ada juga seorang asal Bantaeng yang bercerita bahwa ayahnya pernah suatu hari dari pasangkayu berlayar bersama dengan beliau. Dalam perjalanannya itu beliau membawa beberapa fizt kain kecil/putih. Mereka berlayar kea rah selatan. Tiba-tiba beiau minta supaya perahu didaratkan. Mereka pun membuang sauh./jangkar ternyata didarat ada sesosok mayat yang dikerjakan, pasalnya ketiadaan kain-kafan. Maka jenazah tersebut lalu dimandikan atas petunjuk beliau. Begitu pula ditemui penjahat-penjahat yang tak dapat ditundukkan oleh Mara’di Mamuju.

Hubungan Imam Lapeo terhadap Keluarga dan Masyarakat


a. Pembinaan Rumah Tangga/Keluarga

Beliau mengutamakan ilmu dan amal. Slogan yang dikumandangkan dalam rumah yaitu anak-anak diajar bernyanyi:
Apalah arti harta benda,
Ilmu dan amal jadi tanda.
Elong mattutu didendangkan bagi anak-anak yang dibobok/diantar tidur. Dan kepada anak-anaknya diberi uang yang banyak bagi yang banyak menghafal Al-Qur’an umpanya surat Yasin, Al Waqi’ah dan tidak memberikan pujian bagi anaknya yang tidak mau mengaji. Beliau menyuruh anak dahulu mengaji daripada sekolah. Mendatangkan guru/ustaz pribadi. Beliau juga menampakan rasa kasih sayang kepada keluarga dan keturunannya.

b. Hubungan dengan mara’dia/Arung/birokrat.
Sangat akrab dan saling menyayangi.
Beliu hidup selama priode pemerintahan:
1.   Tomatindo di Marica
2.    Panggandang
3.   Tomatindo di Lekopadis
4.   Passaleppa (Amana I Bali)
5.   Tomilloli (Mandawari)
6.   Tokape
7.   Tomelloli
8.   Tonaung Anjoro (Sanggaria)
9.   Tomelloli
10. Tomatindo di Judda
11.  H. Andi Baso
12.  H. Andi Depu

c. Hubungan Dengan Usahawan/Padagang/Bisnisman


Beliau sering diminta saran dan solusi oleh usahawan ketika usahawan menghadapi kesulitan. Dan beliau mendoakan mendoakan mereka dan berpesan untuk bersifat jujur.

d. Hubungan Dengan Petani/Pecocok Tanam


Beliau sering diminta saran dan solusi ketika para petani serta memberikan petunjuk bila mengalami kesulitan dalam bertani. Doa restu beliau sangat mereka perlukan dan beberapa kali di Kab. Pinrang hujan tidak turun dan di doakan oleh beliau makah hujan pun turun.

e. Hubungan Dengan Nelayan/Pelaut/Petambak Dan Sebagainya.

Apabila nelayan mendapat masalah mereka mendatangi beliau dan beliau pun memberikan saran dan solusi sehingga memuaskan mereka, setelah mendapat saran dan solusi dalam melakukan kegiatan dalam artian melaut mereka sering mendapat nilai tambah dan bahkan ditengah laut nama Imam Lapeo seringa disebut dan ketika mendapat marabahaya.

f. Hubungan Dengan Ulama/Ustadz/Orang Arab dan Sebagainya
Beliau sering saling membantu dalam menyebarkan ilmu Islam.


Kekaromahan Imam Lapoe

Pembangunan Mesjid
Waktu itu sekitar tahun 60an mesjid lapeo sedang dibangun disamping makam lapeo namun terhambat masalah dana akhirnya tidak lama kemudian datang beberapa unit truck dari makassar membawa semen pasir dan beberapa bahan bangunan warga sekitar heran karena tidak ada satupun dari mereka yang memesan apalagi dana tidak ada.mereka memutuskan untuk membicarakannya di rumah salah satu warga di sana,ketika ditanyakan tentang siapa orang misterius yang memesan bahan bangunan ini,si supir mengatakan bahwa yg memesan adalah seorang kakek berpakaian serba putih bersorban dan kebetulan si supir melihat foto imam lapeo yang ada di lama rumah warga tersebut,dan mengatakan bahwa orang itulah yang memesan bahan bangunan.

Tempat Imam Lapeo Berkhalawat

Narasumber mengetahui ada 2 tampat imam Lapeo berkhalawat yang di kebun dan sebidang tanah yang terletak di Paccini. Tempat ini telah didirikan sebuah rumah dan ada kejadian yang diluar jangkauan manusia yakni penghuni rumah tersebut satu persatu meninggal dunia. Dan orang-orang pun memberi tanda tempat Khalawat Imam Lapeo untuk tidak dihuni.

Turun Dari Mobil Untuk Sembahyang.

Suatu hari dalam perjalanan menuju Makassar, tiba waktunya untuk shalat Dzuhur dan beliau menyuruh sopir mobil untuk berhenti sejenak untuk melaksanakan shalat, namun sopir mobil tidak rela menghentikan mobilnya jika sewa mobil tidak dibayar agar dapat melanjutkan perjalanan ke Makassar. Belia pun membayarnya dan turun bersama rombongannya untuk menunaikan shalat Dzhuhur, kemudian mobil tersebut melanjutkan perjalanannya namun dalam perjalanan mobil tersebut tiba-tiba macet, mobil tidak bisa jalan, setelah shalat Imam Lapeo beserta rombongan berencana melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan kaki, dalam perjalanan mereka bertemu dengan mobil yang mereka tumpangi dalam keadaan macet, penumpang dalam mobil tesebut berkata inilah tadi teman kita yang singgah untuk shalat, Imam Lapeo pun naik diatas mobil tersebut tidak lama kemudian mobil tersebut bisa jalan dan normal seperti semula.

Gema Teriakannya Di Telinga Pencuri.

Suatu hari ada seseorang memasuki kebunnya di Galung Lampu, berencana untuk mencuri buah-buahan yang didalamnya yakni memanjat pohon kelapa. Tiba-tiba terdengar teriakan Imam Lapeo, sementara beliau tidak ada dikebun, orang tersebut lari sekencangnya suara tersebut masih terdengar : To bibo….to bibo… to bibo. Dia pun tidak bisa tidur dengan mendengar suart tersebut hingga dia pun  mendatangi beliau dan menjelaskan apa yang telah terjadi dan memohon maaf kepada beliau juga meminta agar diobati. Orang tersebut dioabati dan sudah merasa tenang.

Pernah Diberkati Jadi Professor

Seorang Professor bercerita:
Dia berasal dari Sindereng 8 bersaudara dia merupakan anak bungsu. Ayahnya meninggal sewaktu masih kecil. Pada suatu hari ibunya mendatangi seorang ulama tentang anak-anaknya apakah ada bayangan kebaikan, sebab peninggalan ayahnya hanya sebidan tanah yang tidak terlalu luas. Ulama itupun menyarankan untuk mendatangi Imam Lapeo yang ada di Mandar. Katanya ambillah sebahagian kemampuanmu untuk dapat mendatanginya. Diapun kerjakan sebagiamana saran ulama tadi.
Sewaktu bertemu Imam Lapeo memperhatikan kedelapan anak-anak itu lalu menunjuk bahwa anak bungsu ini nanti akan sukses, peliaharalah dia dengan baik dan saya doakan.
Ternyata dia sekarang jadi dosen di IAIN Alauddin Makassar.

MENGEMBALIKKAN PELIHARAAN YANG HILANG

Kawu, seorang tua dari Kelurahan Tinambung, kabupaten Polmas menuturkan bahwa pernah suatu hari kuda peliharaanya hilang. Sudah satu minggu lebih dicari kuda yang hilang itu, belum juga ditemukan. Maka ia menemui K.H Muhammad Thahir Lapeo mohon didoakan agar kuda itu dapat ditemukannya.
To Salamaq Imam Lapeo memejamkan lalu mengangkat tangannya sambil berdoa, ia berkata kepada Kawu, bahwa kuda yang dicari sekarang dalam perjalanan pulang kekandangnya. Jawaban tersebut membuat si empunya kuda tercengang, dan segera pamit pulang. Apa yang terjadi? Sesampainya dirumah dai menemukan kudanya benar-benar sudah ada dikandangnya.“ Kuda itu datang sendiri “, kata istri pemilik kuda tersebut.

MEMBAYAR HUTANG

Peristiwa lainnya dituturkan oleh informan bahwa suatu hari K.H Muhammad Thahir Imam Lapeo ingin mambayar hutang karena waktu yang disepakati telah sampai. Hutang tersebut adalah harga bahan-bahan bangunan Mesjid Nur Al- Taubah Lapeo yang dipinjam oleh beliau untuk perluasan bangunan Mesjid. Tetapi sampai pada malam hari To Salamaq Imam Lapeo belum juga mempunyai uang., sementara besoknya hutang itu harus dibayar.
Lalu, malam itu juga ia mengajak putranya Muchsin Thahir beserta kusir bendi berangkat ke Majene menemui H.Hasan, pedagang yang memberi utang kepada panitia pembangunan mesjid dengan maksud minta perpanjangan waktu peminjaman. Dalam perjalanan dari Lapeo menuju Majene, semua mesjid yang dilewati disinggahi untuk melaksanakan shalat sunnah, antara lain mesjid-mesjid Karama,Tangnga-Tangnga, dan Tinambung. Dari Tinambung beliau terus ke Limboro dan Lembang-Lembang. Di kedua mesjid itu ia melakukan shalat agak lama.
Menjelang subuh hari baru ia putranya meneruskan perjalanan ke Majene. Dalam perjalanan antara Lembang-Lembang dan Tinambung tiba-tiba ia ditahan oleh seseorang yang sama sekali tidak di kenalnya. Orang itu memberikan suatu bungkusan sebagai oleh-oleh kepada To Salamaq Imam Lapeo.
Lalu diperintahkannya kepada anaknya(Muchsin Thahir) yang menyertainya malam itu mengambil bungkusan tersebut. Perjalanan ke Majene dilanjutkan. Setelah sampai di rumah H.Hasan di Majene bungkusan tersebut dibuka. Apa isinya? Ternyata, sejumlah uang pas-pas dipakai membayar hutangnya kepada H.Hasan.

MENYEMBUHKAN PENYAKIT

Dituturkan pula bahwa di Lapeo pernah berjangkit suatu penyakit yang sangat ganas dan berbahaya. Penyakit tersebut tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan tradisional maupun medis modern pada saat itu. Menurut informan, saking ganasnya penyakit itu sehingga dalam satu hari diperkirakan 3 sampai 5 orang yang meninggal akibat penyakit tersebut. Keadaan seperti ini sangat meresahkan dan menggelisahkan masyarakat. Rakyat mengadu kepada To Salamaq Imam Lapeo. Mendengar semua pengaduan tersebut K.H Muhammad Thahir sangat prihatin.
Di perintahkannya menyiapkan sebuah tempayan berisi air minum. Setelah itu K.H Muhammad Thahir To Salamaq Imam Lapeo memejamkan mata seraya mengangkat tangannya berdoa kepada Allah, kemudian diludahinya air tempayan tersebut tujuh kali. Air yang telah diludahnya itu diminumkan kepada penderita yang terkena penyakit aneh tersebut.
Berkat pertolongan Allah swt., mereka yang sempat meminum” air obat ” To Salamaq Imam Lapeo semuanya sembuh, dan penyakit tersebut tidak mengganaskan lagi.

MENOLONG ORANG YANG TENGGELAM

Pernah suatu saat, ketika K.H Muhammad Thahir Imam Lapeo sementara memberikan pengajian, tiba-tiba pengajian dihentikan beberapa saat. To Salamaq Imam Lapeo keluar ke teras, lalu menatap ke angkasa raya seraya tangannya dilambai-lambaikan. Setelah itu beliau masuk kembali akan melanjutkan memberikan pelajaran kepada murid-muridnya.
Sebelum pengajian dilanjutkan kembali, salah seorang muridnya bertanya tentang apa yang barusan To Salamaq Imam Lapeo kerjakan. Beliau menjawab bahwa dia menolong sebuah perahu yang hampir tenggelam di tengah laut karena serangan badai dan amukan ombak besar. Beberapa hari kemudian, seorang tamu dari Bugis datang ke rumah To Salamaq Imam Lapeo mengucapkan terima kasih.
Menurut pengakuannya bahwa perahunya hampir tenggelam beberapa hari yang lalu di sekitar pulau-pulau Pangkajene. Yang menolongnya adalah K.H Muhammad Thahir To Salamaq Imam Lapeo yang tiba-tiba dilihatnya datang berdiri di baguan kepala perahunya. Seketika itu juga ombak menjadi tenang, dan badai pun reda.

DALAM KEADAAN LAPAR DAN HAUS MAKANAN DATANG

Pada suatu hari, dengan ditemani beberapa muridnya, K.H Muhammad Thahir Imam Lapeo sedang menuju ke suatu kampung. Mereka berjalan kaki menyusuri pinggir kali menuju ke hulu. Menjelang sore hari mereka berjalan terus. Mereka belum makan siang karena sejak berangkat tadi belumprnah melewati perkampungan penduduk. Di manakah mereka akan makan, sementara lapar haus sudah terasa?
Tapi K.H Muhammad Thahir To Salamaq Imam Lapeo mengatakan supaya mereka sabar. Tak berapa lama kemudian,di tempat yang begitu sunyi sepi, tiba-tiba mereka melihat suatu rakit kecil yang sedang hanyut ke hilir. Di atas rakit kecil itu tersedia berbagai jenis makanan seperti nasi,ketan,lauk bersama ayam panggang. Mereka mengambil makanan tersebut dan menikmatinya. Selanjutnya K.H Muhammad Thahir Imam Lapeo bersama pengikutnya/muridnya melanjutkan perjalanan menuju kampung tujuan.

Wafatnya Imam Lapeo

Menjelang kematiannya, Imam lapeo berpesan supaya disediakan batang pisang sebelah menyebelah (pihak kanan dan pihak kiri) sebagai tempat bersandar saya bicara dengan mungkar-nakir. Pagi pada hari selasa beliau wafat dan besok siang barulah dimakamkan. Penulis pada waktu itu berumur 8 tahun menyaksikan.
Awan mendung dan tangisan para pelayat mayat beiau tambah lama semakin kecil. Jasadnya disemayamkan di rumah di mandikan di Mesjid Lapeo.
Menurut mahyuddin sewaktu di usung, jenazah sangat ringan seakan-akan tidak ada kecuali kain, merekapun masygul. Ketika disuapi dengan tanah pada bagian kepala mereka menyaksikan jasad didalam kain kafan. Setelah menyuapi terdengar di telinga mereka suara batuk.
Pesan yang paling dia utamakan kepada masyarakat lapeo adalah selalu berkata jujur, dan pesan lainnya adalah melaksakan shalat dan ibadah lainnya.

Pandangan Masyarakat Terhadap Imam Lapeo K.H. Muhammad thahir

Menurut Masyarakat yang sempat kami wawancarai bahwa sahnya Imam lapeo merupakan tokoh agama yang terkenal dengan kekaromahannya, biasanya masyarakat banyak datang mengunjungi makamnya jika mempunyai hajatan namun dalam berdoa mereka meminta kepada Allah S.W.T. dan beliau mengatakan bahwa banyaknya dana merupakan sumbangan dari beliu sampai sekarang. (dikarenakan banyak pengunjung yang memasukkan uang ke kotak amal berkisar sebanyak Rp 3.000.000,-/ harinya).

RANGKUMAN

*Imam Lapeo lahir di pambusuang pada tahun 1939, ayahnya bernama Muhammad penghafal Al-Qur’an yang sehari-hari sebagai Nelayan tradisional penangkap ikan terbang orang pambusuang. Ibunya bernama Ikaji kelahiran laliko lapeo.

*Mendapat pendidikan dari ortunya dan lingkungannya bernuansa keagamaan. Merantau ke Pare-pare antara lain: dari alyafi’, ayahanda Prof. Dr. H.M. ali Alyafi’ Ulama di Salemo, Ulama di pulau Jawa, Madura, Sumatra, Semenanjung Malaka, Singgpura dll.

*Beliau senang berkunjung ke rumah-rumah penduduk dari berbagai etnis, tingkatan, profesi bahkan menjadi intim dengan para perantau misalnya Arab, India, Cina dll. Menghabiskan waktu dan tenaga untuk penegakan syariat islam berdasarkan doktrin Aswaja mendukung inpiltrasi/kritenisasi/westernisasi.

*Beliau datang ke Lapeo pada tahun 1982 setelah pendahulunya menjadi korban pembunuhan karena tidak diterima masyarakat. Sayyid Alwi bin Abdullah Bin Sahal Jamalal kelahiran Lasen 1823 datang ke Lapeo mengajarkan pelaksanaan  syariat islam nyaris jadi korban pembunuhan. Beliau datang melindungi habib, atas saran habib beliau melanjutkan penyebaran agama dan mengajak penduduk bertobat kepada Allah, mesjid yang dibangun tahun 1909 dinamai masjid Attaubah yang kemudian menjadi mesjid Nurut Taubah Lapeo.

*Beliau melebarkan sayap ke utara diangkat menjadi Kadhi Tappalang dan memprakarsai pembangunan 17 mesjid khusus di kab. Mamuju.

*Membantu umat dalam memecahkan masalah keluarga, pendidikan, mata pencaharian, bimbingan pelaksanaan fardu a’in dan kifayah.

*Lapeo menjadi sentral pendidikan dan dakwah pada masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, Pemerintahan NICA, dan pemerintahan NKRI. Pada awal pengangkatan guru agama di Kab. Polman lebih separuh cetakan dari Lapeo.

*Mendirikan pengajian-pengajian metode khalak dan campuran dengan klasik (sekolahan) yang hingga kini aktif dalam membina intaq dan iptek.

Ajaran yang duanut dan diamalkan berdasarkan Al – Qur’an dan Hadist.
-  Bidang Aqidah dianut ajaran Abu Hasan Al-Asy-Ariy Maturidy
- Bidang Fiqhi Asy-Syafiah
- Bidang Akhlak/moral Tasawuf Amaliah menjalankan tarikat Al – Muhammadiyah 
  dan Tarikat As-Syadiliyah

Meninggalkan murid-murid atau keturunan yang tangguh dalam bidang agama dan kehidupan antara lain yang menonjol:
- K.H. Nadjamuddin Thahir (1919-1999) Ulama mantan ketua pengadilan Agama Walang
  Soppeng dan menjabat sebagai imam Mesjid Nurut Taubah Lapeo.
- K.H. Muhsin Thahir (1920-1994) ulama mantan ketua pengadilan agama Kab. Polmas,
  imam mesjid jami polewali pembawa tuntunan pembentukan Kab. Polmas ke pusat 1959.
- Hj. Aisya Thahir (1926-1987) mantan ketua muslimat NU propinsi Sulsel, anggota DPRD
  GR Propinsi Sulsel, pensiun guru agama. Pendiri panti Asuhan Nahdiyat Makassar dan
  pendiri Nahdiyah.
- K.H. Abdul Mutthalib Thahir (1930-1080) mantan dekan fakultas tarbiyah IAIN Cabang Palu.
11.29 | 0 komentar

Hj.Andi Depu (Ibu Agung)

Written By ian on Sabtu, 29 Oktober 2011 | 01.50


Mungkin sebagian besar rakyat Indonesia belum mengenalnya, namun Beliau (Ibu Agung) adalah seorang tokoh pejuang/pahlawan melawan penjajah yang paling dikenal dan dipuja oleh rakyat Sulawesi Barat. Baru-baru ini, Ibu Agung atau biasa dikenal Andi Depu diusulkan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) untuk menjadi Pahlawan Nasional. Bahkan Ibu Depu atau Maraqdia Arayang Balanipa adalah satu-satunya perempuan dari 10 tokoh yang diusulkan untuk menjadi pahlawan nasional.

Saat perang mempertahankan kemerdekaan, di seluruh Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat hanya wilayah Tinambung Polewali Mandar yang tidak bisa dikuasai pasukan Belanda. Ibu Depu adalah sosok yang memimpin perjuangan Merah-Putih di Tinambung Polewali Mandar. Saat Belanda ingin menancapkan kembali kekuasaan di tanah Mandar, Ibu Depu adalah sosok yang berdiri paling depan mempertahankan merah putih. Dia juga seorang perempuan yang meninggalkan istana kerajaan demi membantu perjuangan pra kemerdekaan di Mandar. Belanda sendiri mengatakan dialah musuh besar.

Berikut ulasan lebih lanjut tentang Hajjah Andi Depu Maraddia Balanipa :
Hj. Andi Depu adalah Raja Balanipa ke 52 dan juga seorang pejuang kemerdekaan di tanah Mandar. Beliau lahir di Tinambung, Kab. Polman 1907. Dan wafat pada tanggal 18 Juni 1985 di Makassar. Puteri Raja Balanipa yang ke-50, Laqju Kanna Idoro dengan ibu bernama Samaturu. Dalam masa pemerintahannya, para pejabat kerajaan lainnya ialah Maraqdia Matoa: H. Abd. Madjid, Maraqdia Malolo: Andi Baso Parenrengi, Maraqdia Saraq (Kali): K.H. Djalaluddin Gani/ H. Abd. Razak, Paqbicara Kaiyyang: Andi Pasilong, Paqbicara Kenjeq: Ba’dulu/M.Anwar, Pepuangan Limboro: Badullahi/H.Ibrahim, Pepuangan Biring Lembang: Yahyadin/M.Albar, Pepuangan Lambeq: Puangnga I Maula, Pepuangan Lakka: Pa’duai.

Bersaudara seibu bapak dengan Abd. Madjid, Rahman Abd. Razak, H. Abd. Malik, Cicci dan Rokki. Di masa kanak-kanaknya disapa dengan nama Mania. Nama yang selalu dipakai dan lebih popular, Depu. Menurut H. Abd.Razak, adik kandungnya, kata depu berasal dari kata karepuq ‘jelek/tak cantik’, diucapkan kepuq menjadi depu. Ibundanya memberinya panggilan kesayangan Sugiranna Andi Sura. Pendidikan formal hanya tingkat Volkschool. Pada tahun 1923, ia menikah dengan Andi Baso Pabiseang. Andi Baso Pabiseang, setelah beberapa tahun menjalankan jabatan raja, 1939 dilantik menjadi Maraqdia Balanipa ke-51. Dari perkawinannya melahirkan hanya seorang anak, anaq mesa-mesa ‘anak tunggal’ yaitu Andi Parenrengi. Pada masa perjuangan merebut dan menegakkan kemerdekaan, perkawinannaya pecah karena gigih dan konsisten menentang Belanda sedangkan suaminya tidak. Andi Baso Pabiseang tidak setuju dengan sepak terjang Andi Depu.

Pada tahun 1944, mendirikan Fujinkai, wadah gerakan wanita Mandar melatih/menggodok dan memupuk semangat juang merebut kemerdekaan yang “telah dijanjikan” oleh Jepang. Dikala hidup, dimulai dari masa perjuangan merebut dan mempertahankan Kemerdekaan RI, selalu memihak dan mencintai rakyat sampai menghembuskan nafas yang terakhir. Lebih popular disapa ‘Ibu Agung’. Suka duka perjuangan telah dirasakannya, dimata-matai, diawasi, diintimidasi, direncanakan untuk dibunuh oleh musuh, dipenjarakan dan disiksa oleh tentara Belanda di Tangsi Militer di Majene. Haj.Andi Depu Ibu Agung adalah anggota veteran RI Golongan A, pangkat militer Kolonel Tituler. Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang Makassar. Karena dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang Makassar, penyusun ensiklopedi mengusulkan nama dan gelar lengkap amarhumah ‘Hajjah Andi Depu Ibu Agung Maraqdia Balanipa Tomatindo di Panaikang’.

Tanda Penghargaan Andi Depu :
1. Bintang Mahaputra IV Presiden Soekarno
2. Bintang Gerilya sebagai Panglima Kris Muda, 1958
3. Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan Kesatu
4. Satya Lencana GOM III (PM Djuanda)
5. Satya Lencana GOM IV
6. Satya Lencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan
7. Surat Penghargaan Panglima Kelaskaran Kris KSAD Jenderal TNI AH Nasution
8. Satya Lencana Bhakti
9. Warga Kehormatan Makassar.

Sumber : Buku Ensiklopedia tentang Mandar dan harian Fajar Lokal Makassar
kampoeng-mandar.blogspot.com
01.50 | 0 komentar

Selamat Datang

Gambar Selamat Datang

Categories

Download Buku Imam Lapeo

Buku Imam Lapeo

Download Buku FPRT

FPRT di Tanah Mandar

Download Buku Sulbar

Buku SULBAR

Link Mandar

Dinas Pemuda Olahraga& Pariwisata Sulbar Radar Sulbar Sulbarcom Mamuju Pos Suara Sulbar Malaqbicom Kandoracom Kemenhukum DinKes KUA KUAWono DinKes BKKBN BPS BPKP Kampung Mandar Tommuane Mandar Kampung Mandar DEsa Tamanggalle MAndar Kita MIN Polewali MuhSulbar MuhPolman Kompadansa KPU Sulbar Bawaslu Sulbar Puang.com

Download Sayang-Sayang

Sayang-Sayang