Assalamu Alaikum,  lulluare...!   |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Memotret Sisi Dermaga Kota Majene

Written By ian on Rabu, 31 Juli 2013 | 20.38

Majene, kota kabupaten yang masuk dalam wilayah provinsi Sulawesi Barat adalah salah satu dari enam kabupaten yang menyusun provinsi ini. Majene menjadi kabupaten yang berusia cukup tua seusia Mamuju, dan Polewali Mandar, kabupaten Mamasa, kabupaten Mamuju Utara dan kabupaten Mamuju Tengah menjadi kabupaten pendukung yang merupakan hasil pemekaran.

Dermaga Kota Majene
Dermaga kota Majene tampak dari kejauhan (Foto : Tommuane Mandar)
Kota Majene memiliki garis panjang pantai sekitar 125 km yang memanjang dari selatan hingga ke utara, karena alasan topografi pesisir pantai yang cukup panjang ini, maka ketika anda melintasi wilayah kabupaten Majene maka pemandangan pesisir pantai adalah view yang akan sering anda temui. Dari topografi kota Majene ini pulalah berkembang budaya dan penghidupan masyarakat yang dekat dengan laut, karena itu potensi laut dan pesisir adalah hal yang dominan di kota kabupaten ini. Sebagian masyarakatnya hidup di wilayah pesisir dan menggantungkan hidup dari laut, walaupun tidak semua masyarakat berdomisili di wilayah pantai.

Masyarakat kota Majene sehari-hari dekat dengan kehidupan laut dan pesisir adalah hal yang wajar. Perahu nelayan, ikan segar, tempat pelelangan ikan, aroma laut, semuanya adalah hal yang lumrah bagi masyarakat di kota ini. Dan tempat-tempat masyarakat kota ini berkumpul adalah umumnya dekat dengan laut dan pantai.

Pantai Dato Majene
Tampak di ujung daratan adalah Pantai Dato dengan pasir putihnya (Foto : Tommuane Mandar)
Pemandangan Pelabuhan Majene
Pemandangan pelabuhan Majene tampak dari atas (Foto : Tommuane Mandar)
Perahu Nelayan Majene
Perahu nelayan di pesisir pantai Majene yang ditambatkan (Foto : Tommuane Mandar)
Dinding Pemecah Ombak Majene
Salah satu dinding pemecah ombak di Pantai Majene (Foto : Tommuane Mandar)
Secara umum kota kabupaten ini beriklim cukup panas dengan masa musim penghujan yang singkat, namun perubahan iklim saat ini yang cukup ekstrim membuat kota Majene menjadi tidak dapat ditentukan masanya, kadang iklimnya panas namun dilain waktu hujan dapat saja tiba-tiba muncul.

Sisi dermaga Majene adalah tempat yang paling mudah dikunjungi jika anda ingin berwisata, walaupun memang juga terdapat objek wisata yang terdapat di daerah pegunungan. Di  dermaga anda akan dengan mudah menemukan para pemancing ikan, nelayan yang pulang dari laut, anak-anak yang mandi, serta warga yang sedang menikmati pemandangan pantai.

Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
20.38 | 0 komentar

Lontaraq, Artefak Budaya Yang Terabaikan

Written By ian on Senin, 29 Juli 2013 | 08.18

Perjalanan hidup dan kehidupan manusia tidak pernah lepas dari cerita yang didorong oleh keinginan manusia itu untuk dikenang dan meninggalkan kenangan itu untuk menjadi pelajaran bagi anak keturunannya, meskipun hal ini mungkin disadari setelah zaman memasuki era sejarah namun setidaknya usaha nenek moyang manusia untuk meninggalkan jejak sudah dimulai diera pra sejarah meski melalui simbol, gambar atau bangunan. Dari budaya penyampaian cerita lisan lalu beralih pada penggunaan simbol sederhana, inilah yang kemudian berkembang menjadi sebuah aksara atau tulisan. 
Aksara Lontaraq Mandar
Contoh Penulisan Aksara Lontaraq
Foto : Zulfihadi

Tentu saja pengkajian budaya tulisan tidak semudah membuat "Jepa" (makanan khas mandar), namun melalui proses yang rumit dan melelahkan. Setidaknya begitulah kesimpulan saya setelah membaca resume hasil SEMINAR ANTAR BANGSA “Dialek-dialek Austronesia Di Nusantara III” (Dialek Pribumi Warisan Keterampilan Jati Diri), pada bulan Januari 2008 lalu. “Dimana dalam melakukan penelitian, beberapa ahli menggunakan metode analisis semiotik kultural sebagai piranti analisis karena lebih menekankan perhatian pada aspek lambang-lambang yang merupakan bagian dari kata, istilah, kalimat, paragraf dari teks yang ingin dipertanyakan lebih jauh guna menemukan arti atau makna yang dikandungnya. Makna dari sebuah simbol atau lambang yang digunakan dalam hal ini dimaksudkan sebagai hasil kegiatan sosial dalam sebuah masyarakat sehingga pemahamannya tidak bisa bebas konteks tetapi membutuhkan konteks dari pengguna/pemakai simbol tersebut dalam proses pemaknaannya”.

Sebuah kebanggaan tersendiri bagi kita suku Mandar yang hidup di jazirah Sulawesi bahwa dari ratusan suku bangsa yang ada di nusantara, ternyata hanya sedikit yang mempunyai budaya tulisan. Bahkan kalau kita amati, beberapa suku yang ada dipulau Celebes tidak mengenal budaya tulis ini seperti halnya Makassar, Bugis dan Mandar. Aksara yang digunakan oleh ketiga suku ini disebut sebagai aksara "Lontaraq" yang didalam penulisan menggunakan bahasa masing-masing.
Jadi orang Makassar menulis aksara Lontaraq dalam bahasa Makassar, Bugis menulis aksara Lontaraq dalam bahasa Bugis dan Mandar pun menulis aksara Lontaraq dalam bahasa Mandar. Menyebutkan kata Lontaraq terkadang merujuk pada jenis aksaranya namun terkadang pula genre pembahasan yang terkandung pada tulisan tersebut, seperti misalnya Lontara Pattodioloang yang meceritakan asal usul manusia Mandar, Lontaraq Sendana, Lontaraq Mandar dll.
Media Daun Lontar
Gulungan Lontaraq Asli
Salah satu contoh gulungan daun lontar yang asli (Foto : Zulfihadi)
Kata "Lontaraq" sebenarnya mengacu pada bahan utama media penulisan yaitu daun Lontar. Sejenis tanaman palem-paleman yang tumbuh didaerah tropis, mempunyai buah yang bundar dan isinya dapat dimakan dengan rasa yang mirip kelapa muda. Pada permukaan daun inilah ditorehkan aksara dengan menggunakan ujung ijuk enau yang keras dan berbentuk seperti lidi biasanya digunakan sebagai alat bantu penunjuk saat mengaji dan pada orang bugis disebut “kalla”. Setelah aksara ditulis, lalu disapukan dengan kemiri yang telah dibakar hingga menghasilkan tulisan yang berwarna hitam sehingga mudah untuk dibaca.

Awal Mula Penggunaan Aksara Lontaraq 
Kapan aksara lontaraq mulai digunakan? ini adalah pertanyaan yang sering terlontar dan menjadi pertentangan diantara mereka yang mementingkan egosentris dan etnosentris.
Menurut sejarah, aksara Lontaraq diperkenalkan oleh Daeng Pamatte dikenal sebagai cerdik cendikia pada zamannya dan beliau pula sempat menggemparkan jagat sains eropa dikarenakan memesan teropong besar dan tiruan bola bumi yang masih menjadi barang langka dan mahal waktu itu sebab masih merupakan temuan yang baru. Beliau menjabat sebagai Sabannarak atau Syahbandar Kerajaan Gowa. Ketika Kerajaan Gowa diperintah oleh Raja Gowa IX Daeng Matanre Karaeng Manguntungi yang bergelar Karaeng Tumappari’si’ Kallonna, Daeng Pamatte menjabati dua jabatan sekaligus yaitu Sabannarak merangkap Tumailalang (Menteri Urusan Istana dan Dalam Negeri). Pada waktu itu Karaeng Tumappari’si’ Kallonna memberikan titah kepada Daeng Pamatte untuk menciptakan aksara yang dapat dipakai untuk tulis-menulis. 
Pada tahun 1538, Daeng Pamatte berhasil mengarang aksara Lontara yang terdiri atas 18 huruf dan juga tulisan huruf Makassar Kuno. Kemudian, aksara "Lontaraq" ini dipermoderen dan bentuknya lebih disederhanakan sehingga jumlah hurufnya menjadi 19, akibat masuknya pengaruh bahasa Arab. Dalam perkembangan selanjutnya karena ada vocal bugis yang tidak terdapat pada vocal makassar maka ditambahkanlah empat huruf lainnya yaitu NKA, NCA, NPA dan NRA sebagaimana modelnya yang sekarang. (sumber: Sempugi@m.facebook)

Menurut akademisi yang sekaligus budayawan, Prof H. A. Mattulada, (alm) terinspirasi oleh “sulapa eppa wala suji“. Wala suji berasal dari kata wala yang berarti pemisah/pagar/penjaga dan suji berarti putri. Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api, air, angin dan tanah.

Akhirnya aksara ini terus mengalami perubahan dan penyempurnaan hingga mencapai bentuknya yang sekarang yang berjumlah 23 huruf (termasuk bunyi konsonan dan vokal a) dan disusun berdasarkan aturan tersendiri. Dalam sistem aksara ini, dikenal penanda vokal untuk u, e, o, ae.

Namun, aksara "Lontaraq" tidak mengenal huruf atau lambang untuk mematikan huruf misalnya sa menjadi s. Ketiadaan tanda-mati ini cukup membingungkan bila ingin menuliskan huruf mati. Juga, di banding aksara-aksara lain, aksara Lontara tak memiliki semua fonem. Beberapa huruf ditafsirkan secara teoretis dengan sembilan cara berbeda, dan ini juga kadang-kadang menimbulkan masalah bagi penafsiran pembaca.

Penggunaan aksara lontara ini sendiri pada masyarakat suku Mandar jaman dahulu tertuang dalam penulisan seni sastra dan prosa yang meliputi :
- Pomolitang atau pau-pau losong (dongeng) dengan menggambarkan tingkah laku binatang yang baik dan buruk yang dapat dicontohi oleh manusia, misalnya dongeng I Puccecang annaq I Pulladoq (Kera denagan Pelanduk), di mana kera melaksanakan sifat yang baik dan pelanduk melaksanakan sifat yang kurang baik.
- Toloq (kissah) menggambarkan liku-liku kehidupan dari seseorang tokoh dalam masyarakat misalnya kisah Tonisesseq di Tingalor (seorang bidadari jatuh dari kayangan dan ditelan oleh seekor ikan Tingalor).
- Sila-sila (silsilah) menggambarkan suatu kerajaan dan nama-nama rajanya secara turun-temurun, misalnya silsilah raja-raja di Pamboang, Sendana, Banggae dsb.
- Pau-pau pasang atau Pappasang (pesan-pesan luhur) menggambarkan ajaran normal, nasihat dan petuah bagi kehidupan seseorang, keluarga dan bagi kehidupan masyarakat yang lebih luas, misalnya pesan orang tua terhadap anak-anaknya, pesan seorang kakek terhadap pasangan suami isteri, pesan seorang sesepuh kepada warga masyarakat, pesan-pesan raja pada rakyatnya.
- Karangan bentuk puisi disebut juga kalindaqdaq.
- Assitalliang atau perjanjian /traktat.

Akhir tulisan, kembali penulis mengajak pada pembaca sekalian khususnya yang memiliki perhatian pada budaya agar supaya mau melirik kembali aksara ini sebagai sebuah mahakarya dari leluhur kita yang hampir punah. Jika melihat jumlah generasi yang masih bisa membaca dan memahami aksara lontara ini yang dari waktu ke waktu semakin berkurang, jika tidak diambil sebuah tindakan usaha penyelamatan maka niscaya beberapa generasi lagi aksara lontara ini akan menjadi asing dinegerinya sendiri.

Referensi  (Sumber Bacaan) :
  • Anonim. 2008. Seminar Antar Bangsa "Dialek-Dialek Austronesia di Nusantara III" (Dialek Pribumi Warisan Keterampilan Jati Diri). 
  • Anonim. Budaya Mandar. Available on http://datastudi.wordpress.com/2008/08/17/budaya-mandar/ (diakses 23 juli 2013)
  • Diskusi grup sosial media  "Sempugi"
Penulis :
Zulfihadi
Zulfihadi, saat ini menetap di kec. Wonomulyo Kab. Polewali Mandar, hobi membaca hal yang berkaitan dengan sejarah dan budaya daerah serta mengutak-atik komputer, tenaga pendidik di SMK Soeparman Wonomulyo dan aktif sebagai pembina Pramuka di instansi mengajarnya.

Kontak Saya :



Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
08.18 | 0 komentar

Menyingkap Pesona Wisata Sejarah Dan Budaya Desa Pamboqborang Kab. Majene

Pamboqborang, salah satu desa yang masuk dalam wilayah administrasi kabupaten Majene provinsi Sulawesi Barat, berjarak sekitar 5 km dari kota kabupaten, menyimpan berbagai macam potensi wisata sejarah dan budaya yang belum banyak dikenal oleh orang-orang. Mulai dari potensi wisata sejarah berupa  kompleks makam berusia ratusan tahun, wisata budaya kampung pandai besi, dan wisata air terjun.

Desa Pamboqborang kab. Majene
Desa Pamboqborang kab. Majene tampak dari atas (Foto : Nasbi)
Wisata Budaya (Sentra pandai besi di kabupaten Majene)
Pamboborang merupakan salah satu desa yang terletak di kecamatan Banggae Kabupaten Majene. Desa ini baru terbentuk pada tahun 2012 setelah resmi memisahkan diri dari kelurahan Totoli Kabupaten Majene. Pamboborang juga terkenal dengan julukan “Kappung Kowiq” (kampung pandai besi) karena sejak zaman dahulu sampai sekarang di kampung ini mayoritas masyarakatnya merupakan pandai besi. Mereka tersebar diseluruh kampung, dan menyusun persentasi hingga 90% warga merupakan pandai besi “pande bassi”. Ketika memasuki wilayah desa ini, maka anda akan disambut dengan gerbang yang berbentuk parang.

Pemandangan Desa Pamboqborang Majene
Pemandangan Desa Pamboqborang Majene tampak dari atas bukit (Foto : Nasbi)
Wisata Sejarah (Kompleks Pemakaman Berusia Ratusan Tahun)
Desa pamboqborang memiliki beberapa kompleks makan berusia ratusan tahun yang masuk dalam inventaris balai purbakala Sulawesi Selatan serta mendapat perhatian khusus dari dinas budaya dan pariwisata. Setidaknya ada empat kompleks makam (Kompleks Makam Tosalamaq, Kompleks Makam Imanang, Kompleks Makam Kubang, dan Kompleks Makam Tambulese)

Kompleks Makam Kuno Imanang dan Kubang.
Merupakan pekuburan yang tercatat sebagai pekuburan kuno yang ada di Kabupaten Majene. Dua pekuburan ini berjarak cukup dekat, antara pekuburan Imanang dan Kubang hanya berjarak 250 meter. Jika anda berkunjung ke tempat ini dan menemukan tempat ini sangat bersih, maka jangan heran karena warga desa punya perhatian besar dengan rutin membersihkannya.

Kompleks Makam Imanang

Kompleks Makam Imanang Desa Pamboqborang
Kompleks makam Imanang di desa Pamboqborang kab. Majene (Foto : Nasbi)
Kompleks Makam Imanang Desa Pamboqborang Majene
Kondisi kompleks Makam kuno Imanang Desa Pamboqborang (Foto : Nasbi)
Kompleks Makam Kubang

Kompleks Makam Kubang Desa Pamboqborang
Kompleks Makam Kubang Desa Pamboqborang di kab. Majene (Foto : Nasbi)
Kompleks Makam Kubang Desa Pamboqborang Majene
Salah satu makam dalam kompleks makam Kubang Desa Pamboqborang Majene (Foto : Nasbi)
Makam Tosalamaq I
Makam ini dipercaya sebagai makam ulama yang membawa ajaran Agama Islam di sekitar Pamboqborang. Makam ini terletak di atas bukit Pamboqborang, merupakan makam Tosalamaq utama. Pemakaman ini selalu ramai dengan peziarah yang datang dari desa Pamboqborang dan sekitarnya. Ada tradisi yang unik yang dilakukan oleh para peziarah yang datang ke kubur “Tosalamaq” ini, yakni: melepas ayam dengan jumlah banyak, bagi warga atau peziarah yang dapat menangkap ayam yang dilepas tadi maka ia berhak untuk memiliki ayam tersebut. Selain itu, tradisi siram air kobokan “pekkonyoang” setelah acara juga sangat unik, peziarah saling siram satu sama lain sehingga suasana kekeluargaan pada saat acara sangat terasa.

Makam Tosalamaq 1 Desa Pamboqborang Majene
Makam Tosalamaq 1 Desa Pamboqborang Majene (Foto : Nasbi)
Makam Tosalamaq 1 Desa Pamboqborang
Makam Tosalamaq utama yang terdapat di puncak bukit desa Pamboqborang (Foto : Nasbi)
Makam Tosalamaq II

Makam Tosalamaq 2 Desa Pamboqborang
Makam Tosalamaq 2 Desa Pamboqborang yang terletak di tepi bukit (Foto : Nasbi)
Makam ini juga terletak diatas bukit pamboqborang, jarak dari kuburan Tosalamaq Utama ke makam ini sejauh 300 meter. Makam ini juga dikunjungi oleh para peziarah, bedanya adalah di makam utama seluruh peziarah berkumpul dan melakukan tradisi yang telah disebutkan tadi, sedangkan dimakam yang kedua ini peziarah hanya membaca doa dan dilakukan oleh orang-orang tua. Selain itu, di lokasi kuburan kedua ini merupakan arena perlombaan layangan Mandar “Pappasitindaq layang”,

Makam “Tokaiyyang”
Makam Tokaiyyang Desa Pamboqborang Majene
Makam Tokaiyyang di Desa Pamboqborang Majene (Foto : Nasbi)
Makam ini merupakan makam orang yang sangat dituakan di desa ini. "Tokayyang" atau "Toniposo di Sendana" adalah salah satu tokoh yang sangat disegani di masanya, konon ia pernah berperang dengan orang dari Somba selama tiga hari tanpa bantuan (sendiri) dan dia selamat pada perang saat itu.

Wisata Alam ( Bendungan, Air Terjun, dan Mata Air)

Bendungan "Ceqdang" Pamboqborang

Bendungan Ceqdang Pamboqborang Majene
Bendungan Ceqdang Pamboqborang Majene (Foto : Nasbi)
Bendungan Ceqdang Pamboqborang
Bendungan Ceqdang Pamboqborang di kab. Majene (Foto : Nasbi)
Tempat ini merupakan bendungan yang pernah dibangun pada akhir tahun 1970-an. Akan tetapi, bendungan ini hanya dapat bertahan sekitar 10 tahun dan akhirnya jebol. Bendungan "ceqdang" yang jebol sempat membuat warga kampung yang dilalui oleh sungai Salu khawatir. Sampai sekarang reruntuhan bendungan ini masih dapat dilihat dan banyak orang yang menggunakan tempat ini sebagai tempat rekreasi dan spot untuk foto prawedding. Tampak fisik bendungan ini cukup panjang dan masih baik namun karena tidak terawat ia mulai usang dimakan usia.
Air Terjun  “Uai Turang”
Air Terjun Desa Pamboqborang
Air Terjun "Uai Turang" Desa Pamboqborang (Foto : Nasbi)
Air Terjun Desa Pamboqborang Majene
Air Terjun Desa Pamboqborang di Kab. Majene (Foto : Nasbi)
Air terjun ini hanya berjarak 400 meter dari sumber mata air Salu, tempat ini sangat pas dikunjungi pada saat libur tiba. Tempat ini biasanya ramai ketika hari minggu atau hari-hari libur sekolah. Akses ke tempat ini bisa dibilang cukup mudah karena masih berada disekitar wilayah desa. Didekat air terjun ini terdapat lapangan yang sering digunakan oleh anak-anak sekolah untuk kegiatan perkemahan dan Palang Merah Remaja (PMR).

Mata air “Uai Salu”
Mata Air Uai Salu Desa Pamboqborang
Mata Air Uai Salu Desa Pamboqborang kab. Majene (Foto : Nasbi)
Mata Air Uai Salu Desa Pamboqborang kab Majene
Mata Air Uai Salu Desa Pamboqborang di kab Majene (Foto : Nasbi)
Sejak dahulu warga sekitar desa Pamboborang menggunakan mata air ini sebagai sumber mata air yang dapat diminum, mata air ini tidak pernah kering. Sampai sekarang mata air ini masih digunakan oleh warga sekitar, bukan hanya warga sekitar Pamboqborang yang mengambil air di tempat ini tetapi warga yang berada di luar bahkan yang berasal dari kota Majene juga banyak yang datang mengambil air ditempat ini untuk diminum.
Kolam Sandang
Kolam Sandang Desa Pamboqborang Majene
Kondisi kolam Sandang Desa Pamboqborang Majene saat ini (Foto : Nasbi)
Kolam Sandang Desa Pamboqborang
Kolam Sandang Desa Pamboqborang yang tak pernah kering (Foto : Nasbi)
Kolam ini terletak dilereng bukit pamboqborang, diyakini oleh masyarakat bahwa kolam ini merupakan tempat yang sering dipakai oleh leluhur untuk mengadakan upacara adat seperti memandikan putri dan lain-lain. Kolam ini sejak dahulu tidak pernah kering meskipun musim kemarau berkepanjangan melanda tempat ini. Para peziarah yang mengunjungi kuburan "Tosalamaq" juga sering memanjatkan doa ditempat ini, terdapat kuburan orang yang pertama membuat "Ceqdang" yaitu pada tangga turun kekolam ini. Dahulu kala yang dapat menggunakan kolam ini hanyalah para pembesar “Tokaiyanna Kappung” namun sekarang semua warga dapat menggunakan kolam ini.

Potret potensi desa Pamboqborang kab. Majene di atas sebagai alternatif wisata sejarah, wisata budaya, dan wisata alam menunggu untuk dikunjungi dan diperkenalkan ke dunia luar. Berbagai macam cerminan masyarakat yang masih menjalani tradisi, melanjutkan profesi nenek moyang, dan jejak peradaban yang masih bisa terbaca.

Penulis :
Nasbi
Nasbi, saat ini menetap di lingk. Moloku, Kec. Banggae Kab. Majene. Alumnus S1 Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Negeri Makassar.  Hobi menulis dan bertualang, memiliki minat besar dalam ranah budaya, sejarah, fotografi, dan travelling.

Kontak Saya :
twitter : https://twitter.com/bie_huzaimah
blog http://diarylukaq.blogspot.com/

Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
06.43 | 0 komentar

Foto : Panorama Elok Tuqbi Taramanu (Tutar) di Kab. Polman

Written By ian on Selasa, 23 Juli 2013 | 16.41

Daerah pegunungan yang masih alami Tuqbi Taramanu (Tutar), adalah salah satu kecamatan terpencil di kabupaten Polewali Mandar, jauh dari hingar bingar riuh kota kabupaten Polewali. Dengan akses jalan yang dahulu cukup berat, dan waktu tempuh yang cukup lama, menyimpan panorama keindahan khas dataran tinggi.

Daerah yang dapat ditempuh dari kecamatan Mapilli sejauh 27 km ini cenderung tidak populer diantara kecamatan lainnya di kabupaten Polman, letak geografisnya yang sulit diakses mungkin salah satu penyebabnya. Namun bukan berarti daerah ini tidak punya cukup potensi untuk digali, daerah khas pegunungan kadang akrab dengan keasrian dan kealamian panorama yang hijau.

Berikut beberapa dari banyak panorama Tuqbi Taramanu (Tutar) yang dapat anda nikmati saat berkunjung ke daerah penghasil buah kakao terbesar di kabupaten Polewali Mandar ini.

Bunga Bougenville Tuqbi Taramanu (Tutar)
Bunga bougenville yang tumbuh subur di daerah Tutar (Foto : Andi Sura Muhlis)

Alam Tuqbi Taramanu (Tutar)
Pemandangan alam di salah satu desa di kec. Tuqbi Taramanu (Tutar) (Foto : Andi Sura Muhlis)
Ilalalang Tuqbi Taramanu (Tutar)
Ilalang di salah satu desa di kecamatan Tuqbi Taramanu (Tutar) (Foto : Andi Sura Muhlis)
Panorama Tuqbi Taramanu (Tutar)
Panorama alam desa di kec. Tuqbi Taramanu (Tutar) (Foto : Andi Sura Muhlis)
Rumah Penduduk Tuqbi Taramanu (Tutar)
Salah satu rumah penduduk di kec. Tuqbi Taramanu (Tutar) (Foto : Andi Sura Muhlis)
Bunga Teratai Tuqbi Taramanu (Tutar)
Bunga Teratai tumbuh dengan subur di kec, Tuqbi Taramanu (Tutar) (Foto : Andi Sura Muhlis)
Iklim  pegunungan yang cenderung dingin sangat cocok untuk tempat tumbuh beberapa jenis tanaman dan bunga, sebutlah misalnya bunga bougenville dan bunga teratai diatas. Bunga-bunga ini cukup mudah anda temukan di daerah ini. Selain sebagai penghasil buah kakao terproduktif, daerah ini juga adalah penghasil damar, rotan serta kayu yang digunakan dalam industri pembuatan meuble. Belum lagi ada beberapa potensi pariwisata kecamatan Tutar yang cukup baik namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Dalam hal ini, akses jalan menuju Tutar haruslah menjadi prioritas untuk memudahkan menjangkau lokasi-lokasi objek wisatanya.

Penulis :
Andi Sura Muhlis, saat ini bermukim di Kecamatan Tutar (Tuqbi Taramanu) Kab. Polewali Mandar, hobi menulis cerpen dan membaca. Menyelesaikan pendidikan terakhir di S1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Kini menjadi tenaga pengajar honorer di SMP Neg 4 Tutar bidang studi Pendidikan Bahasa Inggris dan Seni Budaya, aktif dalam teater dan pementasan di instansi mengajarnya.
Kontak Saya :
facebook :  https://www.facebook.com/andi.sura.5




Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
16.41 | 0 komentar

Resep Kue Onde-Onde Khas Ala Mandar

Written By ian on Jumat, 12 Juli 2013 | 18.35

Onde-Onde hampir semua orang sudah mengenal penganan ini. Penganan yang biasa muncul di daerah Mandar, Sulawesi Barat, saat ada acara syukuran setelah mendapatkan barang yang baru. Bentuk syukuran kecil-kecilan atas hal "baru"  maka Anda akan dengan mudah menemukan penganan ini. Kadang orang-orang di Mandar akan berkata dengan nada sedikit bercanda "Inna Onde-Ondena?" (Mana Onde-Ondenya?) jika tahu bahwa ada hal yang baru kemudian tak menemukan penganan ini. 

Ilustrasi onde-Onde Ala Mandar
Ilustrasi Onde-Onde Ala Mandar
Foto : www.delicious-indonesian-cake.blogspot.com

Penganan ini secara umum di negara Indonesia dan Malaysia sangat terkenal, orang-orang Jawa biasa menyebutnya dengan nama  "Klepon". Penganan dari ketan yang berisi gula aren (gula merah) dengan konsistensi agak lunak atau sedikit encer, sangat lezat dinikmati sebagai cemilan saat pagi atau di sore hari. Secara umum Onde-Onde Mandar ini sama dengan onde-onde yang biasa dibuat, hanya saja saya memaparkan resep ala Mandar saja. Singkatnya onde-onde Mandar ini  terbuat dari tepung beras dan tepung ketan (agak berbeda dari bahan biasanya), atau tepung ketannya bisa diganti dengan tepung singkong, berisi gula aren cair, berbentuk bulat, direbus, lalu dibalut dengan parutan kelapa agak muda.

Kali ini saya akan sedikit memberikan resep kue onde-onde khas Mandar (resep saya peroleh dari seorang teman penggemar dunia kuliner Mandar, dan sering membuat penganan ini)

Bahan-bahan yang digunakan :
  • 150 gram tepung beras
  • 250 tepung ketan atao tpung singkong
  • Gula merah secukupnya
  • Kelapa parut (agak muda)
  • Air hangat secukupnya
Cara membuat :
Semua tepung d campur, brsama air sedikit demi sedikit, di uleni sampai bisa di bentuk bulat, tengahnya lalu di isi dengan potongan gula merah berbentuk dadu atau dengan ukuran sedang dan tidak terlalu besar. Kemudian didihkan air lalu rebus adonan hingga adonan bola-bola kecil ini mengapung. Setelah matang, angkat bola-bola kecil ini lalu balur dengan parutan kelapa stengah tua, boleh juga jika ingin kelapanya di kukus terlebih dahulu sebelum dibalurkan (hal ini untuk menjaga agar kelapanya tidak cepat basi). Setelah adonan bola-bola kecil ini dibalurkan kelapa maka ia siap untuk disajikan.

Resep ini mungkin agak sedikit berbeda dengan resep Onde-Onde lainnya yang umum menggunakan tepung ketan saja, resep diatas tepungnya merupakan gabungan tepung beras dan tepung ketan, karena jika hanya menggunakan tepung ketan maka akan keras serta lengket, penambahan tepung beras adalah bertujuan untuk menghindari ini. Tepung singkong juga kadang digunakan (di daerah Mandar tepung ini terbuat dari singkong yang diparut, diperas, lalu dijemur dan dihaluskan kemudian disaring)

Bahan cukup mudah ditemukan dan cara membuat juga lumayan sederhana, salah satu kuliner murah dan praktis untuk menjamu tamu saat acara syukuran. Anda tidak perlu menyewa katering yang harganya hingga jutaan rupiah untuk membuat acara syukuran atas barang-barang baru anda, cukup sajikan "Onde-Onde Ala Mandar" ini maka anda sudah memenuhi kewajiban budaya kuliner, tapi lihat juga segmentasi tamu Anda, jika tamu Anda hanya orang-orang terdekat, maka kuliner Onde-Onde ini tepat untuk disajikan.

Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
18.35 | 0 komentar

Daftar Dan Lokasi Objek Wisata Alam Di Kabupaten Mamuju

Mengenali objek wisata di negeri sendiri menurut saya sepertinya hal yang "wajib" diketahui untuk mengembangkan dunia wisata Sulawesi Barat. Maka pertanyaan yang saat ini tepat adalah "Sudahkah anda mengenal objek-objek wisata di daerah kita sendiri (Sulawesi Barat)?" untuk menjawab pertanyaan ini maka tentu saja kita perlu mengetahui objek wisata apa saja yang ada di daerah tersebut, dan dimana letaknya.  Jika anda telah mengetahui nama dan letaknya maka cenderung mudah untuk melakukan perjalanan menuju tempat-tempat tersebut.

Menumbuhkan dunia wisata memang sepertinya harus dibangun dari komunitas kita sendiri, yaitu penduduk-penduduk lokal yang bermukim dalam satu wilayah dengan tempat objek wisata, atau minimal daerah yang tidak jauh dimana objek wisata berada. 

Pantai Lombang Lombang Mamuju
Pantai Lombang-Lombang Mamuju, Objek Wisata Alam di kecamatan Kalukku (Foto : Harris Rinaldi)
 Berikut ini adalah daftar dan lokasi beberapa objek wisata alam yang berada di Kabupaten Mamuju, provinsi Sulawesi Barat. 

Wisata Alam di Kabupaten Mamuju

1. Pulau Karampuang terletak di Desa Karampuang Kecamatan Mamuju
2. Permandian So'do terletak di Kelurahan Mamunyu Kecamatan Mamuju
3. Bone Tangnga terletak di Kecamatan Mamuju
4. Air Terjun Tamasapi terletak di Kelurahan Mamunyu Kecamatan Mamuju
5. Anjoro Pitu terletak di Kecamatan Mamuju
6. Air Panas Padang Panga' terletak di Kecamatan Simboro Kepulauan
7. Gua Padang Panga' terletak di Kecamatan Simboro Kepulauan
8. Pantai Rangas terletak di Kecamatan Simboro Kepulauan
9. Gua Salletto terletak di Kecamatan Simboro Kepulauan
10. Taman Wisata Bukit Jati Gentungan terletak di Kecamatan Kalukku
11. Pantai Lombang Lombang terletak di Kecamatan Kalukku
12. Gua Belang Belang terletak di Kecamatan Kalukku
13. Kayu Eboni Raksasa terletak di Kecamatan Kalukku
14. Pantai Samalon terletak di Kecamatan Kalukku
15. Pulau Bakengkeng terletak di Kecamatan Kalukku
16. Pasir Putih Tanjung Ngalo terletak di Kecamatan Tappalang Barat
17. Gua Dungkait terletak di Kecamatan Tappalang Barat
18. Air Terjun Lebani terletak di Kecamatan Tappalang Barat
19. Air Panas Pangsiangang terletak di Kecamatan Tappalang Barat
20. Tambang Emas Tradisional terletak di Kecamatan Papalang
21. Pantai Dato terletak di Kecamatan Sampaga
22. Air Terjun Biolo terletak di Kecamatan Tommo
23. Air Terjun Salu Ma'dinging terletak di Kecamatan Tommo
24. Perkebunan Kelapa Sawit terletak di Kecamatan Tommo
25. Air Terjun Taranusi terletak di Kecamatan Bonehau
26. Air Panas Maiso terletak di Kecamatan Bonehau

Sebagian besar dari objek wisata alam diatas belum dikelola dengan baik dan terstruktur. Bisa Anda bayangkan sekiranya objek-objek wisata ini dimanfaatkan dengan baik, maka ia akan dapat menambah pendapatan asli daerah (PAD), menambah pendapatan untuk masyarakat yang berada di sekitar objek wisata, singkatnya pengembangan dunia wisata secara umum menggerakkan taraf hidup masyarakat. Mungkin kedengarannya terlalu ideal namun itulah yang dapat terjadi jika ada pemanfaatan objek wisata daerah secara optimal.

Objek-objek wisata alam Mamuju ini  kondisinya beragam, ada yang mudah Anda jangkau dari kota Mamuju, seperti "Pulau Karampuang" dan "Anjoro Pitu". Ada juga objek wisata yang mengharuskan anda untuk menyeberangi lautan untuk sampai ke objek wisatanya seperti "Air Panas Padang Panga", "Gua Padang Panga", "Pantai Rangas", dan "Gua Salletto" yang kesemuanya berada di kecamatan Simboro Kepulauan. Lalu untuk lokasi objek wisata yang membutuhkan perjalanan darat beberapa lama adalah pada objek wisata yang terletak di kecamatan Tappalang, Kalukku, Tommo, serta Bonehau.

Referensi : 

Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
17.26 | 0 komentar

Jenis Kategori Hotel Di Sulawesi Barat

Written By ian on Rabu, 03 Juli 2013 | 20.04

Membincang soal dunia pariwisata Sulawesi Barat maka kita tidak akan pernah bisa lepas dari peranan tempat hunian seperti hotel, wisma, losmen, ataupun penginapan. Tingkat hunian untuk wisatawan ini mungkin dapat menjadi salah satu acuan apakah dunia pariwisata di Sulawesi Barat naik, tetap atau turun. Lalu bagaimana tingkat huniannya? saya yakin belum terlalu menggembirakan. 

Hotel DMaleo Mamuju Sulawesi Barat
Tampak dari kejauhan hotel DMaleo Mamuju Sulawesi Barat
Foto : Jusriady
Dalam pandangan umum dunia pariwisata Sulawesi Barat mungkin bisa dikatakan tidak cukup berkembang dengan signifikan, hanya ada beberapa hotel yang berdiri, itupun di kota provinsi, kabupaten Mamuju, sebutlah misalnya Hotel D'Maleo yang sangat terkenal itu. 

Berikut ini saya mengutip beberapa jenis kategori hotel/wisma/losmen.penginapan yang ada di Sulawesi Barat dari Buku Saku “Direktori Hotel Sulawesi Barat Tahun 2012” yang menyajikan informasi-informasi mengenai hotel dan akomodasi lainnya, seperti : nama hotel/akomodasi, alamat, klasifikasi usaha, tarif kamar per malam, dan lain-lain.

Hotel Berbintang (Star Hotel) 

suatu usaha yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian bangunan yang disediakan secara khusus, di mana setiap orang dapat menginap, makan, memperoleh pelayanan, dan menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran, dan telah memenuhi persyaratan sebagai hotel berbintang seperti yang telah ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pariwisata. Ciri khusus dari hotel adalah mempunyai restoran yang dikelola langsung di bawah manajemen hotel tersebut

Hotel Melati (Other Star Hotel)
suatu usaha yang menggunakan suatu bangunan atau sebagian bangunan yang disediakan secara khusus, di mana setiap orang dapat menginap, makan, memperoleh pelayanan dan menggunakan fasilitas lainnya dengan pembayaran, dan belum memenuhi persyaratan sebagai hotel berbintang seperti yang ditentukan Direktorat Jenderal Pariwisata tetapi telah memenuhi kriteria hotel melati yang dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata Daerah (Diparda)

Penginapan Remaja (Youth Hostel)
usaha jasa pelayanan penginapan bagi remaja sebagai akomodasi dalam rangka kegiatan pariwisata dengan tujuan untuk rekreasi, memperluas pengetahuan/pengalaman dalam perjalanan

Pondok Wisata (Home Stay)
usaha jasa pelayanan penginapan bagi umum yang dilakukan perorangan dengan menggunakan sebagian dari tempat tinggalnya (dengan pembayaran harian)

Akomodasi Lainnya (Other Accommodation)
usaha penyediaan jasa pelayanan penginapan yang tidak termasuk dalam butir 1 sampai dengan 4 di atas, seperti wisma dan losmen

Jenis kategori hotel/wisma/losmen/penginapan diatas mungkin dapat menjadi gambaran umum bagi anda untuk mengenali seperti apa jenis tempat hunian yang anda kunjungi saat berkunjung ke Sulawesi Barat. Sesuai dengan usia provinsi Sulawesi Barat yang masih terbilang muda maka dunia pariwisata adalah hal yang masih sedang merangkak dan berkembang, sangat jauh dibandingkan dengan daerah lain semisal Sulawesi Selatan yang memiliki usia cukup lama. 

Sumber : 

Penulis :

Tommuane Mandar, saat ini menetap di Makassar, hobi travelling, pecinta kuliner, sedang merintis pelestarian aspek budaya dan promosi tempat-tempat wisata di tanah Mandar, Sulawesi Barat lewat pengembangan dunia literasi via sosial media.

Kontak saya :
twitter : https://twitter.com/tommuane_mandar  
facebook :  https://www.facebook.com/tommuane.mandar.96 
blog : http://tommuanemandaronline.blogspot.com 



Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
20.04 | 0 komentar

Bagaimana Melestarikan Budaya Mandar? Menggambarlah

Written By ian on Selasa, 02 Juli 2013 | 03.01

Menggambar, satu hal yang paling tidak bisa saya lakukan, selalu saja aneh ketika menggerakkan alat tulis diatas kertas, jelek, tidak proporsional itu pasti hasil dari gambar saya. Tapi tahukah anda kegiatan yang masuk dalam wilayah seni ini adalah kegiatan produktif dan tepat untuk merekam apapun yang ada dimata anda. Jika kita berbicara budaya dan wisata maka kegiatan menggambar bisa jadi salah satu rangkaian untuk merekam jejak-jejak yang ada saat ini, lebih jauh lagi melestarikan apa yang pernah ditinggalkan oleh sejarah untuk melahirkan apa yang kita sebut sejarah baru.

Menggambar jujur bukanlah hal mudah bagi setiap orang, jika harus memilih saya lebih memilih menghafal karena menggambar itu sulit. Tidak semua orang memiliki bakat ini, dan setiap orang diciptakan dengan salah satu kecenderungan, entah itu dalam bidang seni, ataupun yang berkaitan dengan dunia eksakta. Anda akan kagum dengan kehebatan tangan seorang dalam mereplikasi atau mencipta kreatur baru. 

Saya cukup salut dengan bakat yang dimiliki oleh rekan "Pusvawirna Natalia Muchtar", dengan karyanya  sebuah goresan pensil diatas kertas yang saya lihat unik, indah dan original. Merekam dan membumikan budaya dengan menggambar, mungkin itu singkatnya. Saya lebih kagum dengan proses penciptaan kreasi gambarnya yang berjudul "Towaine Mandar" setelah ia juga sebelumnya membuat logo "Tommuane Mandar". Coba saja anda lihat karyanya dibawah ini, unik, cantik dan memukau.

Ilustrasi Towaine Mandar (Gambar : Pusvawirna Natalia Muhtar)
Terlihat jelas bagaimana dengan menggambar kita dapat melestarikan budaya, mempromosikannya pada orang-orang lain, dan yang terpenting adalah ini penciptaan dan pengaryaan yang jauh dari sikap kopi dan salin (copy-paste) yang saat ini marak kita lakukan. Penciptaan original seperti ini yang sebaiknya ada dan dijadikan budaya baru untuk tetap menjaga agar ikon-ikon budaya tidak hilang. 

Menggambar hal yang berkaitan dengan budaya dan wisata mungkin bisa jadi solusi saat ini, terutama buat mereka yang memang punya minat dan bakat di wilayah ini. Ada sikap terpukau yang selalu terpancar saat melihat penciptaan karya mulai dari kertas yang kosong tanpa coretan, hingga kemudian pensil digerakkan sesuai dengan naluri seni penciptanya lalu kemudian tercipta karya baru. 

Kegiatan menggambar hal yang berhubungan dengan budaya dan wisata ini juga dapat menjadi salah satu tawaran solusi bagaimana mendekatkan anak-anak yang biasanya akan sangat mencintai dunia gambar di usia mereka yang dalam zaman emas pertumbuhan. Coba saja instruksikan pada anak untuk menggambar  pahlawan-pahlawan daerah (dalam hal ini di wilayah Mandar) atau kemudian gambar sayyang pattuqduq dengan towaine Mandar yang ada diatasnya, dan masih banyak lainnya. Beberapa hal ini mungkin bisa jadi solusi yang cukup baik bagaimana cara mendekatkan anak-anak Mandar dengan budaya mereka. 

Singkatnya menurut saya menggambar adalah cara sederhana kita memanjangkan usia budaya daerah yang seiring zaman selalu mengalami penggerusan oleh budaya-budaya luar yang penuh pengaruh barat yang berlawanan dengan budaya timur yang menjunjung tinggi nilai etika, moral, dan kesopanan.

Sumber : http://tommuanemandaronline.blogspot.com
03.01 | 0 komentar

Selamat Datang

Gambar Selamat Datang

Download Buku Imam Lapeo

Buku Imam Lapeo

Download Buku FPRT

FPRT di Tanah Mandar

Download Buku Sulbar

Buku SULBAR

Link Mandar

Dinas Pemuda Olahraga& Pariwisata Sulbar Radar Sulbar Sulbarcom Mamuju Pos Suara Sulbar Malaqbicom Kandoracom Kemenhukum DinKes KUA KUAWono DinKes BKKBN BPS BPKP Kampung Mandar Tommuane Mandar Kampung Mandar DEsa Tamanggalle MAndar Kita MIN Polewali MuhSulbar MuhPolman Kompadansa KPU Sulbar Bawaslu Sulbar Puang.com

Download Sayang-Sayang

Sayang-Sayang