20.01 | 0
komentar
Tampilkan postingan dengan label Budaya Mandar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Mandar. Tampilkan semua postingan
Video tentang Tanah Mandar
Written By ian on Sabtu, 01 Agustus 2015 | 20.01
Budaya Menenun Sarung Sutera Mandar
Written By ian on Kamis, 25 Juni 2015 | 07.17
Menenun sarung sutera bagi orang-orang
Mandar di Sulawesi Barat sudah menjadi kebiasaan atau tradisi yang
diwariskan turun temurun, biasanya kaum wanita yang melakukan aktivitas
ini, anak-anak-remaja, gadis, hingga perempuan dewasa menenun untaian
benang sutera yang kemudian digabungkan hingga menjadi satu kain
berukuran besar yang dapat dijahit dan dijadikan sarung. Aktivitas
menenun dilakukan para gadis-gadis di suku ini ketika berada di rumah
untuk mengisi kekosongan kegiatan, para gadis muda biasanya menenun
untuk mengisi waktu saat siang hari, ada juga perempuan dewasa yang
melakoni kegiatan ini untuk alasan motif ekonomi, mencari tambahan
penghasilan bagi keluarga.
Aktivitas menenun bagi perempuan di
Mandar, Sulbar adalah bentuk kerjasama yang baik antara suami dan istri,
orang-orang Mandar banyak dikenal memiliki profesi sebagai nelayan,
ketika sang suami pergi melaut, maka sang istri akan menunggu suami
kembali dari laut, untuk mengisi waktu mereka kadang membuat sarung
sutera yang ditenun secara tradisional, menggunakan alat tenun manual
yang dipesan pada pembuat perangkat tenun. Siang hingga sore hari adalah
waktu yang banyak digunakan para perempuan sebagai masa untuk menenun
sarung, biasanya mereka melakukannya di kolong-kolong rumah panggung,
rumah tradisional orang-orang Mandar banyak didominasi rumah panggung
sehingga bagian bawahnya biasa digunakan sebagai tempat untuk menenun
sarung bagi para perempuan. Jika anda mengunjungi beberapa rumah
orang-orang Mandar di kabupaten Majene atau Polewali Mandar maka anda
akan menemukan beberapa perangkat tenun tradisional yang disimpan rapi
lengkap dengan alat-alat bantu untuk mengolah benang sutera. Bukan hanya
dikolong rumah, kadang ada juga yang meletakkan perangkat tenunnya di
bagian ruang rumah, namun dominan mereka menempatkan pernagkat tenun di
kolong rumah, beberapa pertimbangan digunakan untuk alasan kolong rumah
lebih sejuk dibandingkan menenun diruang rumah.
Namun seiring dengan perkembangan zaman
dan modernisasi yang terjadi maka tempat menenun tidak lagi terbatas di
tempat-tempat tertentu saja, bahkan di ruang kecil, misalnya di kios
depan rumah, aktivitas menenun juga bisa dilakukan, salah satu contoh
adalah seperti yang terlihat di salah satu dusun di desa Laliko,
kecamatan Campalagian, kabupaten Polewali Mandar, sembari
menjual premium eceran di kios depan rumahnya, seorang ibu muda juga
menenun sarung sutera, ketika ditanyai mengenai jenis corak/motif sarung
apa yang ia buat, ia cuma menjawab “tak tahu apa nama sureqnya” Namun
dari motifnya terlihat pola warna sarung sutera yang sangat cantik,
lembut dengan paduan warna cokelat dan kuning gading.
Akivitas menenun sarung sutera masih
dijalankan oleh perempuan-perempuan Mandar utamanya di kabupaten
Polewali Mandar, untuk tinggalan budaya yang masih terwariskan, dapat
kita lihat terjadi di kabupaten ini, dari sini kemudian jejak-jejak
budaya sarung sutera Mandar masih dapat dilihat dengan jelas. Dari
contoh diatas, ada banyak sureq atau motif yang lahir, dan penamaan
sureq/motif sangatlah beragam, kadang si pembuat tak tahu apa nama sureq
yang dibuat, ia hanya mengikuti pola yang telah dibuat dan dijadikan
panduan oleh pengkonsep sureq sebelumnya. Penamaan sureq juga beragam,
biasanya mengikuti trend mode yang ada saat ini, mulai dari inspirasi
kegiatan-kegiatan kebudayaan seperti “sandeq race” sehingga memunculkan
sureq sandeq, trend lagu-lagu modern, tokoh tokoh yang sedang terkenal,
dan trend mode pakaian terbaru.
Terlepas dari variasi sureq sarung
sutera Mandar maka terdapat dua sureq klasik dan pakem yang dikenal,
kedua sureq itu adalah “sureq salaka” dan “sureq padzadza” sureq salaka
merupakan motif sarung dengan warna dasar dominan hitam, dengan corak
kotak-kotak, biasanya sureq ini digunakan saat acara-acara kematian atau
peringatan yang berhubungan dengan kejadian kesedihan di suku Mandar,
lalu yang kedua adalah “sureq padzadza” motif sarung sutera Mandar
dengan warna dasar merah dan corak kotak-kotak vertikal serta
horizontal. Penggunaan sureq padzadza sendiri lebih fleksibel, biasanya
digunakan untuk acara-acara tradisi pernikaha, syukuran, dan akikahan.
Kedua sureq ini adalah sureq legenda yang jadi khas motif sarung yang
dibuat oleh orang-orang di suku Mandar.
Budaya menenun sarung sutera di suku
Mandar boleh dikatakan semakin menurun, gempuran produk sarung yang
lebih praktis mendorong matinya produksi sarung, harga bahan benang
sutera asli jugatidak sedikit mengurangi produksi sarung sutera asli,
sementara rentang keuntungan yang diperoleh para penenun sarung sutera
tidak banyak, para penenun hanya banyak menghabiskan waktu dan tenaga
untuk membuat sarung, namun tingkat keuntungan tidak mencukupi, karena
itu saat ini banyak penenun yang enggan menenun sarung sutera lagi,
mereka lebih banyak melakoni pekerjaan yang lebih mendatangkan
keuntungan dari sisi ekonomi.
Hasil tenunan sarung sutera Mandar yang
berdedar di pasaran kini terbuat dari dua jenis bahan benang sutera,
pertama adalah bahan dengan benang sutera asli dan yang kedua adalah
bahan benang sutera imitasi, benang sutera asli adalah benang yang
diperoleh dari penangkaran ulat yang menghasilkan benang sutera yang
kuat, dengan pengolahan hingga berhari-hari, termasuk proses memintal,
mewarnai, dan membuatnya dalam helaian kelompok benang sutera yang siap
untuk ditenun. Sementara benang sutera imitasi adalah yang diperjual
belikan di pasar-pasar tradisional dengan harga yang lebih murah
dibandingkan dengan benang sutera asli. Mudah membedakan sarung sutera
yang menggunakan benang sutera asli dan benang sutera imitasi, yang asli
akan memberikan efek dingin di saat cuaca sedang panas, dan efek panas
disaat cuaca yang dingin, sementara untuk benang sutera imitasi di saat
cuaca panas maka sang pemakai sarung juga akan merasakan panas. Dari
segi harga memang lebih murah tetapi dari kualitas cukup jauh.
Sarung sutera Mandar yang banyak beredar
di pasaran saat ini lebih banyak menggunakan benang sutera imitasi, ini
karena pilihan harganya yang murah dan terjangkau, mudah dimiliki oleh
masyarakat dengan warna yang lebih beragam dan motif yang lebih bebas.
Motif-motif sarung sutera Mandar seperti motif salaka dan padzadza
cenderung monoton dan tidak bebas, karena itulah kemudian motif-motif
yang lebih bebas dan keluar dari pakem salaka dan padzadza banyak diburu
oleh konsumen penyuka sarung sutera.
Sulit memisahkan budaya penggunaan
sarung sutera terutama di suku Mandar, Sulawesi Barat, budaya mengenakan
sarung terutama untuk acara-acara tradisi sudah dianggap sebagai sebuah
kewajiban dan tradisi dalam menghargai sesama manusia, bersarung sutera
adalah bukti dan perlambang kesopanan dalam menghargai tamu dan
menghormati sang tuan rumah pemilik hajatan. Bahkan, dahulu sarung
sutera Mandar mencerminkan status sosial seseorang, apakah ia keturunan,
raja, bangsawan, atau orang biasa, dahulu terdapat motif atau sureq
yang hanya bisa dikenakan oleh kalangan-kalangan tertentu saja.
Budaya menenun sarung sutera di daerah
Mandar, Sulawesi Barat jika dilihat dari sisi modernitas dan motif
ekonomi mungkin akan ketinggalan dan tidak menguntungkan, tetapi dibalik
itu ada tradisi turun temurun, nilai-nilai kesabaran, ketelatenan,
ketelitian, dan kreatifitas yang diasah untuk para perempuan yang
melakukan aktivitas menenun, ada jejak aktivitas budaya leluhur yang
penuh dengan nilai-nilai tradisi kental yang tampak ketika menenun
dijalani oleh perempuan Mandar.
Sumber : http://www.tommuanemandar.com
07.17 | 0
komentar
Meraba Ujung Lero Dari Kejauhan
Written By ian on Rabu, 13 November 2013 | 22.09
Menjelaskan Ujung Lero, walaupun belum pernah menginjakkan kaki ke daerah komunitas Mandar besar di tanah Bugis ini bukanlah hal yang tidak mungkin, media informasi yang begitu luas saat ini memungkinkan kita "meraba" suatu daerah tanpa harus menjejakkan kaki terlebih dahulu.
Ujung Lero hanya sesekali saya pandangi dari bibir pantai kota Pare-Pare, letaknya yang strategis tepat di mulut teluk membuatnya menjadi mudah untuk dilsaksikan dari kejauhan, sangat jelas jika anda berdiri di sepanjang pantai Pare-Pare.
Ujung Lero, adalah salah satu desa sentra pemukiman etnis Mandar di kecamatan Suppa kabupaten Pinrang, salah satu kabupaten yang berbatasan dengan kota Pare-Pare dan kabupaten Polewali mandar. Daerah ini dihuni oleh dominan etnis Mandar dengan latar belakang dari berbagai daerah di wilayah Polewali dan Majene. Daerah pemukiman ini terlihat sebagai daratan serupa pulau yang memanjang dan tepat di bagian ujungnya terdapat menara masjid Ujung Lero.
Ujung Lero hanya sesekali saya pandangi dari bibir pantai kota Pare-Pare, letaknya yang strategis tepat di mulut teluk membuatnya menjadi mudah untuk dilsaksikan dari kejauhan, sangat jelas jika anda berdiri di sepanjang pantai Pare-Pare.
| Foto Ujung Lero dari bibir pantai kota Pare-Pare (Foto : Tommuane Mandar) |
Secara umum kecamatan Suppa terdiri dari 2 kelurahan dan 8 Desa, yaitu : Kelurahan Watang Suppa, Kelurahan Tellumpanua, Desa Lero, Desa Watang Pulu, Desa Maritengngae, Desa Tasiwalie, Desa Wiring Tasi, Desa Lotang Salo, Desa Ujung Labuang, Desa Polewali. Orang-orang dari etnis Mandar banyak tinggal di desa Lero dan daerah-daerah pesisir di kecamatan ini. Seperti yang diketahui bahwa etnis Mandar adalah kelompok masyarakat yang sangat dekat dengan laut, laut sudah menjadi teman dan ladang untuk mencari penghidupan, profesi mereka yang sebagian besar nelayan telah menjadikan merek identik dengan kehidupan laut, bermukim di pesisir dan menggantungkan hidup dari alam. Sama seperti persebaran etnis Mandar yang juga ditemukan di kabupaten Pangkep tepatnya di Kalmas (Kalukuang-Masalima). Dari dua pola persebaran etnis Mandar ini dapat dlihat secara umum bahwa kelompok masyarakat Mandar banyak tinggal di pesisir dan dekat dengan kehidupan laut.
Ujung lero banyak dihuni oleh etnis Mandar yang berprofesi sebagai nelayan, dari daerah ini pulalah banyak dilahirkan karya-karya seni terbaru tentang lagu-lagu daerah. Ada fakta bahwa karya seni budaya memang dekat dengan alam dan kondisi sosial masyarakat, laut bisa menjadi inspirasi yang sangat baik dalam menelurkan sebuah karya sastra, baik itu dalam bentuk puisi, senandung, ataupun lagu daerah. Ada banyak penyanyi dan pencipta lagu daerah Mandar yang menghiasi label rekaman dan berasal dari Ujung Lero. Ada yang mengatakan bahwa Ujung Lero adalah tempat bermukimnya orang Mandar ketika bencana gempa bumi tahun 1961 melanda tanah Mandar. Entahlah seperti apa yang jelasnya.
Minimnya informasi seputar Ujung Lero, karena daerah ini masih asing bagi, dan saya hanya bisa memandangi dan merabanya dari kejauhan saja.
Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
Minimnya informasi seputar Ujung Lero, karena daerah ini masih asing bagi, dan saya hanya bisa memandangi dan merabanya dari kejauhan saja.
Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
22.09 | 0
komentar
Lontaraq, Artefak Budaya Yang Terabaikan
Written By ian on Senin, 29 Juli 2013 | 08.18
Perjalanan hidup dan kehidupan manusia tidak pernah lepas dari cerita yang didorong oleh keinginan manusia itu untuk dikenang dan meninggalkan kenangan itu untuk menjadi pelajaran bagi anak keturunannya, meskipun hal ini mungkin disadari setelah zaman memasuki era sejarah namun setidaknya usaha nenek moyang manusia untuk meninggalkan jejak sudah dimulai diera pra sejarah meski melalui simbol, gambar atau bangunan. Dari budaya penyampaian cerita lisan lalu beralih pada penggunaan simbol sederhana, inilah yang kemudian berkembang menjadi sebuah aksara atau tulisan.
![]() | |
| Contoh Penulisan Aksara Lontaraq Foto : Zulfihadi |
Tentu saja pengkajian budaya tulisan tidak semudah membuat "Jepa" (makanan khas mandar), namun melalui proses yang rumit dan melelahkan. Setidaknya begitulah kesimpulan saya setelah membaca resume hasil SEMINAR ANTAR BANGSA “Dialek-dialek Austronesia Di Nusantara III” (Dialek Pribumi Warisan Keterampilan Jati Diri), pada bulan Januari 2008 lalu. “Dimana dalam melakukan penelitian, beberapa ahli menggunakan metode analisis semiotik kultural sebagai piranti analisis karena lebih menekankan perhatian pada aspek lambang-lambang yang merupakan bagian dari kata, istilah, kalimat, paragraf dari teks yang ingin dipertanyakan lebih jauh guna menemukan arti atau makna yang dikandungnya. Makna dari sebuah simbol atau lambang yang digunakan dalam hal ini dimaksudkan sebagai hasil kegiatan sosial dalam sebuah masyarakat sehingga pemahamannya tidak bisa bebas konteks tetapi membutuhkan konteks dari pengguna/pemakai simbol tersebut dalam proses pemaknaannya”.
Sebuah kebanggaan tersendiri bagi kita suku Mandar yang hidup di jazirah Sulawesi bahwa dari ratusan suku bangsa yang ada di nusantara, ternyata hanya sedikit yang mempunyai budaya tulisan. Bahkan kalau kita amati, beberapa suku yang ada dipulau Celebes tidak mengenal budaya tulis ini seperti halnya Makassar, Bugis dan Mandar. Aksara yang digunakan oleh ketiga suku ini disebut sebagai aksara "Lontaraq" yang didalam penulisan menggunakan bahasa masing-masing.
Jadi orang Makassar menulis aksara Lontaraq dalam bahasa Makassar, Bugis menulis aksara Lontaraq dalam bahasa Bugis dan Mandar pun menulis aksara Lontaraq dalam bahasa Mandar. Menyebutkan kata Lontaraq terkadang merujuk pada jenis aksaranya namun terkadang pula genre pembahasan yang terkandung pada tulisan tersebut, seperti misalnya Lontara Pattodioloang yang meceritakan asal usul manusia Mandar, Lontaraq Sendana, Lontaraq Mandar dll.
Media Daun Lontar
![]() | |
| Salah satu contoh gulungan daun lontar yang asli (Foto : Zulfihadi) |
Kata "Lontaraq" sebenarnya mengacu pada bahan utama media penulisan yaitu daun Lontar. Sejenis tanaman palem-paleman yang tumbuh didaerah tropis, mempunyai buah yang bundar dan isinya dapat dimakan dengan rasa yang mirip kelapa muda. Pada permukaan daun inilah ditorehkan aksara dengan menggunakan ujung ijuk enau yang keras dan berbentuk seperti lidi biasanya digunakan sebagai alat bantu penunjuk saat mengaji dan pada orang bugis disebut “kalla”. Setelah aksara ditulis, lalu disapukan dengan kemiri yang telah dibakar hingga menghasilkan tulisan yang berwarna hitam sehingga mudah untuk dibaca.
Awal Mula Penggunaan Aksara Lontaraq
Kapan aksara lontaraq mulai digunakan? ini adalah pertanyaan yang sering terlontar dan menjadi pertentangan diantara mereka yang mementingkan egosentris dan etnosentris.
Menurut sejarah, aksara Lontaraq diperkenalkan oleh Daeng Pamatte dikenal sebagai cerdik cendikia pada zamannya dan beliau pula sempat menggemparkan jagat sains eropa dikarenakan memesan teropong besar dan tiruan bola bumi yang masih menjadi barang langka dan mahal waktu itu sebab masih merupakan temuan yang baru. Beliau menjabat sebagai Sabannarak atau Syahbandar Kerajaan Gowa. Ketika Kerajaan Gowa diperintah oleh Raja Gowa IX Daeng Matanre Karaeng Manguntungi yang bergelar Karaeng Tumappari’si’ Kallonna, Daeng Pamatte menjabati dua jabatan sekaligus yaitu Sabannarak merangkap Tumailalang (Menteri Urusan Istana dan Dalam Negeri). Pada waktu itu Karaeng Tumappari’si’ Kallonna memberikan titah kepada Daeng Pamatte untuk menciptakan aksara yang dapat dipakai untuk tulis-menulis.
Pada tahun 1538, Daeng Pamatte berhasil mengarang aksara Lontara yang terdiri atas 18 huruf dan juga tulisan huruf Makassar Kuno. Kemudian, aksara "Lontaraq" ini dipermoderen dan bentuknya lebih disederhanakan sehingga jumlah hurufnya menjadi 19, akibat masuknya pengaruh bahasa Arab. Dalam perkembangan selanjutnya karena ada vocal bugis yang tidak terdapat pada vocal makassar maka ditambahkanlah empat huruf lainnya yaitu NKA, NCA, NPA dan NRA sebagaimana modelnya yang sekarang. (sumber: Sempugi@m.facebook)
Menurut akademisi yang sekaligus budayawan, Prof H. A. Mattulada, (alm) terinspirasi oleh “sulapa eppa wala suji“. Wala suji berasal dari kata wala yang berarti pemisah/pagar/penjaga dan suji berarti putri. Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api, air, angin dan tanah.
Akhirnya aksara ini terus mengalami perubahan dan penyempurnaan hingga mencapai bentuknya yang sekarang yang berjumlah 23 huruf (termasuk bunyi konsonan dan vokal a) dan disusun berdasarkan aturan tersendiri. Dalam sistem aksara ini, dikenal penanda vokal untuk u, e, o, ae.
Namun, aksara "Lontaraq" tidak mengenal huruf atau lambang untuk mematikan huruf misalnya sa menjadi s. Ketiadaan tanda-mati ini cukup membingungkan bila ingin menuliskan huruf mati. Juga, di banding aksara-aksara lain, aksara Lontara tak memiliki semua fonem. Beberapa huruf ditafsirkan secara teoretis dengan sembilan cara berbeda, dan ini juga kadang-kadang menimbulkan masalah bagi penafsiran pembaca.
Penggunaan aksara lontara ini sendiri pada masyarakat suku Mandar jaman dahulu tertuang dalam penulisan seni sastra dan prosa yang meliputi :
- Pomolitang atau pau-pau losong (dongeng) dengan menggambarkan tingkah laku binatang yang baik dan buruk yang dapat dicontohi oleh manusia, misalnya dongeng I Puccecang annaq I Pulladoq (Kera denagan Pelanduk), di mana kera melaksanakan sifat yang baik dan pelanduk melaksanakan sifat yang kurang baik.
- Toloq (kissah) menggambarkan liku-liku kehidupan dari seseorang tokoh dalam masyarakat misalnya kisah Tonisesseq di Tingalor (seorang bidadari jatuh dari kayangan dan ditelan oleh seekor ikan Tingalor).
- Sila-sila (silsilah) menggambarkan suatu kerajaan dan nama-nama rajanya secara turun-temurun, misalnya silsilah raja-raja di Pamboang, Sendana, Banggae dsb.
- Pau-pau pasang atau Pappasang (pesan-pesan luhur) menggambarkan ajaran normal, nasihat dan petuah bagi kehidupan seseorang, keluarga dan bagi kehidupan masyarakat yang lebih luas, misalnya pesan orang tua terhadap anak-anaknya, pesan seorang kakek terhadap pasangan suami isteri, pesan seorang sesepuh kepada warga masyarakat, pesan-pesan raja pada rakyatnya.
- Karangan bentuk puisi disebut juga kalindaqdaq.
- Assitalliang atau perjanjian /traktat.
Akhir tulisan, kembali penulis mengajak pada pembaca sekalian khususnya yang memiliki perhatian pada budaya agar supaya mau melirik kembali aksara ini sebagai sebuah mahakarya dari leluhur kita yang hampir punah. Jika melihat jumlah generasi yang masih bisa membaca dan memahami aksara lontara ini yang dari waktu ke waktu semakin berkurang, jika tidak diambil sebuah tindakan usaha penyelamatan maka niscaya beberapa generasi lagi aksara lontara ini akan menjadi asing dinegerinya sendiri.
Referensi (Sumber Bacaan) :
- Anonim. 2008. Seminar Antar Bangsa "Dialek-Dialek Austronesia di Nusantara III" (Dialek Pribumi Warisan Keterampilan Jati Diri).
- Anonim. Budaya Mandar. Available on http://datastudi.wordpress.com/2008/08/17/budaya-mandar/ (diakses 23 juli 2013)
- Diskusi grup sosial media "Sempugi"
Penulis :
Zulfihadi, saat ini menetap di kec. Wonomulyo Kab. Polewali Mandar, hobi membaca hal yang berkaitan dengan sejarah dan budaya daerah serta mengutak-atik komputer, tenaga pendidik di SMK Soeparman Wonomulyo dan aktif sebagai pembina Pramuka di instansi mengajarnya.
Kontak Saya :
Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
08.18 | 0
komentar
Potret Arsitektur Rumah Adat Mandar Kab. Polewali Mandar Di Kompleks Benteng Somba Opu
Written By ian on Minggu, 30 Juni 2013 | 21.24
Anda pernah menjejakkan kaki dalam kompleks benteng Somba Opu? kalau iya mungkin saja anda sempat melihat beberapa rumah adat tiap kabupaten di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat yang masih berdiri kokoh disana. Rumah adat ini adalah miniatur budaya Sulawesi yang dahulu dibuat dengan tujuan untuk memperkenalkan pada masyarakat seputar budaya tiap-tiap daerah dengan menampilkan rumah adat khas daerah masing-masing.
Dalam kompleks benteng Somba Opu ini dapat anda temukan 3 rumah adat Mandar yang berhubungan dengan daerah Sulawesi Barat. Rumah adat kabupaten Polewali Mandar, rumah adat kabupaten Majene, dan rumah adat kabupaten Mamuju. Satu dari rumah adat yang akan kita lihat lebih dalam disini yaitu rumah adat Mandar kabupaten Polewali Mandar.
Rumah adat Mandar kab.Polman ini meskipun tidak memiliki papan nama pengenal namun dari keterangan keluarga yang menghuni rumah ini mengemukakan bahwa rumah ini adalah rumah adat Mandar, secara umum kami berkesimpulan bahwa ini adalah rumah adat kab.Polman. Bangunan paling megah diantara ketiga rumah adat Mandar yang ada dan masih cukup baik dari segi perawatan dan bangunan fisik.
Rumah adat memang kadang dibuat dengan ornamen yang rumit dan kompleks seperti arsitektur diatas beranda atau sering disebut dalam bahasa daerah Mandar (Bolloq-Bolloq)
Secara umum rumah adat Mandar memiliki struktur tangga dua susun, ini yang membedakan rumah adat (boyang adaq) dan rumah biasa (boyang biasa)
Struktur dinding terluar dan jendela rumah adat ini juga dibuat dengan sangat rumit, penuh dengan nilai keindahan yang cukup tinggi. Dengan ukiran yang dibuat dibagian samping jendela
Bagian dalam rumah adat ini juga terdiri atas dua bagian, satu bagian dengan posisi agak dibawah, satunya lagi dengan posisi agak tinggi, mirip dengan posisi panggung, atau lesehan. Memiliki ruang tengah yang cukup luas tanpa pembatas.
Bagian bawah atau kolong rumah adat sangat luas, dengan gambaran tiang dan lantai yang sangat kokoh, ditopang oleh puluhan tiang rumah berukuran tidak biasa berukuran cukup tinggi, berbeda dengan rumah-rumah panggung yang biasa kita temukan di tanah Mandar
Ornamen di dinding terluar rumah adat ini dibuat cukup rumit, namun tak serumit ukiran khas dari Jepara, yang jelas bahannya terbuat dari kayu yang terlihat cukup kuat dan keras.
Menelusuri jejak peninggalan rumah adat Mandar kab. Polman ini tentu tak akan pernah habis, setelah anda tahu bagian-bagian rumah adat, pasti anda akan bertanya, lalu apa fungsi dari bagian-bagian ini? , adakah nilai filosofinya? , lalu bagaimana dahulu orang-orang Mandar menggunakan rumah adat ini. Pertanyaan-pertanyaan yang lahir kemudian akan mendorong anda untuk menggali lebih dalam tentang jejak arsitektur rumah yang ditinggalkan oleh leluhur. Rumah atau boyang di daerah Mandar dahulu pada dasarnya memang dibuat dengan nilai filosofi yang dalam, semua punya arti, maksud, dan harapan tertentu.
Tommuane Mandar, saat ini menetap di Makassar, hobi travelling dan fotografi. Pecinta wisata kuliner, sedang merintis pelestarian aspek budaya dan promosi tempat-tempat wisata di tanah Mandar - Sulawesi Barat lewat pengembangan dunia literasi via promosi sosial media.
Kontak Saya :
twitter : https://twitter.com/tommuane_mandar
facebook : https://www.facebook.com/tommuane.mandar.96
Rumah adat Polman ini memiliki pekarangan yang cukup luas, dengan lebar sekitar 15 meter dan panjang 20 meter dengan tanaman pelindung dan bunga yang ditanam disisi pekarangan, cukup terawat dengan baik.
| Tampak bagian pekarangan di sisi depan rumah adat Mandar kab. Polewali Mandar Foto : Tommuane Mandar |
Dibangun dengan struktur kayu yang cukup kokoh, dengan detail pekerjaan ornamen di tiap sisinya yang penuh dengan ukiran. Struktur tangga yang berada disisi lateral rumah dengan cungkup yang agak menjorok kedepan menjadi salah satu ciri khasnya sendiri.
| Bagian depan rumah adat Mandar kab. Polewali Mandar Photo Credit : Tommuane Mandar |
| Bagian tangga rumah adat Mandar Foto : Tommuane Mandar |
| Struktur tangga rumah adat Mandar Foto : Tommuane Mandar |
| Struktur jendela rumah adat Mandar kab. Polman Foto : Tommuane Mandar |
| Interior rumah adat Mandar kab. Polman Foto : Tommuane Mandar |
| Bagian kolong rumah adat Mandar kab. Polman Foto : Tommuane Mandar |
| Ornamen di dinding rumah adat Mandar kab. Polman Foto : Tommuane Mandar |
Penulis :
Tommuane Mandar, saat ini menetap di Makassar, hobi travelling dan fotografi. Pecinta wisata kuliner, sedang merintis pelestarian aspek budaya dan promosi tempat-tempat wisata di tanah Mandar - Sulawesi Barat lewat pengembangan dunia literasi via promosi sosial media.Kontak Saya :
twitter : https://twitter.com/tommuane_mandar
facebook : https://www.facebook.com/tommuane.mandar.96
facebook grup : https://www.facebook.com/groups/201234436690924/
blog : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
blog : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
21.24 | 0
komentar
Bahasa Koneq-Koneqe, Akulturasi Budaya Bugis di Daerah Mandar
Written By ian on Jumat, 28 Juni 2013 | 07.36
Bahasa koneq-koneqe, pertama kali mendengar bahasa ini saat melemparkan topik kuliah tweet seputar kecamatan Campalagian di kabupaten Polewali Mandar. Saat itu salah satu follower tiba-tiba menyoal seputar bahasa Koneq-koneqe yang merupakan khas daerah Campalagian. Jujur, saat itu saya untuk pertama kalinya tahu bahwa bahasa jenis ini ada dan cukup terkenal disana. Lalu, apa sebenarnya bahasa koneq-koneqe ini? pertanyaan yang kemudian muncul dibenak saya.
![]() |
| Bahasa Koneq-Koneqe Khas Campalagian (Ilustrasi : Tommuane Mandar) |
Sampai saat ini mendengar contoh bahasa koneq-koneqe ditelinga juga belum pernah sama sekali saya dengar, namun dari penelusuran kepustakaan mari kita lihat beberapa contoh bahasa ini :
Itu kutu'o : di situIni kone'e : ada di siniRiya' koro'o : ada disituPanteng : emberMio' : kelapaCuki : kucingMaca'bu ; harum; wangiMaca'bu : manisSapapaummu :Sa'buloako : {kasar}Pole : datangAllao : pergiAmmuning : kembali; pulangAllao lauling : pergi pulangAllao leleng : bepergianAghama : ada apaPole indoko : dari mana [kasar]Pole inrokie : dari mana [halus]Accaule : bermain
Meskipun saya bukan ahli bahasa tapi coba kita lihat perbedaan bahasa nya dengan bahasa Mandar. Ada kata yang berbeda walaupun ada juga kata yang sedikit sama. Bahasa koneq-koneqe menurut sejarah memang bukan merupakan bahasa Mandar. Bahasa ini adalah bahasa bugis yang masuk dalam penggolongan dialek dengan urutan ketujuh, entah urutan sebelumnya dialek apa, saya juga tidak melakukan penelusuran lebih jauh. Namun bahasa ini berkembang di wilayah Mandar (Campalagian) dengan latar belakang sejarah panjang sekelompok penduduk di masyarakat Bugis yang mengungsi kedalam wilayah kerajaan Balanipa.
Sejarah Bahasa koneq-koneqe
Sejarah bahasa ini melibatkan suku Bugis yang berpindah masuk kedalam wilayah kerajaan Balanipa pada suatu masa oleh karena perpecahan di daerah Cempalagi, hingga terdapat beberapa kelompok yang terusir dari Cempalagi dan masuk ke wilayah Mandar. Berikut ini adalah sejarah bahasa koneq-koneqe yang dituturkan oleh alm. Prof. Darmawan Mas'ud, ahli sejarah seputar Mandar.
Dahulu, terdapat kampung yang bernama Cempalagi di Bone, Sulawesi Selatan, yang didiami oleh masyarakat Bugis. Saat itu masih jaman kerajaan, suatu hari terjadi perebutan kekuasaan antara kakak beradik yang ingin menggantikan tahta ayahnya sebagai raja yang telah meninggal. Pemilihan pun dilakukan, namun karena sang kakak mempunyai watak keras, sombong dan serakah maka tidak ada rakyat yang mendukung. Sebaliknya sang adik yang baik hati dan dermawan didukung penuh oleh rakyat di Cempalagi. Sang kakak pun marah karena tidak terima dikalahkan oleh adik kandungnya sendiri. Ia pun berniat membunuh sang adik. Berkat ketulusan sang adik, ia berniat untuk mundur menjadi raja dan menerima kalau kakaknya yang menjadi raja. Namun sang kakak sudah kadung marah, sehingga ia tetap tidak terima keputusan adiknya itu. Akhirnya sang adik dan semua rakyat yang mendukungnya memutuskan untuk kabur dari desa Campalagi menuju daerah yang aman. Sang kakak ternyata tetap mengejar karena dendam terhadap adik dan semua rakyat yang ikut dengan adiknya.
Akhirnya sang adik tiba di perbatasan Kerajaan Balanipa (yang saat itu dibatasi oleh jembatan Mapilli) berharap akan mendapat perlindungan dari Raja Balanipa karena ia tau kakaknya tidak mungkin masuk ke kekuasaan kerajaan lain. Dan ternyata sang adik dan pengikutnya disambut baik oleh Raja Balanipa.
Selang beberapa lama Raja Balanipa akhirnya memutuskan untuk memberikan satu wilayahnya kepada sang adik dan pengikutnya asalkan mereka mau tetap tinggal di Balanipa. Sang adik dan pengikutnya setuju dan gembira dengan keputusan Raja Balinpa tersebut. Akhirnya mereka semua tinggal dan menetap di Balanipa dan wilayah itu diberi nama Campalagian.
Dari petikan sejarah seputar bahasa koneq-koneqe diatas tergambar bahwa ada pencampuran budaya bahasa yang berasal dari Bugis dengan Mandar. Di desa Bonde (Kampung Masigi) bahasa ini mungkin akan sering didengarkan, namun perlahan mulai terkikis dan beranjak punah, penuturnya sudah semakin sedikit. Penutur bahasa koneq-koneqe juga ditemukan di desa Parappeq atau Banua Baru, desa Passairang, desa Katumbangan Lemo, desa Buku, dan desa Panyampa
Orang-orang yang menggunakan bahasa ini juga mampu memakai bahasa Mandar sebagai bahasa yang mayoritas dipakai di Campalagian, jadi disaat anda berbicara dengan menggunakan bahasa Mandar maka mereka akan mengerti dan dapat membalas anda dengan bahasa Mandar, namun jika anda mahir berbahasa Mandar, belum tentu anda mampu berbahasa koneq-koneqe.
Sama halnya dengan bahasa daerah maka bahasa ini juga perlahan mulai hilang, dan sangat sedikit digunakan. Walaupun bukan bahasa Mandar namun bahasa koneq-koneqe memperkaya bahasa yang ada dan lestari di daerah Mandar. Jika anda mendengar bahasa ini maka dialeknya pun memiliki intonasi yang khas, seru untuk didengarkan.
Sumber Rujukan :
- Hudriansyah A (2012). Bahasa “Koneq-koneqe” Suku Mandar, Bahasa yang Terancam Punah. Available at : http://sejarah.kompasiana.com/2011/09/30/bahasa-koneq-koneqe-suku-mandar-bahasa-yang-terancam-punah-399699.html (diakses 28 Juni 2013)
- Anonim (2012). Koneq-koneqe Indonesia Dictionary. Available at : http://mandardictionary.blogspot.com/2012/01/kamus-koneq-koneqe-baca-kone-konee.html (diakses 28 Juni 2013)
- Anonim (2013). Asal Mula Bahasa Koneq-Koneqe. Available at : http://kacomandar.blogspot.com/2013_05_01_archive.html (diakses 28 Juni 2013)
Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
07.36 | 0
komentar
Potret Rumah Adat Mandar Majene Di Benteng Somba Opu Makassar
Written By ian on Rabu, 05 Juni 2013 | 19.51
Rumah adat Mandar dari kab. Majene adalah salah satu dari tiga buah rumah adat Sulawesi Barat yang berdiri di dalam kompleks Benteng Somba Opu Makassar. Menyusun beberapa miniatur budaya Sulawesi Selatan sebelum terbentuknya provinsi Sulawesi Barat.
Berikut ini beberapa dari foto rumah adat Mandar kab. Majene :
Berikut ini beberapa dari foto rumah adat Mandar kab. Majene :
| Tampak bagian depan rumah adat Mandar kab. Majene Foto : Tommuane Mandar |
| Tampak bagian belakang rumah adat Mandar kab. Majene Foto : Tommuane Mandar |
| Bagian belakang (paceko) rumah adat Mandar kab. Majene Foto : Tommuane Mandar |
| Bagian belakang rumah adat Mandar kab. Majene (mulai rusak) Foto : Tommuane Mandar
Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
|
19.51 | 0
komentar
Situs Allamungan Batu Di Luyo
Written By ian on Sabtu, 01 Juni 2013 | 18.03
Dua konfederasi kerajaan besar di daerah Mandar dahulu adalah Pitu Baqbana Binanga dan Pitu Ulunna Salu. Sejarah merekam bahwa beberapa kali dua kelompok kerajaan yang berbeda letak mewakili dataran tinggi dan dataran rendah ini pernah beberapa kali membuat kesepakatan berupa perjanjian.
![]() |
| Monumen situs Allamungan Batu yang terletak di wilayah kec. Luyo Kab. Polewali Mandar Sulawesi Barat Photo Credit : Azdar Gipsi |
Daerah Luyo yang berada di kab. Polewali Mandar dahulu pernah dijadikan tempat untuk berikrar untuk semakin memperkuat persaudaraan antara dua kelompok kerajaan ini dalam persepsi Mandar yang lebih kuat.
Berikut dibawah ini adalah kutipan naskah Allamungan Batu di Luyo, (perjanjian Sipamandaq di Luyo)
1. Taqlemi manurunna peneneang uppasambulobulo anaq appona di Pitu Ulunna Salu, Pitu Baqbana Binanga, nasaqbi Dewata diaya Dewata diong, Dewata di kanang, Dewata diolo, Dewata diboeq, manjarimi pasemandarang.
2. Tannisapaq tannitonang, maq allonang mesa mallatte samballa, siluang sambusambu sirondong langiqlangiq, tassipande peoqdong tassipadundu pelango, tassipelei dipanraq tassiluppei diapingang.
3. Sipatuppu diadaq sipalete dirapang, adaq tuho di Pitu Ulunna Salu, Adaq mate di muane adaqna Pitu Baqbana Binanga.
4. Saputangang di Pitu Ulunna Salu, Simbolong di Pitu Baqbana Binaga
5. Pitu Ulunna Salu memata di Sawa, Pitu Baqbana Binanga memata di Mangiwang
6. Sisaraqpai mata malotong anna mata mapute, anna sisaraq Pitu Ulunna Salu Pitu Baqbana Binanga.
7. Moaq diang tomangipi mangidang mabattangang tommutommuane, namappasisaraq Pitu Ulunna Salu Pitu Baqbana Binanga, sirumungngi anna musesseqi, passungi anaqna anna muanusangi sau di uwai temmembaliq
Sejarah memang selalu menunjukkan bahwa selalu ada usaha untuk mempersatukan daerah-daerah yang luas di Mandar dalam satu kesepakatan yang lebih bermanfaat, dengan nilai filosofi yang sangat dalam jika dilihat dari isi perjanjian tersebut.
Tommuane Mandar, saat ini menetap di Makassar, hobi travelling dan fotografi. Pecinta wisata kuliner, sedang merintis pelestarian aspek budaya dan promosi tempat-tempat wisata di tanah Mandar - Sulawesi Barat lewat pengembangan dunia literasi via promosi sosial media.
Kontak Saya :
twitter : https://twitter.com/tommuane_mandar
facebook : https://www.facebook.com/tommuane.mandar.96
Penulis :
Tommuane Mandar, saat ini menetap di Makassar, hobi travelling dan fotografi. Pecinta wisata kuliner, sedang merintis pelestarian aspek budaya dan promosi tempat-tempat wisata di tanah Mandar - Sulawesi Barat lewat pengembangan dunia literasi via promosi sosial media.Kontak Saya :
twitter : https://twitter.com/tommuane_mandar
facebook : https://www.facebook.com/tommuane.mandar.96
facebook grup : https://www.facebook.com/groups/201234436690924/
blog : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
blog : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
18.03 | 0
komentar
5 Fakta Wanita Kalumpang Asal Mamuju Sulawesi Barat
Written By ian on Kamis, 30 Mei 2013 | 20.47
Apakah anda pernah mendengar cerita tentang pesona kecantikan gadis-gadis kalumpang di wilayah Mamuju?benarkah mereka cantik? Gadis Kalumpang konon mirip dengan mereka yang berasal dari Minahasa atau Manado, memiliki kulit putih bersih, itu menurut informasi yang pernah saya dengar langsung dari seorang rekan.
Menurut informasi wanita Kalumpang lebih mirip dengan wanita-wanita Manado. Kondisi alam Kalumpang yang masih alami dan asri mungkin cocok untuk menjaga pesona mereka. Dan setelah memposting topik wanita dan gadis Kalumpang di Twitter seorang wanita Kalumpang sempat membalas tweet-tweet saya dan menjelaskan serta mengkonfirmasi beberapa tweet yang saya jelaskan soal Kalumpang.
Fakta pertama yang kemudian terungkap adalah benar jika wanita dan gadis Kalumpang cenderung memiliki warna kulit yang putih dengan dominasi paras yang elok dipandang, tetapi kemudian tidak semua seperti itu.
Fakta kedua adalah Kalumpang masih menyimpan adat, budaya, serta tradisi yang masih terjaga dengan baik. Kebiasaan-kebiasaan dari leluhur dan nenek moyang masih dijaga dengan cukup ketat walaupun memang tidak bisa dinafikkan bahwa modernisasi juga masuk ke daerah ini.
Fakta ketiga adalah bahwa orang-orang Kalumpang tidak memiliki pertalian dengan orang-orang Manado ataupun Minahasa, jadi mereka asli dari daerah Kalumpang.
Fakta keempat adalah bahwa wanita Kalumpang dan penduduknya memiliki dialek khas
![]() |
| Wanita dengan pakaian adat daerah Kalumpang (Foto : Harris Rinaldi) |
Fakta pertama yang kemudian terungkap adalah benar jika wanita dan gadis Kalumpang cenderung memiliki warna kulit yang putih dengan dominasi paras yang elok dipandang, tetapi kemudian tidak semua seperti itu.
Fakta kedua adalah Kalumpang masih menyimpan adat, budaya, serta tradisi yang masih terjaga dengan baik. Kebiasaan-kebiasaan dari leluhur dan nenek moyang masih dijaga dengan cukup ketat walaupun memang tidak bisa dinafikkan bahwa modernisasi juga masuk ke daerah ini.
Fakta ketiga adalah bahwa orang-orang Kalumpang tidak memiliki pertalian dengan orang-orang Manado ataupun Minahasa, jadi mereka asli dari daerah Kalumpang.
Fakta keempat adalah bahwa wanita Kalumpang dan penduduknya memiliki dialek khas
Fakta kelima adalah wanita Kalumpang yang berusia paruh baya kadang menenun, tenunan khas Kalumpang yang dinamai "Sekomandi" berbahan dasar benang dari kapas yang dipintal.
20.47 | 0
komentar
Mengapa Mara'dia Mandar Ini Diasingkan Oleh Belanda
Written By ian on Jumat, 08 Maret 2013 | 20.47
Dibawah ini adalah gambar dari salah satu Mara'dia Malolo Kerajaan Balanipa, dialah "Calo Ammana I Wewang"
Ammana I Wewang, Mara'dia Malolo Balanipa
Sumber Gambar : www.malaqbi.com
Calo Ammana I Wewang, Kaco Puang Ammana I Pattolawali adalah dua Mara'dia Malolo dari kerajaan berbeda yang sama2 diasingkan oleh Belanda.
Tahukah anda mengapa tokoh-tokoh hebat dari kerajaan Mandar ini diasingkan jauh dari tanah kelahirannya? Ya, karena mereka adalah pemimpin kesatuan militer dari kerajaan masing-masing.
Posisi Mara'dia Malolo adalah posisi strategis yang membawahi angkatan militer dibawahnya, setidaknya ada 4 kelasykaran yang merujuk pada seorang Mara'dia Malolo, singkatnya mungkin dapat dianalogikan sebagai menteri urusan pertahanan dan keamanan pada saat itu atau panglima perang (semoga analoginya tepat). Maka kemudian wajar jika mereka-mereka sampai diasingkan jauh dari tanah Mandar, ini karena pihak Kompeni Belanda melihat peran mereka yang dapat mengurangi dominasi Belanda mengekspansi kebijakan Mara'dia.
Dalam struktur kerajaan Balanipa misalnya seorang Mara'dia Malolo memimpin 4 kesatuan /kelasykaran dibawahnya dan secara langsung bertanggung jawab pada Mara'dia. Adapun keempat angkatan perang itu disebut sebagai "joa" :
1. Joa' Maoa (pasukan pengawal istana)
2. Joa' passinapang (pasukan bersenapan)
3. Joa' pakkabusu (pasukan berani mati)
4. Joa' paburasan (pasukan bersumpit)
dan dari setiap kesatuan ini akan dikomandoi oleh seorang annangguru dengan bantuan sariang, tomabuweng, dan ke'de. Dengan struktur pertanggungjawaban dari tiap annangguru langsung ke Mara'dia Malolo. (sumber : http://mandarinfo.blogspot.com)
Adapun Calo Ammana I Wewang adalah Mara'dia Malolo dari kerajaan Balanipa dan Kaco Puang Ammana I Pattolawali adalah Mara'dia Malolo dari kerajaan Banggae. Singkat kata aspek militer kerajaan Mandar dilemahkan oleh Belanda dengan mengeliminasi peran kedua panglima perangnya. Maka ini tentu saja memudahkan Belanda untuk melakukan aksinya mempengaruhi pihak kerajaan.
Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
20.47 | 0
komentar
Kerajaan Balanipa
Written By ian on Kamis, 22 Desember 2011 | 22.52
Balanipa adalah sebuah daerah di Provinsi Sulawesi Barat, tepatnya di Desa Balanipa, Kecamatan Balanipa dalam daerah Kab. Polewali Mandar.
Pengertian Balanipa
Terlebih dahulu kita harus ketahui dulu arti Balanipa secara harfiah, Balanipa bersala dari dua kata bahasa mandar yaitu , “Bala” yang berarti kandang dan “Nipa” yang berarti ‘nipa’ (suatu jenis bahan dasar membuat wadah). Bala adalah kandang/tempat yang berfungsi sebagai arena untuk mengadili dua orang laki-laki yang sedang berselisih atau bersengketa dan tidak bisa lagi didamaikan. Keduanya dimasukkan ke dalam bala nipa (kandang yang terbuat dari nipa) lengkap dengan senjata tajam masing-masing, diadu menyabung nyawa. Siapa yang lebih dahulu terluka atau mati dia dianggap bersalah. Pengadilan seperti itu berlaku di daerah Balanipa sebelum I Manyambungi bergelar Todilaling menjadi raja Balanipa yang pertama. Kemudian disusul Tomepayungraja Balanipa yang kedua, Todiyallo’menjadi raja Balanipa yang ketiga, dan yang lainnya.
Kerajaan Balanipa
Selain Balanipa merupakan nama daerah di Polewali Mandar, Balanipa juga merupakan nama kerajaan yang terbesar yang pernah ada di Kab. Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat. Kerajaan Balanipa tergabung dalam Persekutuan Pitu Baqbana Binanga dengan status sebagai Ama/Kamaq ‘ Bapak’ dalam pengertian ‘Ketua’. Sudah terkenal sejak abad ke-9 yang disebut dalam Sure’ Galigo. Mengalami beberapa periode pemerintahan yakni dari Zaman Tomakaka, Zaman Pappuangang, dan Zaman Kerajaan.
Struktur Kerajaan Balanipa
Para pejabat dan tugas mereka dalam kerajaan ialah Mara’dia ‘Raja’ Balanipa. Raja/Kepala/Ketua Pemerintahan. Pengangkatan raja yang baru dicalonkan berdasarkan musyawarah mufakat oleh Hadat Appeq Banua Kaiyang ‘Empat Negeri Besar’ yaitu Napo, Samasundu, Mosso, dan Todang-Todang.
Kemudian pejabat kerajaan yang lain adalah Mara’dia Matoa Balanipa yaitu wakil raja. Yang pertama kali diangkat menjadi Mara’dia Matoa Balanipa adalah Todiyallo’ (adik Tomepayung, raja Balanipa ke-2). Diantara mereka yang pernah menjadi Mara’dia Matoa Balanipa ialah I Nalong, I Baso (To Keppa’) dan I Boroa (To Kape) pada waktu Ammana I Bali menjadi Raja Balanipa, Pammase (Pallawuang) pada waktu I Mandawari menjadi Raja Balanipa, dan Abd. Madjid Mara’dia Tomadio/Campalagianpada waktu Andi Baso menduduki jabatan Raja Balanipa.
Selain jabatan dua jabatan penting di atas jabatan-jabatan lain yang ada di Kerajaan Balanipa adalah Mara’dia Malolo Balanipa (angkatan bersenjata kerajaan), Pa’bicara Kaiyang, Pa’bicara Kenje’, Pepuangan yang berjumlah 8 orang yang bertugas di wilayahnya masing-masing. Jabatan-jabatan itu berlaku sejak berdirinya kerajaan sampai tahun 1906, yang disebabkan oleh Pemerintah Belanda yang menghapus sebahagian jabatan yang ada dalam kerajaan karna dapat mengancam usaha Belanda untuk menguasai wilayah Mandar.
Wilayah Kekuasaan
Wilayah kekuasaan pemerintahaan kerajaan Balanipa terdiri atas dua bagian yaitu Wilayah asal (kernland) dan Wilayah-wilayah yang diperintah raja-raja kecil dan mempunyai otonomi sendiri-sendiri, masuk ke Kerajaan Balanipa karena persahabatan dan diikat oleh assitalliang ‘perjanjian’.
Terletak di wilayah Afdeling Mandar dari Gubernur Selebes dan Daerah Takluknyam kira-kira 2 50’ L.S. dan 118 54’ B.T. dan 119 20’ B.T.
Sumber : Buku Ensiklopedia Tentang Mandar.
http://kampoeng-mandar.blogspot.com
Sumber : Buku Ensiklopedia Tentang Mandar.
http://kampoeng-mandar.blogspot.com
22.52 | 0
komentar
Sejarah dan Kisah Islam di Tanah Mandar (Sulawesi Barat)
Written By ian on Minggu, 21 Agustus 2011 | 01.54
Islam pertama kali masuk di Mandar, diperkirakan berlangsung pada Abad ke – 16.
Tentang hal itu terdapat tiga pendapat sebagai berikut :
Berikut Kisah Pengembang dan Pembawa Ajaran Agama Islam di Tanah Mandar :- Menurut Lontara Balanipa masuknya Islam di Mandar dipelopori oleh Abdurrahim Kamaluddin yang juga dikenal sebagai Tosalamaq Dibinuang. Ia mendarat di Pantai Tammanggalle Balanipa. Orangpertama yang memeluk agama Islam Ialah Kanne Cunang Maraqdia”Raja” Pallis, kemudian Kakanna I Pattang Daetta Tommuane, Raja Balanipa ke-4.
- Menurut Lontara Gowa, Masuknya Islam di Mandar dibawa oleh Tuanta Syekh Yusuf (Tuanta Salamaka).
- Menurut salah sebuah surat dari Mekkah bahwa masuknya Islam di Sulawesi (Mndar) di bawa oleh Sayid Al Adiy bergelar Guru Ga’de berasal dari Arab Keturunan Malik Ibrahim dari Jawa. Pendapat yang kedua diatas secara tidak langsung ditolak oleh Dr. Abu Hamid yang dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa Syekh Yususf Tuanta Salamaka tidak pernah kembali ke Sulawesi Selatan sejak kepergiannya ke Pulau Jawa sampai dibuang ke Kolombo Srilangka, kemudian ke Afrika Selatan dan meninggal disana. Diperkirakan Agama Islam masuk ke Daerah Mandar berlangsung dalam abad ke-16. Pada waktu itulah para pelopor membawa dan menyebarkan islam di Mandar yaitu Syekh Abdul Mannan ( Tosalamaq Disalabose) Sayid Al Adiy, Abdurrahim Kamaluddin, Kapuang Jawa dan Sayid Zakariah. Masuknya Islam di daerah ini dengan cara damai dan melalui Raja-raja.
Adam to Salamaq
Hidup pada permulaan abad ke-17 M dan beliau dikenal salah satu Penganjur Agama Islam
termasuk di tanah Mandar, tidak diketahui jelas darimana asal-usulnya, namun
beliau diduga berasal dari Sumatera, sebelumnya beliau berdiam di kampong Melayu
Makassar, dan dari Makassar beliau ke Mandar dan menetap di Luaor Pamboang.
Alkisah
beliau menyebarkan agama Islam ke daerah lain, dengan cara berdakwah pada
daerah-daerah yang disinggahinya, ketika bersama dengan pelaut dan pedagang
dari Luaor, pada waktu berlayar ke Manado, Ambon, Maumere dan tempat-tempat
lain di pantai timur Sulawesi, dikisahkan rombongannya selalu luput dari para
perompak kekejaman Bajak laut yang merajalela pada waktu itu, membuat dirinya di percaya oleh murid-muridnya
memliki keistimewaan atau kesaktian pada waktu itu.
Dari
mulut kemulut kisah-kisah istimewah atau aneh ini yang terjadi pada diri yang
dikenal sebagai Adam to Salamaq ini menyebar ke berbagai pelosok, terutama di
daerah Pamboang sendiri.
Keanehan-keanehan
sering terjadi dalam kehidupannya sehari-hari, bahkan ramalannya tepat tentang
hari kematiannya dan tempat pemakamannya.
Beliau
dimakamkan di Lakkaqding Somba menjelang hari kematiannya, diatas perahu dalam
perjalanan dari Sulawesi Utara ke Kampung Luaor yang dimanan sebelumnya beliau
berpesan untuk singgah di Lakkading.
Angin
buritan sangat baik, anak buahnya bermaksud tidak akan singgah di Somba, namun
perahu yang sedang melaju setelah melewati Somba, tiba-tiba terhenti, dan dalam
keadaan sakit beleiau bertepi mendarat di Lakkaqding, kemudian berjalan menuju
ketempat seberkas sinar yang memancar di kaki bukit, dimana disitulah tempat
pemakaman yang sebelumnya ia sudah tentukan.
Perjalanan
lanjut ke Luaor, dimana perjalanan ini berjarak 22 KM dari Lakkaqding Somba.
Keesokan harinya beliau meninggal dunia, Ahli warisnya memenuhi wasiatnya
dimana yang sebelumnya ia berpesan untuk dimakamkan di lakkaqding.
Sampai
sekarang hamper setiap saat selalu saja ada pengunjung yang ziarah kemakamnya
terutama warga masyarakat Luaor, Kec . Pamboang, kab. Majene.
Sayid Al Adiy
Penganjur
agama islam bergelar Guru Gadge, ada yang berpendapat beliau adalah
penganjur/pembawa Agama Islam yang pertama ke daerah Mandar. Makam beliau
terletak di Lambanan Kec. Balanipa Kab. Polmas. Salah satu makam yang dianggap
keramat dan selalu di ziarahi orang.
Mempunyai
silsilah yang lengkap sampai tujuh generasi/lapis. Turunannya berperawakan
mirip Arab, Cucunya yang kedua bernama H. Muhammad Nuh.
Syekh Syarif Ali
Syekh Syarif adalah salah satu Penganjur agama Islam di Tanah Mandar.
Dikisahkan
beliau berasal dari Mekah, dirinya meninggalkan Mekah bersama saudaranya ,Syekh
Syarif Husain, (menurut cerita bahwa beliau tinggal di Cikoang, Kab Takalar).
Menurut
cerita rakyat, bahwa beliau berangkat dari Mekah melalui laut, dengan
mengendarai selembar appar pasambayyaganna atau dalam bahasa Indonesia bisa
diartikan sebagai Tikar Sembahyangnya, kemudian ia memiliki tongkat besi
sepanjang 2 meter, diceritakan ada 7 tongkat yang berganti-ganti dijadikan
kemudi, perjalanan ditempuh 7 hari 7 malam.
Peppitu
raqda Peppitu tuo ringena’ tujuh kali tanggal tujuh kali tumbuh giginya,.
Tanggal diwaktu malam dan tumbuh diwaktu siang.
Beliau
tinggal di Lakkaqding Somba (Kec. Sendana, Kab. Majene) membangun sebuah Masjid
dan kawin dengan yang bernama Manaq, dari hasil perkawinannya tersebut beliau
dianugerahi tiga orang anak yaitu : Syekh Haedar tinggal di Lakkading Somba,
Syekh Muhammad tinggal di Luaor pamboang, dan Syekh Ahmad yang tinggal di
Salaparang. Dari Somba melanjutkan dakwah
Agama Islam ke daerah Buol Toli-toli, di daerah ini beliau menderita
sakit hingga menemui ajalnya di daerah ini, Kuburan Makamnya ada didaerah Buol
Toli-toli
Syekh Muhammad Ali
Syekh Muhammad, adalah penganjur agama Islam.
Ada
yang mengatakan dia dating dari Buol Toli-toli, menurut Lakasi, M. Sakoh dan
Djalani, Syekh Muhammad berasal dari Pulau Dewakang, Pangkajene Kepulauan.
Pertama
kali tiba di Luaor, Kec. Pamboang Kab. Majene, beliau menginap dirumah penduduk
bernama Pua Djaodi. Pua Djaodi lantas berguru kepada Syekh Ahmad dan sekaligus
menjadi muridnya yang setia.
Pua
Djaodi mengajaknya menetap di Luaor dan dibuatkan sebuah rumah tinggal,
disekitar rumah tersebut ada mata air, lantas dari mata air trersebut Syekh
Muhammad menyuruh muridnya untuk membuat sebuah kolam kecil yang difungsikan menjadi
tempat mengambil air wudhu.
Warga
disekitarnya bersimpati, mereka memperbaiki dan memperbesar tempat mengambil
air wudhu atau tempat mengambil air sembahyang tersebut dan akhirnya dikenal
dengan nama Kollang “Kolam”.
Syekh
Muhammad kawin dengan seorang janda yang mempunyai dua orang anak, setahun
kemudian ia dianugerahi anak kandung laki-laki yang diberi nama Bolong
“Hitam”., karena kulit anak tersebut gelap hitam maka digelar Bolong.
Syakh
Muhammad cukup disegani oleh warga masyarakat disekitarnya, menurut keyakinan
mereka, kalua berbuat tidak sepatutnya kepada Syekh, mereka akan mabusung,
“kena tulah atau kualat”.
Menjadi
guru di samping menyebarkan syariat agama Islam dan akhirnya Syekh menderita
sakit selama tiga hari tiga malam. Setelah meninggal beliau dikuburkan ditempat
sesuai yang diamanahkannya. Aneh hari keempat sejak kematiannya tanah
kuburannya mengembang menjadi tinggi seperti ditimbuni.
Makamnya
dipelihara oleh masyarakat dengan baik, Bangunan makam dibiayai oleh Puaq
Sewali (Almarhum).
Menurut
cerita rakyat, pada Makamnya biasa terjadi hal-hal yang luar biasa, dan
dianggap keramat.
Peristiwa-peristiwa
itu antara lain :
1. Suatu saat ketika sejenis penyaki berjangkit
merajalela di Luaor, tiba-tiba terdengar keluar suara Adzan, suara Adzan
tersebut diyakini suara Syekh Muhammad Ali
2. Pernah terjadi tanpa diketahu sebab musababnya
air kollang “kolam” meluap dan mengeluarkan bau harum.
3. Menurut kebiasaan mereka yang percaya atas
kesaktian Syekh Muhammad Ali, orang-orang dari dalam dan juga luar daerah Luaor, apabila akan
berpergian menyeberangi lautan, mereka dating mengambil air kolam tersebut, dan
dibawa sebagai jimat penangkal bala. Ketika angin kencang dan ombak besar
menghadang di tengah lautan, dengan menyebut namanya, demikian yang dipesankan
sewaktu masih hidup, menuangkan air azimat tersebut itu kelaut, maka ombak
besar segera menjadi tenang, dan angin kencang itupun akan mereda.
Syekh Al Magribi
Syekh Al Magribi dikenal juga dengan gelar saiyyeq Kittaq. Menurut cerita, beliau
berasal dari Maroko Afrika. Murid To Salamaq di binuang.
Dikisahkan
pada suatu hari seorang ahli sihir yang punggawa rampok di Tammanggalle
mendengar berita bahwa ada orang sangat berpengaruh di Kerajaan Binuang karena
kesaktiannya. Orang yang dimaksud adalah Tuan di Binuang, popular juga disebut
to Salamaq di Binuang. Ahli sihir yang punggawa rampok dari Tammangalle
berlayar menuju Binuang, untuk mencari Tosalamq di Binuang, sebelum sampai
kepada tujuan perahunya dilanda badai dan terhanyut dibawa arus laut.
Kitab-kitabnya yang berisi ilmu Ghaib yang sedianya hendak dijadikan acuan
untuk mendebat Tosalamaq di binuang tenggelam kedasar laut. Sang ahli sihirpun
pingsan, dan setelah sadar ternyata dia ada di Pantai Takkatidung. Sang ahli
sihir berjalan tertatih-tatih, tiba-tiba dilihatnyaseorang lelaki berjubah
putih berjalan-jalan di Pantai. Dia bertanya “hai orang berjubah!.. apa nama
daerah ini..? Lelaki berjubah putih itu tidak menjawabnya, ia hanya menancapkan
tongkatnya di depan kaki ahli sihir tersebut yang merupakan punggawa Rampok
tersebut. Dari bekas tancapan tongkatnya terlihat mengalir air, tidak berapa
lama kemudian ia bertanya, Apa yang tuan cari di tempat ini..? Saya hendak
mencari Tuan di Binuang,” jawab ahli sihir tersebut. Ada keperluan apa tuan
mencarinya..? Aku ini murid beliau,” kata lelaki berjubah putih tersebut. Aku akan menantangnya adu kesaktian dan ilmu
ghaib, kata sang ahli sihir yang punggawa rampok,” tapi sayang kitab-kitab yang
berisi ilmu gaibku telah tenggelam ke dsar laut, ketika perahuku diserang
badai.”
“Bukankah
itu kitab-kitab yang kau bawah dari rumahmu..? kata lelaki yang berjubah putih
tersebut sambil menunjukkan kitab-kitab yang tiba-tiba muncul keluar dari dsar
laut melalui tongkatnya.
“Betapa
tinggi ilmu berjubah ini, apalagi gurunya, katanya dalam hati.” Ahli sihir yang
juga Punggawa rampok tersebut mengurungkan niatnya untuk meneruskan
perjalanannya ke Binuang untuk menantang Tuan di Binuang. Serta merta
berjongkok, takluk di hadapan Syekh Al Magribi. Ia menyatakan kesediannya
menjadi pengikut agama Islam. Tempat air yang memancar dari bekas tancapan
tongkat Syekh Al Maghribi masih ada sampai sekarang, oleh masyarakat setempat
disebut Bujung Manurunggnge “Sumur Manurung”, maksudnya sumur ghaib turun dari
langit.
Bujung Manurunggnge terdapat di pantai Takatidung Polewali, “hilang
buat sementara” bila air laut pasang dan jika telah surut, sumur itu tampak
lagi. Airnya tawar dan segar, digunakan oleh penduduk disekitarnya.
Makam
Syekh Al Maghribi terletak dalam kompleks Makam Tosalamaq di Binuang bersama
Makam Syekh Al Ma’ruf di Pulo Tangnga, Desa Ammasangangan, Kec Binuang. Kab.
Polmas.
Syekh Abdul Mannan
Syekh Abdul Mannan, bergelar To Salamaq di Salabose.
Pembawa dan penganjur Agama Islam yang pertama masuk di wilayah kerajaan
Banggae, diperkirakan pada abad ke-16 (ada juga yang berpendapat pada abad
ke-17).
Pada
masa itu yang menjadi Raja Banggae adalah, Tomatindo di Masigi (gelar yang
diberikan kepada Raja tersebut setelah meninggal dunia), putra Daetta Melattoq
Maraqdia Banggae-Putri Tomakakaq / Maraqdia Totoli. Membangun dan menjadi Imam
yang pertama di Masjid Salabose di Buttu Sallabose, Banggae.
Makamnya
terletak di arah utara, 500 meter dari Masjid tersebut. Makamnya dikeramatkan,
dan ramai diziarahi orang dari berbagai penjuru.
Syekh Zariah
Syekh Zakariah adalah penganjur Agama Islam, yang pertama masuk ke Kerajaan Pamboang sekitar Tahun (1665). Bergelar Puang di Somba berasal dari Magribi Zazirah Arab.
Raja Pamboang masa itu, Isalarang Idaeng Mallari bergelar Tomatindo Diagamana. Kawin dengan puatta Boqdi putri Raja Pamboang. Beliau dimakamkan di Somba Kec. Sendana Kab. Majene.
Bersama Raden Suryodigolo (atau ada juga yang menulis Surya Adilogo) Kapuang Jawa berlayar dari Tanah Jawa langsung ke Pelabuhan Pamboang.
Raja Pamboang masa itu, Isalarang Idaeng Mallari bergelar Tomatindo Diagamana. Kawin dengan puatta Boqdi putri Raja Pamboang. Beliau dimakamkan di Somba Kec. Sendana Kab. Majene.
Bersama Raden Suryodigolo (atau ada juga yang menulis Surya Adilogo) Kapuang Jawa berlayar dari Tanah Jawa langsung ke Pelabuhan Pamboang.
Sumber
:
- Dari Jalaluddin 1 Jan 1979, Lakkaqding Somba Kab. Majene dari berkas permohonannya untuk diangkat jadi pemelihara Makam To Salamaq Adam kepada kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi
- Dokumen Syekh Abdul Rajab Adnan, cucu Syarif Al Haseni.
- Dokumen Seksi Kebudayaan Kandepdikbud Kab. Majene 8 April 1978 oleh Mustafa T, Penilik Kebudayaan Kec. Pamboang Kab. Majene.
01.54 | 0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)












