Assalamu Alaikum,  lulluare...!   |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Selayang Pandang Transmigran Jawa di Desa Bumiayu Kabupaten Polewali Mamasa

Written By ian on Rabu, 08 Juli 2015 | 05.40


Imigran yang baru tiba di Sungai Mapilli, Mandar. Foto ini disalin dari Situs Web Tropen Museum Belanda (Pemotretan sekitar Tahun 1937). Diambil dari situs http://kampung-mandar.web.id  

Pendahuluan

Bumiayu merupakan nama sebuah desa di wilayah pemukiman transmigran suku bangsa jawa di Daerah Tingkat II Kabupaten Polawalli Mamasa (Polmas). Sebelum bernama bumiayu, wilayah tersebut bernama ”Lambuku”

Perubahan nama dari Lambuku menjadi Bumiayu merupakan hasil musyawarah sesepuh dan pemuka masyarakat transmigran suku bangsa Jawa yang berasal dari berbagai pelosok kampung di pulau Jawa, seperti diantaranya daerah  Bilitar, Tulung Agung, Ponorogo, Madiun.

Kesepakatan pemberian nama Bumiayu wilayah pemukiman tersebut, agar para masyarakat transmigran dapat betah tinggal diwilayah pemukimannya yang baru dengan beranggapan bahwa nama Bumiayu dianggapnya sama dengan nama daerah yang ada di tempat asal mereka. Lebih dari itu, pemberian nama Bumiayu disesuaikan dengan kondisi wilayah pemukiman tersebut, yang mana kata bumi diartikan tanah dengan segala bentuk dan kegunaanya. Sedangkan kata ayu berarti cantik, artinya keindahan dan kesuburan tanahnya yang patut dicintai.

Bumiayu sebagai pemukiman penduduk transmigrasi asal pulau Jawa., dalam struktur pemerintahan negera Republik Indonesia berada dalam wilayah administratif Kecamatan Wonomulyo kabupaten Polewali Mamasa (Polmas).

Sejarah Kedatangan Transmigran   
         

Kedatangan transmigran Jawa di desa Bumiayu, tidak terlepas dari rencana pemerintahan Belanda setelah memantapkan kedudukannya di daerah Sulawesi Selatan akan mengadakan pemindahan penududuk dari daerah yang padat penduduknya (Pulau Jawa) ke daerah yang masih jarang penduduknya, termasuk Sulawesi  Selatan

Rencana pemindahan dari pulau Jawa ke Sulawesi Seletan, dibuktikan dengan adanya Ssurat Pemerintah yang berasal dari pemerintah pusat ditunjukkan kepada Gubernur Sulawesi pada tahun 1919. Namun pada tahun 1919 tersebut, rencana  pemindahan penduduk  belum dapat terwujud, disebabkan karna situasi dan kondisi yang belum sepenuhnya terjamin. Dan nanti pada tahun 1937, merupakan tahun pertama kalinya penduduk pulau Jawa tiba di daerah Sulaesi Selatan.

Penduduk pulau Jawa pertama kali tiba di daerah Sulawesi Selatan (1937) diprakarsai oleh pemerintah belanda, yang diamanka kolonisasi. Jumlah kolonisasi yang pertamakali tiba di daerah Sulawesi Selatan (1937), sebanyak kurang lebih 500 orang atau 113 kepala keluarga. Kedatangan kolonisasi yang pertama kali ini langsung ditempatkan di lokasi konsentrasi Mapilli Kecamatan Wonomulyo Daerah Tingkat II Kabupaten Polewali Mamasa (Polmas). Lokasi yang dimaksud memang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh pemerintah Belanda.

Kedatangan tahap kedua bagi kolonisasi, yaitu pada tahun 1938. Jumlah kolonisasi yang datang pada tahun 1938, diperkirakan kurang lebih 200 kepala .lm8 keliarga. Kedatangan kolonisasi pada tahun pertama dan tahun kedua (1937 dan 1938), belumlah merupakan penduduk yang akan membangun wilayah pemukiman Bumiayu yang dikenal dewasa ini. Dan barulah pada tahun 1939, merupakan tahun ketiga kedatangan kolonisasi di Sulawesi Selatan yang membangun wilayah pemukiman transmigran yang dewasa ini dikenal dengan nama desa Bumiayu. Jumlah personil yang datang dari pulau Jawa ke Sulawesi Selatan pada tahun ketiga (1939) diperkirakan kurang lebih 80 kepala keluarga.

Motivasi umum yang menjadi pertimbangan masyarakat transmigran Jawa memilih Wonomulyo sebagai daerah tujuan, karena wilayahnya mudah dijangkau, karna wilayah Wonomulyo berada pada lintasan jalan raya (jalan poros) yang menghubungkan Kabupaten Polewali Mamasa dengan kabupaten Majene.

Dari segi potensi wilayah, tanah sangat subur, dan kemungkinan untuk pembangunan sarana irigasi didukung oleh tersedianya sumber air yang cukup.

Demikian pula Perkampungan penduduk transmigran Jawa di Desa Bumiayu, pada awalnya bentuk berbanjar tidak bersambung, dan merupakan bentuk desa kilonisasi. Bangunan rumah tinggal letaknya lebih 10 meter dari jalan dari gang yang ada dalam wilayah pemukiman. Keadaan pekarangan berpetak-petak, dan tiap dua petak dipotong oleh jalan atau lorong bawah (bukan rumah panggung). Bentuknya menggunakan arsitektur rumah orang Jawa, dengan ciri utama beratap genteng, berlantai tanah, dan berdinding bambu yang dianyam.

Latar Belakang Sosial Budaya  
          

Bahasa pergaulan sehari-hari sesama warga transmigran Jawa di desa Bumayu adalah bahasa Jawa. Namun bagi anak-anak atau generasi penerus belakangan ini, umumnya tidak bisa lagi berbahasa Jawa Krama Inggil secara baik. Hal ini disebabkan karena penepetan kata-kata yang termasuk Krama Inggil sudah banyak tidak mengenalnya .

Kesenian Jawa masih juga ditemukan di Desa Bumiayu seperti : ketoprak; Wayang kulit; kua lumping; tari Jawa : dan wayang orang. Dan bahkan wayang orang dari tari Jawa merupakan satu kesenian yang masih rutin dilaksanakan, utamanya saat berlangsungnya pesta perkawinan dan dan upacara khitanan anak.

Selain itu, di desa Bumiayu, masih dijumpai suatu kegiatan semalam suntuk dengan memperdengarkan lakon wayang melalui kaset  (radio tape).

Kegiatan upacara-upacara selamatan yang dilakukan menurut tradisi Jawa sepertu : upacara daur hidup dan upacara hari-hari besar lainn islam.

Pelaksanaan hari-hari besar Islam yang dilakukan oleh masyarakat transmigran di desa Bumiayu, tidak berbeda dengan apa yang dilakukan masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya. Sedangkan upacara pelaksanaan daur hidup yang paling mendapat perhatian di desa Bumiayu adalah upacara yang berhubungan dengan kematian. Pada upacara kematian seseorang dilakukan serangkaian kegiatan menurut urutan yakni:

- Upacara pada hari meninggalnya seseorang, dalam bahasa Jawa setempat disebut “Gebelak”
- Upacara setelah tiga hari kematian seseorang , dalam bahasa Jawa setempat disebut ‘Nelungdina’
- Upacara setelah tujuh hari meninggalnya seseorang, dalam bahasa Jawa setempat disebut “Mitungdina”
- Upacara setelah empat puluh hari meniggalnya seseorang, dalam bahasa Jawa disebut setempat disebut ‘Matang puluh dina’
- Upacara setelah seratus hari meniggalnya seseorang, dalam bahasa Jawa setempat disebut ‘Nyatus’
- Upacara pertama dan tahun kedua meniggalnya sesorang
- Upacara hari keseribu meninggalnya seseorang


Dari kesemua rangkaian upacara kematian yang disebutkan di atas, teknis pelaksanaannya disesuaikan dengan tingkat kemampuan keluarga yang berduka, misalnya ada keluarga yang memperingatinya dengan jalan menyembelih hewan seperti kerbau, sapi, kambing dan lain sebaginya dengan mengundang warga setempat untuk makan bersama. Selain itu ada pula keluarga yang memperingati hari kematian tersebut dengan mengundang penceramah memberikan santapan rohani kepada keluarga yang berduka serta memberi doa selamat kepada orang yang meninggal, terutama bagi pemeluk agama Islam.
   
Pada bagian ini, dapat ditarik beberapa  kesimpulan dari hasil pemaparan pada bagian lain sebelumnya, sebagai berikut :

Pemberian nama Bumiayu pada lokasi pemukiman transmigran dari Pulau Jawa dengan berdasar bahwa Bumiayu merupakan nama kampung yang ada di daerah asal mereka  (masyarakat transmigran).
Pemberian nama Bumiayu agar mereka dapat betah tinggal di lokasi pemukiman baru separti dimaksud, artinya dengan nama Bumiayu seolah-olah mereka tetap berada pada daerah asalnya.

Kedatangan masyarakat Jawa ke Sulawesi Selatan sebenarnya sudah dimulai pada tahun 1937 dengan jumlah kurang lebih 113 kepala keluarga. Dan masyarakat yang datang pada tahun 1937, belum merupakan masyarakat transmigran yang membangun wilayah pemukiman yang dikenal dewasa ini (Bumiayu). Dan baru pada tahun 1939 yang merupakan tahun ketiga kedatangan masyarakat dari pulau Jawa dengan jumlah rombongan diperkirakan kurang lebih 80 kepala keluarga yang membangun pemukiman Bumiayu yang di kenal dewasa ini sebagai suatu wilayah pemukiman transmigran Jawa .

Kedatangan masyarakat Jawa ke Sulawesu Selatan, atas tuntutan program pemerintah Belanda yang ingin menyebarkan penduduk yang padat ke tempat dimana penduduknya masyakat masih jarang .

Sumber : http://www.mandar-kita.com/
Bacaan :
Komalasari, Andi: Pemukiman Transmigran Jawa Sebagai Kesatuan Ekosistem di Desa Bumiayu Kabupaten Polewali Mamasa, Fisipol Unhas, Ujungpandang.

Hamid, Abu, dkk: Pemukiman Sebagai Kesatuan Ekosistem Daerah Sulawesi Selatan, Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Dirjenbud, Jakarta 
05.40 | 0 komentar

Sejarah Masuknya Islam Ketanah mandar

Antonio de Paiva, pedagang Portugis, meninggalkan Malaka pada 1542 menuju Sulawesi untuk berdagang kayu cendana di “Durate” yang terletak antara Toli-toli dan Dampleas, di barat laut Sulawesi. Dalam pelayarannya menuju tempat tersebut, Paiva singgah berlabuh di Siang (antara Barru dengan Maros saat ini). Ketika berlayar pulang, dia singgah lagi di Siang dan terpaksa tinggal sementara waktu karena jatuh sakit, serta menjadi tamu raja selama beberapa bulan. Pada 1544, Paiva kembali datang ke Suppa’ (masuk wilayah Pinrang tapi lebih dekat ke kota Pare-pare) dan Siang.

Setelah melalui perdebatan teologis, penguasa Suppa’ dan Siang akhirnya minta dibaptis (dikristenkan). Saat Paiva kembali ke Malaka, dia membawa serta empat pemuda yang akan dibawa ke Goa (India) untuk dididik pada sebuah sekolah Jesuit. Juga ikut serta utusan dari penguasa Siang dan Suppa untuk menemui Gubernur Malaka, agar ke daerah mereka diutus pendeta.
Saat peristiwa di atas terjadi, Siang mempunyai daerah kekuasaan sampai ke Mandar dan Teluk Kaili.
Nampaknya, masa depan hubungan Portugis atau proses kristenisasi di wilayah ini akan berjalan mulus, sampai ketika seorang perwira Portugis membawa lari putri penguasa Suppa’. Untuk menghindari kemarahan orang setempat, armada Portugis terpaksa meninggalkan Suppa’. Sampai pada tahun 1559, tak ada orang Portugis yang berani datang ke Suppa’.
Di atas adalah salah satu faktor proses kegagalan kristenisasi di Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Faktor lain adalah adanya persaingan mendapat pengaruh bangsawan setempat, antara orang Portugis dengan pedagang Arab (penyebar Islam), kekurangsigapan penguasa Malaka (ketika masih dikuasai Portugis) mengirimkan pendeta yang diminta penguasa pribumi, faktor politik (Kerajaan Goa berhasil menundukkan sekutu Portugis di Sulawesi, dalam hal ini Siang, Suppa, Alitta, Sawitto, dan Bacukiki’), pandangan terhadap kepercayaan pribdumi, dan penerapan strategi dalam menyebarkan agama.

Selama paruh kedua abad ke-16, persaingan Kristen dan Islam di Sulawesi Selatan (termasuk Sulawesi Barat) tampak masih belum memperlihatkan pemenang. Penyebar Islam pertama yang dikenal adalah Abdul Makmur, seorang penyiar Islam dari Minangkabau tiba di Sulawesi Selatan untuk pertama kalinya pada 1575. Dia terhambat dalam menyebarkan Islam sebab kebudayaan masyarakat setempat banyak yang bertentangan dengan Islam, seperti makan daging babi, hati rusa mentah, dan minum tuak. Dia kemudian pindah ke Kutai, dan lebih berhasil di sana.

Tapi, pada tahun 1600, Abdul Makmur, yang lebih dikenal dengan gelar Dato’ ri Bandang, kembali ke Makassar bersama dua rekannya, Sulaiman (Dato’ ri Patimang) dan Abdul Jawad (Dato’ ri Tiro) yang juga orang Minangkabau. Ketiganya belajar agama di Aceh dan datang atas perintah Sultan Johor.

Penyebaran Islam di Makassar mendapat tantangan penguasa setempat, mereka pun menuju Luwu’. Mereka menuju Luwu’ sebab mereka mengetahui budaya setempat, yang menganggap keturunan raja-raja berasal dari Luwu’ (mitos to manurung). Ketiganya berhasil mengislamkan penguasa Luwu’ pada 1605, pada gilirannya akan memudahkan mereka melakukan proses islamisasi kerajaan-kerajaan lain.

Setelah itu, mereka kembali ke Makassar, hingga delapan bulan kemudian berhasil mengislamkan Karaeng Matoaya dengan mengambil gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam. Sultan ini kemudian mendorong kemenakan sekaligus muridnya, raja Goa I Manga’rangi Daeng Manra’bia yang masih berusia muda untuk memeluk Islam dan kemudian berganti nama menjadi Sultan Alauddin. Pada 9 November 1607, shalat jamaah pertama berlangsung di Masjid Tallo’, yang baru selesai dibangun.
Penguasa Goa dan Tallo’ merasa bahwa setelah masuk Islam, peluang untuk menjadi pemimpin di Sulawesi Selatan (termasuk Sulawesi Barat) semakin terbuka lebar. Kerajaan-kerajaan sekutu mereka diajak serta masuk Islam. Bila ajakan ditolak, maka kerajaan kembar tersebut akan melancarkan perang yang kemudian lebih populer disebut Musu’ Sallang (Perang Islam) oleh orang Bugis.
Kemudian pada 1608, Goa-Tallo berhasil menaklukkan Bacukiki’, Suppa’, Sawitto, dan Mandar. Kemudian pada tahun 1609, Sidenreng dan Soppeng dikuasai, menyusul Wajo’ satu tahun kemudian. Dengan menyerahnya Bone pada 1611, seluruh Sulawesi Selatan (kecuali Toraja) dan Sulawesi Barat secara resmi memeluk agam Islam.
Pada gilirannya, aspek-aspek syariat kemudian diintegrasikan ke dalam rangkaian hukum dan norma adat. Di setiap kerajaan dan kedatuan dibangun masjid dan ditunjuk pejabat qadi (kali), imam (imang), serta khatib (katte’), yang biasanya dari bangsawan. Agama Islam terus berkembang dan aliran sufi mulai diperkenalkan.

Masuknya Islam di Mandar

Sampai saat ini, pustaka atau referensi yang membahas khusus sejarah masuknya Islam di Mandar belum ada. Namun bila menghubungkan beberapa pustaka yang didalamnya sempat membahas tentang sejarah masuknya Islam di Sulawesi Selatan, misalnya buku Manusia Bugis karya Christian Pelras (Nalar, 2006), Mengenal Mandar Sekilas Lintas karya Andi Syaiful Sinrang (Rewata Tio, 1994), dan buku Ensiklopedi Sejarah dan Budaya Mandar karya Suradi Yasil (2005), penjelasan yang lebih mendalam bisa ditemukan.
penyebaran Islam di Mamuju, Sendana, Pamboang dan Tappalang mula pertama diperkenalkan oleh Sayyid Zakaria dan Kapuang Jawa alias Raden Mas Suryo Adilogo yang tidak lain adalah murid dari Sunan Bonang yang datang dari Kalimantan menyebarkan siar Islam, lalu lanjut ke pulau Sulawesi dan meratap pertama kali di Mamuju. (ibid).
 
Belum lagi banyaknya pemakaman Tosalama’ lainnya di tanah Mandar, yang juga sekaligus dapat membuktikan betapa membuminya Islam di tanah Mandar. Salah satu yang masi ramai dikunjungi oleh banyak orang adalah, di Pulau Tosalama’ di Kecamatan Binuang Kabupaten polewali Mandar. Dimana ditempat tersebut dan berada di atas puncak ketinggian dikebumikan Syekh Bil Ma’ruf yang juga diyakini adalah salah seorang menganjur Islam di tanah Mandar. Ditempat itu pula, tepat dipintu masuk makam jelas terbaca monument ordinantie nomor 238 tahun 1931 yang diperkirakan menyebarkan Islam di Mandar sekitar Abad ke-16 M..
 
Lantas bagaimana dengan Islam di wilayah Pitu Ulunna Salu. Baik dicoba pula dibongkar sedikit memori sejarah peradaban perkembangan Islam di daerah tersebut. Seperti yang ditulis oleh Ibrahim Abbas (1999), yang menyebutkan, bahwa memahami sejarah awal mula Islam dikenal di Pitu Ulunna Salu terjadi sekitar abad ke-17 dan ke-18 yang ditandai dengan kehadiran Tuanta di Bulobulo di daerah tersebut dan membuat Indo Kadanene’ atau yang bergelar Todilamung Sallang (dimakamkan dalam keadaan beragama Islam-pen). Yang lalu susul menyusul diikuti oleh raja-raja di persekutuan Pitu Ulunna Salu tersebut, seperti Indo Lembang, Tomakaka’ Mambi, Tomakaka’ Matangga. Kecuali Tabang, Tabulahan dan Bambang hampir semua kerajaan-kerajaan di persekutuan Pitu Ulunna Salu mengikuti dan memeluk agama Islam.
 
Sedang Sarman Sahudding (2004) menulis, Islam pertama kali datang dibawa oleh para pedagang dari wilayah pesisiran pantai, seperti Haji Cendrana, Haji Tapalang, Haji Pure dan Daeng Pasore dan itu terjadi sekitar akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18. Daerah yang pertama didatangi oleh pedagang tadi untuk menyebarkan Islam tersebut adalah Lembang Matangga atau daerah Posi’ melalui daerah Mapi dan Tu’bi. Hal lain yang juga dapat dijadikan titik tumpu penelusuran sejarah peradaban Islam di Pitu Ulunna Salu adalah melalui ditemukannya kuburan tua di daerah Matangga yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai kuburan tempat dikebumikannya To Salama’ atau sang pembawa Islam pertama kali ke daerah mi. Konon sebelumnya pernah datang dua or­ang yang tak dikenal sebagai pembawa Islam pertama.
 
Namun yang satunya kembali, sedang yang satunya lagi tinggal dan lalu meninggal di daerah Lembang Matangga, hingga akhirnya dikebumikan di tempat tersebut. Dari kuburan tempat dikebumikannya itulah kemudian, lalu dianggap keramat oleh peduduk sekitar yang hingga kini diyakini adalah kuburan Wall sang pembawa dan penyebar Islam di wilayah Pitu Ulunna Salu. Sedang daerah kedua tempat penyebaran Islam di wilayah persekutuan ini adalah di daerah Talipukki. Sebagai Bahagian dari Lembang Mambi, di daerah ini juga ditemukan kuburan yang sama, juga diyakini sebagai pekuburan To Salama’ yang dipercaya pertama kali membawa Islam ke Daerah Talipukki. Demikian pula halnya dengan daerah Lembang Aralle, dimana dari daerah ini didapatkan pembuktian adanya Daeng. Mappali yang tak lain adalah cucu dari Kada Nene’. Yang lalu dipercaya sebagai orang yang pertama memeluk Islam. Hal itu terbukti dengan gelar yang disandangkan atasnya yakni, TodilamungSallang(yang dikebumikan dalam keadaan muslim-pen). Sedang di Lembang Rentebulahan, juga dikenal seorang nama Tomesokko’ Sallang (yang berkopiah muslim-pen) yang tak lain adalah cucu dari salah seorang cucu Indo Lembang di Rantebulan.

Misalnya asumsi yang dikemukakan oleh Andi Syaiful Sinrang. I Salarang Tomatindo di Agamana Maradia Pamboang, ayah dari Tomatindo di Puasana Maradia Mamuju, pada tahun 1608 menjalin hubungan persahabatan dengan Aji Makota Sultan Kutai VI (1545-1610), yang dibuktikan dengan adanya syair: “tenna diandi ada’na // nama’ anna’ jambatang // anna silosa // Kute anna Pamboang” (Andaikata ada jalan // akan kubuat jembatan // agar tersambung // Kutai dengan Pamboang. Dan yang paling terkenal, syair lagu “Tengga-tenggang Lopi”, yang didalamnya mensiratkan orang Mandar tidak mau makan babi yang dihidangkan bangsawan di Kutai. Kesimpulannya, Islam telah masuk di Mandar sebelum tahun 1608.

Sebagai wilayah yang mendapat pengaruh atau kekuasaan kerajaan di selatan (awalnya Kerajaan Siang untuk kemudian Kerajaan Goa), agama Islam masuk ke daerah Mandar berlangsung dalam abad ke-16. Penyebar Islam di Mandar yang diketahui antara lain, Syekh Abdul Mannan Tosalamaq Disalabose, Sayid Al Adiy, Abdurrahim Kamaluddin, Kapuang Jawa dan Sayid Zakariah. Belum diketahui hubungan mereka di atas dengan tiga penyebar Islam dari Minangkabau yang mengislamkan Kerajaan Luwu’ dan Kerajaan Goa, apakah sebagai kolega, sebagai guru-murid, ataukah kedatangan ulama-ulama di Mandar atas perintah kerajaan-kerajaan Islam besar, misalnya Johor, Goa, atau Ternate.

Pionir penyebar Islam di Mandar

Salah satu penyebar Islam di atas, Sayid Al Adiy, menjadikan Lambanang sebagai pusat penyebaran Islam di Mandar. Yang mana, saat ini masih bisa kita lihat situs masjid tertua di Mandar, Masjid Lambanang. Desa Lambanang terletak di Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar. Beberapa puluh meter di atas permukaan laut, tepatnya di balik bukit “Buttu Lambanang”, yaitu perbukitan di utara Pambusuang. Arah masuk jalannya terdapat di Desa Galung Tulu ke arah kanan bila datang dari Polewali (dari kota Polewali kira-kira 40km).
Tak jauh dari masjid tersebut terdapat makam Sayid Al Adiy, yang bergelar Annangguru Ga’de. Dia keturunan Malik Ibrahim dari Jawa.

Dalam Lontara Balanipa, Abdurrahim Kamaluddin atau “Tosalamaq Dibinuang” pertama kali mendarat di Galetto, Tammangalle (situs pelabuhan kuno di Mandar yang hanya berjarak beberapa kilometer dari Lambanang). Bangsawan pertama yang diislamkan oleh Abdurrahim Kamaluddin adalah Kanne Cunang “Mara’dia” Pallis, kemudian Kakanna I Pattang Daetta Tommuane, Raja Balanipa ke-4. Daetta Tommuane adalah putra Todijalloq, “Mara’dia” Balanipa yang ke-3, ibunya dari Napo Balanipa. Kawin dengan sepupunya Daetta Towaine, putri Tomepayung, “Mara’dia” Balanipa yang ke-2. Naik tahta 1615. Pada masanya mulai diadakan  atau dibentuk lembaga “Mara’dianna Saraq”  (Raja di Bidang Syara/Agama’), disebut Kali ‘Kadi’.
Ucapannya yang sangat terkenal dalam lontar Mandar dan banyak dihafal oleh orang Balanipa: Naiyya maraqdia, tammatindoi di bongi, tarrarei di allo, na mandandang mata dimamatanna daung ayu, diamalimbonganna rura, diamadinginna litaq, diajarianna banne tau, diatepuanna agama (Adapun seorang raja, tidak dibenarkan tidur lelap di waktu malam, berdiam diri dan berpangku tangan di waktu siang hari. Ia wajib selalu memperhatikan akan kesuburan tanah dan tanam-tanaman, berlimpah ruahnya hasil tambak dan perikanan, damai dan amannya negeri/kerajaan, berkembangbiaknya manusia/penduduk dan mantap teguhnya agama).

Beliau merupakan perintis berdirinya semacam pesantren yang disebut muking ‘mukim’ yang pertama, tempat mendidik empat puluh orang kader pemimpin agama di Kerajaan Balanipa. Tempat muking itu di Tangnga-Tangnga (sekarang dalam wilayah Desa Tangnga-Tangnga, Kec. Tinambung, Kab. Polman). Di Tangnga-Tangnga juga didirikan masjid pertama di Kerajaan Balanipa menjadi Masjid Kerajaan Balanipa.

Penyebaran Islam dan cerita gaib

Waktu ke waktu, penyebaran Islam di Mandar berkembang pesat dan cepat. Fenomena ini cukup mengherankan, sebab tidak butuh waktu lama untuk menjadikan Islam sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya Mandar. Awalnya, penyebar Islam hanya menitikberatkan  perhatian dalam hal pemberlakuan syariat, menekankan tata cara peribadatan dan perayaan ritual Islam yang benar, seperti penyunatan, perkawinan, dan penguburan. Dalam hal larangan mengkonsumsi daging babi dan berzina sangat dilarang, tetapi larangan lain seperti minum tuak dan opium, meminjamkan uang riba, berjudi, dan mempersembahkan sajian ke tempat keramat dan memuja benda pusaka agaknya tidak terlalu ditegakkan.

Salah satu strategi penyebaran Islam di Mandar adalah memperlihatkan dan atau menceritakan hal-hal gaib bagi orang-orang yang meragukan kemampuan penyebar Islam. Itulah sebabnya, hampir semua penyebar Islam di awal-awal penyebaran (hingga tahun 60-an) adalah orang-orang berbasis tarekat.

Misalnya kisah Syekh Al Ma’ruf, salah satu murid To Salamaq di Binuang, yang diragukan pendapatnya tentang arah kiblat di masjid yang dia bangun. Dia lalu melubangi dinding pengimaman masjid sebelah barat. Para pemrotes  disilakan datang ke dinding pengimaman dan mengintip melalui lubang dinding. Semuanya melihat Ka’bah di Mekkah. Rakyat di Binuang dan sekitarnya makin bertambah hormat kepadanya. Sejak itu masyarakat memberikan gelar Saiyyeq Losa ‘Sayid Tembis’. Maksudnya, Orang yang Terhormat, yang pandangannya tembis, dapat melihat hal-hal dan benda-benda yang jauh.

Lain lagi kisah Syekh Syarif Ali, penyebar agama Islam yang datang dari Mekkah. Konon meninggalkan Mekkah bersama saudaranya, Syekh Syarif Husain melalui laut, dengan mengendarai selembar tikar sembahyangnya. Kemudinya tongkat besi panjang dua meter. Ada tujuh tongkat yang berganti-ganti dijadikan kemudi. Perjalanan ditempuh tujuh hari tujuh malam. Saat tiba di Mandar, dia memilih Lakkaqding Somba (Kec. Sendana, Kab. Majene), membangun  sebuah masjid di sana dan kawin dengan Manaq. Mempunyai keturunan tiga orang anak: Syekh Haedar  tinggal di Lakkading Somba, Syekh Muhammad  tinggal di Luaor Pamboang, dan Syekh Ahmad yang  tinggal di Salaparang.

Ulama paling terkenal di Mandar saat sekarang adalah Tosalamaq Imam Lapeo (biasa disingkat “Imam Lapeo” saja). Nama aslinya K. H. Muhammad Tahir. Dia seorang ulama sufi. Diperkirakan lahir tahun 1838 di Pambusuang (Kec. Balanipa, Kab. Polman). Di masa kanak-kanak bernama Junaihim Namli. Wafat usia 114 tahun, tanggal 17 Juni 1952 di Lapeo (sekarang wilayah Kec. Campalagian, Kab. Polman). Dimakamkan di halaman Masjid Nurut-Taubah di Lapeo yang dibangunnya. (Di daerah Mandar lebih dikenal  dengan sebutan Masigi Lapeo ‘Masjid Lapeo’ yang terkenal dengan menaranya yang tinggi). Makamnya, sampai saat sekarang ini banyak dikunjungi/diziarahi oleh masyarakat yang datang dari berbagai daerah.

Ada satu kisah kekeramatan Imam Lapeo yang dipercaya kebenarannya. Suatu saat, Imam Lapeo sementara memberikan pengajian, tiba-tiba pengajian dihentikan beberapa saat. Ia keluar ke teras, menatap ke angkasa raya seraya tangannya dilambai-lambaikan. Setelah itu masuk kembali untuk melanjutkan pelajaran kepada murid-muridnya. Sebelum pengajian dilanjutkan kembali, salah seorang muridnya bertanya tentang apa yang barusan To Salamaq Imam Lapeo kerjakan. Dijawab,  dia menolong sebuah perahu yang hampir tenggelam di tengah laut karena serangan badai dan amukan ombak besar. Beberapa hari kemudian, seorang tamu dari Bugis datang ke rumah To Salamaq Imam Lapeo mengucapkan terima kasih. Menurut pengakuannya, perahunya hampir tenggelam beberapa hari yang lalu di sekitar pulau-pulau Pangkajene. Yang menolongnya adalah K.H. Muhammad Tahir To Salamaq Imam Lapeo yang  tiba-tiba dilihatnya datang berdiri di bagian kepala perahunya. Seketika itu juga ombak menjadi  tenang, dan  badai pun reda.

Terakhir, ulama penyebar Islam yang diyakini ke-karamah-annya adalah K. H. Muhammad Saleh. Dikenal sebagai salah seorang pionir ulama yang membawa, mengajarkan, dan mengembangkan Tarekat Qadiriyah di Mandar. Beliau lahir pada tahun 1913 di Pambusuang. Usia 15 tahun menuju tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu tarekat. Sewaktu bekerja di Mamuju, tepatnya di saat membaca khutbah di salah satu masjid di Tappalang, K. H. Muhammad Saleh dikirimi ilmu hitam. Namun berkat kekaramahannya, ilmu sihir yang berwujud cahaya bola api tidak mengenai dirinya. Belakangan, penyihir yang melakukannya meminta maaf. Masih di Tappalang, juga pernah K. H. Muhammad Saleh hendak diracun dengan ilmu hitam. Nasi yang dihidangkan kepadanya berubah wujud menjadi ulat dan ular. Tapi itu tak mempan untuk mencelakai dirinya.

Ditilik dari sejarah pengaruh agama-agama samawi yang masuk ke Sulawesi Barat, tampaknya agama Kristen lebih dulu daripada agama Islam. Agama Kristen dibawa oleh orang-orang Portugis (belakangan Belanda, Jerman dan beberapa negara Eropa), sedangkan agama Islam oleh orang Arab, Melayu, dan Jawa. Oleh banyak faktor, khususnya pemahaman terhadap budaya setempat, pengaruh Kristen tidak begitu mendalam (sebagaimana yang terjadi di Sulawesi Utara).

Strategi Islamisasi oleh penyebar Islam menjadikan kaum bangsawan sebagai kelompok yang harus pertama kali diislamkan yang pada gilirannya memudahkan mengajak rakyatnya memeluk Islam. Strategi lain adalah ajaran Islam tidak secara frontal diterapkan, khususnya dalam beberapa praktek ritual. Peninggalan animisme yang masih bisa ditolerir disesuaikan dengan praktek Islam. Ini menjadikan kaum pribumi bisa menerima dengan baik. Belum lagi penggunaan ilmu gaib untuk membuktikan kekuatan seorang penyebar Islam.                    

(Muhammad Ridwan Alimuddin)


Sumber : https://mamujuethnic.wordpress.com
05.21 | 0 komentar

Selamat Datang

Gambar Selamat Datang

Download Buku Imam Lapeo

Buku Imam Lapeo

Download Buku FPRT

FPRT di Tanah Mandar

Download Buku Sulbar

Buku SULBAR

Link Mandar

Dinas Pemuda Olahraga& Pariwisata Sulbar Radar Sulbar Sulbarcom Mamuju Pos Suara Sulbar Malaqbicom Kandoracom Kemenhukum DinKes KUA KUAWono DinKes BKKBN BPS BPKP Kampung Mandar Tommuane Mandar Kampung Mandar DEsa Tamanggalle MAndar Kita MIN Polewali MuhSulbar MuhPolman Kompadansa KPU Sulbar Bawaslu Sulbar Puang.com

Download Sayang-Sayang

Sayang-Sayang